
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pecat aja pecat, sekertaris kaya gitu memang meresahkan, cari lagi gih yang baru yang lama biar suruh pulang kampung," teriak ArXy dari arah sofa yang memang dekat dengan meja makan tempat dimana Arlan dan Starla berada saat ini.
Kedua orang itu pun sontak menoleh secara bersama, Starla mendengus kesal sedangkan Arlan bangun dari duduknya lalu menghampiri ArXy yang masih dengan tenangnya seakan ucapannya tadi tidak memancing emosi.
"Bisa diam? ini bukan urusan Anda."
"Masa? wanita yang kamu marahi itu ibu dari anak saya," jawab ArXy.
Dua pria yang sama-sama tampan itu pun kini saling berdiri berhadapan di ruang tengah. mereka menatap tajam seakan tak mau ada yang kalah justru malah menyalahkan.
"Sekarang baru dia akui, jika wanita itu ibu dari anakmu? lalu selama 4 tahun ini kemana? adalah Anda mencarinya?" sindir Arlan.
Dalam hal ini tentu Arlan memegang banyak kata-kata yang tak bisa membuat ArXy berkutik, tapi itu justru membuat Starla kesal seolah ia terus mengungkit semua kebaikan yang selama ini pernah di lakukan.
"Berhenti! akan ku buat perhitungan pada kalian berdua jika sampai Chia bangun dan menangis!" ancam Starla, ia tak mau membuat putrinya trauma jika harus melihat pertengkaran dua pria tersebut di rumahnya sepagi ini.
__ADS_1
Dan benar saja, suara pintu terbuka membuat tiga orang dewasa itu menoleh dengan cepat kearah benda bercat coklat tersebut.
"Mama, udah pagi ya?" tanya Chia sedikit merengek sambil merentang kan tangan.
Starla hanya mengangguk sambil tersenyum di paksa, ia menghampiri Chia untuk di peluk agar sedikit tenang sebab matanya terus menatap kearah Arlan. Untuk yang satu ini rasanya Ayah dan Anak sungguh kompak dalam hal tak menyukai satu orang tanpa alasan yang jelas dan masuk akal menurut Starla.
"Hallo, Chia," sapa Arlan ramah.
Chia hanya mengangguk dan Sepertinya tak berniat untuk menjawab ia malah semakin merengek dalam pelukan mamanya sambil bilang perutnya sangat lapar, padahal jika di kediaman Rahardian ini belum waktunya untuk sarapan.
"Aku pergi dulu ya, La. Aku tunggu kedatanganmu di Kantor, siang ini ada rapat," pamit Arlan sambil sedikit menekan ucapan di bagian akhir pertanda jika wanita itu tak boleh kan untuk izin lagi.
Arlan keluar dari rumah yang selama 4 tahun ini di huni sendiri oleh Starla tapi semenjak semalam justru ada orang lain yang ikut menginap.
"Kita cari sarapan di luar aja kalau gitu," ajak ArXy.
"Iya, Kak."
__ADS_1
Ketiganya pergi untuk mencari sarapan pagi sebelum Starla pergi ke kantor. Dan kedai Bubur ayam pun di pilih mereka karna Chia ingin telur puyuh Kesukaannya.
"Mama mahu kerja?" tanya Chia yang sebenarnya sedih karna ia mengerti dengan apa yang di katakan Arlan sebelum pria itu pergi
"Iya, Chia di rumah sama Papa dulu ya, sore nanti Mama pulang kita main lagi, Ok."
"Kerja kantor kaya Papa?" tanya Chia lagi, ia bingung karna para wanita Rahardian Wijaya biasa dirumah, termasuk Aunty Xyra adik kembar papanya.
"Iya, Sayang."
"Napa kerja? Mama cari uang juga?" pertanyaan yang di lontarkan anak gadis itu cukup sulit di jawab oleh Starla.
Pandangan Chia pun kini beralih pada papanya dengan tatapan serius ia kembali melayangkan pertanyaan yang terbalut nada protes.
"Papa sekalang bisa kasih uang ke Mama nda? Kasihan Mama loh,"
.
__ADS_1
.
Bisa , Sayang.. jangankan uang.. Nafkah lahir bathin juga udah siap nih..