
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Zevanya masuk kedalam kamarnya setelah ia memastikan jika Tuan Max sudah hilang dari pandangan. Ia tak pernah juga menganggap pria itu suaminya sebab dalam hatinya ia adalah suami dari Nyonya Talitha.
"Huft, untung hanya ancaman," gumam Zevanya terkekeh kecil karna biasanya jika tahu ia melakukan salah ia akan di kena hukuman dengan cara di Kurung di ruang bawah tanah selama tiga hari tiga malam dengan hanya satu kali makan, awalnya memang berat tapi perlahan mau tak mau Zevanya menikmati nya.
"Yasudah, Nona bisa ke kamar nanti saya bawakan cemilan dan jus buah," titah Tari yang selama ini tahu betul bagaimana kehidupan nona mudanya itu.
Zevanya mengangguk, ia berjalan ke arah tangga menuju kamarnya sendiri yang tak jauh dari kamar sang suami. Tatapan matanya lekat kearah satu pintu yang dulu di dalamnya di huni oleh malaikat tak bersayap baginya.
"Nyonya, kenapa harus menikahkan saya dengan suami Nyonya, kenapa tak membawa saya bersamamu, setidaknya saya tak menghuni neraka dua kali," bathin Zevanya yang kemudian membuang napas kasar. Penjagaan di rumah ini begitu ketat, sulit untuknya kabur jauh karna semua mata memandang kearahnya entah sebagai apa sebab hanya Tari yang berani bicara dengannya selama ini.
Ceklek
Pintu kamar di buka, Zevanya masuk dan terus melangkah menuju kaca besar dimana dimana dari ujung kepala hingga kaki bisa terlihat begitu jelas di matanya.
"Aku sudah besar, aku tak terlalu buruk tapi kenapa nasibku sangat menyedihkan? apa aku sampai mati disini?" satu pertanyaan itu tak pernah ada jawabannya hingga sekarang.
Senyum simpul terukir di ujung mata gadis itu saat ia mengeluarkan sebuah kalung dari balik bajunya.
__ADS_1
"Alexio, siapa kamu? bisa kah menolongku?"
.
.
.
.
"Bisa!"
Semua mata memandang pada Chio karna tak ada angin tak ada MiMoy si Pangeran tidur itu berkata dengan tegas penuh keyakinan.
"Bisa, bisa---, bisa apa ya?" jawab Chio bingung sendiri sambil menggaruk Kepalanya yang tak gatal.
Semua melihat Chio dengan tatapan aneh dan penasaran dengan apa yang di pikirkan pria itu.
"Chio tuh suka gak ngerti, kadang ada yang bisik bisik tapi siapa ya?" tanya nya yang semakin penasaran.
__ADS_1
Para sepupu yang mendengar itupun kaget dan meringsek takut, termasuk Chia yang bingung harus minta pelukan pada siapa.
"Mulai dah, Horor!" cetus El yang bersembunyi di balik punggung abangnya, Sean.
"Serius! Chio juga bingung, sering banget juga mimpi aneh," katanya memastikan apa yang di rasakan nya selama akhir akhir ini.
"Makanya Chio, jangan tidur mulu. Malaikat mimpi bingung mau kasih mimpi apa lagi, ini durasinya kepanjangan banget dah," timpal Angkasa, ia ingat betul saat malam pesta bujangnya beberapa tahun lalu saat semua sibuk bertukar cerita anak itu tetap tak terganggu dalam tidur lelapnya.
"Curiga, mimpi apa pake durasi?" tanya Shaka sampai cekikan.
"Caka, gak boleh gitu ya, jangan ngomong ngomong durasi, kepala Lilin nanti mengembaaaaaaaang besal," sahutnya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Sky.
"Itu kepala apa adonan donat dibawah serbet?" tanya Chia.
Gelak tawa pun kembali pecah diantara semua yang ada disana tapi tidak dengan yang Chio, ia masih murung karna menafsirkan bisikan tadi.
.
.
__ADS_1
.
Gak usah bisik bisik, dateng kalau berani....