
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari yang di janjikan Arlan tiba, Starla yang sudah bersiap kini tinggal menunggu pria itu datang untuk mengantarnya ke ibu kota. Tak butuh waktu banyak, dua hari saja cukup bagi Starla yang hanya ingin mengunjungi makam orang tuanya, karna tak ada yang harus di temuinya juga termasuk anaknya.
Tak ada harapan bisa memeluk Chia lagi membuat wanita itu tak punya mimpi apa pun padahal jika ia ingin, Starla bisa saja meminta foto putrinya itu pada Arlan.
Tapi sampai detik ini, ia tak melakukan itu karna takut semakin tersiksa menahan rindu karna bagaimana pun 43 hari adalah waktu yang singkat baginya berperan sebagai seorang ibu.
"La--, kamu dimana?" teriak Arlan saat tak menemukan wanita itu di ruang tengah dan tamu sedangkan saat mengetuk pintu kamar, ia tak mendengar jawaban dari dalam.
"Aku disini, Kak," sahut Starla tak kalah berteriak.
Arlan mengernyitkan dahi saat melihat Starla keluar dari gudang.
"Kamu abis ngapain?" sambung pria itu lagi yang malah dijawab dengan gelengan kepala.
"Ayo, berangkat sekarang 'kan? aku takut nanti hujan," ajak Starla sambil menarik tangan Arlan.
Keduanya pun langsung keluar dari rumah setelah Starla mengambil tas dan koper kecil, kali ini mereka pergi menggunakan taksi menuju bandara agar lebih cepat sampai di ibu kota.
Perjalan yang cukup memakan waktu di isi dengan obrolan dan candaan, Arlan baru tahu jika Starla punya sisi lain dari sifatnya yang selama ini tak terlihat saat masih berstatuskan istri ArXy, entah karena ia harus menjaga image atau juga karena terlalu banyak luka yang ia rasa sampai lupa rasanya tertawa.
__ADS_1
"Kak Arlan sudah pesan hotel kan?"
"Sudah, sampai disana kita langsung ke hotel, ziarahnya besok pagi," sahut Arlan.
Starla yang menoleh langsung menautkan kedua alisnya, ia harap apa yang di dengarnya barusan itu salah total sebab bukan itu rencana awal mereka sebelum pergi.
"Kok gitu?" tanya Starla masih dengan raut bingungnya.
Arlan hanya mengangguk sambil tersenyum, dan ia langsung meringis saat lengannya di pukuli terus menerus padahal pria itu sudah memohon ampun.
"Diam!" ucap Arlan yang sebelumnya sudah menarik tubuh Starla agar masuk kedalam pelukannya.
"Besok, hari ini terlalu sore jika harus ke sana, sekarang cukup k istirahat ke hotel, Ok."
"Tapi aku ingin makan bakmi di ujung gang rumah Bapak dulu ya," pintanya lagi yang kali ini di iyakan oleh Arlan.
Starla akhir-akhir ini selalu nyaman di pelukan Arlan, tak terlalu erat tapi entah kenapa ia selalu merasa aman dari apapun.
.
.
__ADS_1
.
Sampai di kota yang sudah memberikan banyak luka, Starla hanya tersenyum simpul karna merasa begitu dekat dengan Chia, ya hanya Chia saja karna nama ArXy sudah tenggelam entah kemana.
"Mau makan dimana?" tanya Arlan yang membuyarkan lamunan Starla.
"Hem, terserah."
Arlan langsung menggandeng tangan hangat Starla, mereka masuk kedalam taksi lalu meminta supirnya untuk mengantar ke salah satu hotel yang sudah di pesan sebelumnya.
Entah kenapa Arlan tak ingin Starla bertemu dengan siapapun dari masa lalunya, ia akan melindungi wanita itu agar tak ada lagi tetes air mata dan sesak dalam dada.
Ia senang Starla yang sekarang karna selalu tersenyum, tak ada beban dan tak ada keluhan kecuali tugas kuliahnya yang dulu menumpuk, meski harus berderai air mata pun itu hanya karena menonton drama kesukaannya dari malam hingga subuh menjelang. Starla yang kini begitu lepas terlihat dari tubuhnya yang padat berisi dan aura wajah yang lebih bersinar.
.
.
.
Tuhan.. kau tahu aku sulit untuk jatuh cinta, dan saat aku kini sudah menemukannya kau buat juga aku sulit berhenti mengaguminya...
__ADS_1