
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ehem." ArXy berdehem pelan di belakang punggung mantan istrinya yang berdiri sendiri di tepi kolam ikan samping rumah.
Sudah lebih dari lima menit pria itu disana dan sedikit banyak mendengar apa yang di bicara Starla dan Arlan. Hampir satu minggu di ibu kota meninggalkan pekerjaan begitu saja sangat di maklumi oleh ArXy jika wanita itu barusan mendapat teguran, dari yang ArXy dengar keduanya berbicara cukup normal dan profesional karna Starla memangggil Arlan dengan sebutan Pak sepanjang obrolan mereka.
"Kak ArXy, nguping ya?" tuduh Starla tepat sasaran.
"Enggak, aku berdiri kok, gak nguping.".
Starla mendengus kesal, ia langsung masuk kedalam rumah tanpa menimpali lagi. Hatinya bimbang antara Chia dan pekerjaannya.
"Mau kemana?"
"Masuk, mau hujan," jawab Starla sedikit ketus sambil berusaha melepaskan cekalan ArXy di pergelangan tangannya.
"Gimana aku bisa bikin kamu nyaman kalau kamunya terus menghindar, La."
"Hujan, Kak."
ArXy melepas Starla yang keukeh ingin masuk kedalam rumah, semenjak malam itu meski keduanya sudah sama-sama mengungkapkan isi hati tapi tetap saja sikap Starla tak berubah, ia tetap menjaga jarak dan hanya mau bicara berdua jika menyangkut tentang Chia. Selebihnya akan terus seperti ini walau sudah berhari-hari di menginap di kediaman Rahardian.
Starla menghampiri putrinya yang sedang bermain di ruang keluarga lantai atas, ada Amih dan dua pelayan yang menemani Chia disana. Ada yang ingin ia bicarakan tapi rasanya malah tercekat di tenggorokan sulit untuk di ungkapankan. Tapi Amih yang peka langsung duduk mendekat dan meraih tangan menantunya.
"Ada apa? ayo ceritakan?" tanya Amih, jika seperti ini ia mirip sekali dengan Ummi Khayangan yang selalu bisa membuat tenang orang di sekitarnya.
"Besok pagi aku pamit pulang, Mih. Aku sudah di tegur bos ku, izinku cuma satu hari tapi hampir satu minggu aku belum kembali," ucap Starla serba salah.
"Amih paham, kamu memang punya tanggung jawab yang lain. Tak apa, Chia akan baik-baik saja. Dia dan papanya bisa ke tempatmu jika kamu tak sempat. Tak perlu terlalu di pikirkan," jawab Amih yang langsung menerimanya pelukan dari Starla.
Jika sudah begini, rasanya ia begitu tenang dan bisa ikhlas meninggalkan Chia, lagi pula memang benar yang di katakan Amih jika putrinya bisa kesana menemuinya tak harus ia yang selalu ke ibu kota.
"Terima kasih, Mih. Aku percayakan Chia pada Amih. Tolong jaga dia di saat aku belum bisa bersamanya," ucap Starla.
__ADS_1
"Hanya belum kan? bukan tak bisa bersamanya?" tanya Amih, dari nadanya ia jelas sedikit menggoda dan Starla sedikit paham kemana arah pembicaraan wanita paruh baya tersebut.
Starla hanya tersenyum enggan memberi jawaban apalagi saat Chia datang dan langsung duduk di pangkuannya.
"Jalan jalan yuk," ajak si anak manis sambil menaik turunkan alisnya sampai ia terlihat semakin menggemaskan.
"Tadi siang udah kan?"
"Lagi Mama. Ayo," ajak Chia yang turun dari atas paha mamanya lalu menarik tangannya juga menuju kamar Sang papa.
Starla hanya pasrah, Lagi-lagi ia hanya mengikuti kemauan Chia terlebih esok ia juga akan pulang. Starla akan memanfaatkan sisa waktunya untuk bersama dengan putri semata wayangnya tersebut.
Chia masuk kedalam kamar, ia naik ke atas ranjang tempat kini ArXy berbaring memainkan ponsel, selama 4 tahun ini ia mengambil alih kasurnya setelah selama setahun selalu tidur di sofa.
"Papa, Chia mahu jalan-jalan," pintanya sedikit memaksa seperti biasa.
"Mau kemana?"
"Mana aja, yuk."
ArXy melirik kearah Starla yang mengangguk tanda setuju.
Dan kurang dari tiga puluh menit ketiganya pun sudah siap untuk jalan-jalan sore sambil makan malam bersama di luar.
Chia tak minta kemana mana, ia hanya ingin mengukur jalanan ibu kota sambil mengobrol dan bercanda dengan mamanya di dalam mobil hingga akhirnya ArXy pun melayangkan protes.
"Ini sih judulnya ngabisin bensin," kata ArXy yang membuat anak dan mantan istrinya tertawa bersama.
Pria itu hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali ikut terkekeh saat apa yang di bicarakan Chia dan Starla terdengar lucu.
"Di depan ada taman jajan, Chia mau mampir gak?" tawar ArXy kemudian yang merasa mulai haus.
"Mahu, jajan apa ya?" Chia yang sedang nampak berpikir di ciumi oleh Starla yang gemas.
__ADS_1
Kadang, ia tak menyangka bisa melahirkan anak secantik dan semanis Chia mengingat ia adalah putri dari seorang kriminal yang cukup membuat orang sekitar muak dengan kelakuan bapak. Tapi, beruntung beliau sempat bertobat dan menjadi pribadi yang labih baik. Jadi, sesakit apapun ArXy melukainya ia tak bisa membenci karna jika bukan menikah dengan pria itu mungkin hidupnya tak akan seperti ini.
.
.
Sampai di taman jajan, mereka turun dari mobil. Seperti biasa Starla akan menuntun Chia kemana pun anak gadisnya itu ingin melangkah.
"Chia mau icecream atau jus buah, Sayang?" tanya ArXy sambil memilih juga mana yang ingin ia nikmati.
"Jus Apel, Papa."
ArXy pun mengangguk, pertanyaan yang sama pun ia layangkan pada Starla namun sialnya wanita itu menjawab dengan satu kata mujarab yang sulit di artikan yaitu TERSERAH.
Dengan langkah gontai, ArXy menuju kedai jus dan es buah segar untuknya, Chia dan Starla.
"Pak, jus Jeruk satu, jus Apel satu, sama satu lagi terserah ya," kata ArXy mulai memesan.
"Jeruk, Apel dan terserah? terserahnya ini apa?" tanya si penjual.
"Terserah pokoknya," balas ArXy lagi yang semakin membuat bingung pria di depannya.
"Ini kan banyak pilihan, tinggal pilih mau buah yang mana."
"Terserah, Situ gak denger ya saya bilang terserah, hah?" omel ArXy yang akhirnya kesal.
"Iya, tapi kenapa harus terserah?" tanya Si penjual lagi.
.
.
.
__ADS_1
Biar kalau salah, bukan saya yang di omelin...