Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Panti Asuhan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hati anak mana yang tak terluka saat hanya bisa mengusap nama orang tuanya di atas batu nisan berwarna hitam bersama dengan tulisan Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.


Itu juga lah yang di rasakan oleh Starla, apalagi saat kedua sorot matanya dengan jelas menatap deretan angka tanggal kematian Bapak yang sama dengan kelahiran Chia. Sakitnya dua kali lipat karna dua orang itu tak ada yang bisa ia peluk sama sekali saat ini.


"La, sudah belum?" tanya Arlan setelah ia juga beres memimpin doa.


"Sudah, Kak. Mau selama apapun itu bapak dan ibu tak akan bisa bangun dari dalam sana," ucapnya tanpa menoleh karna kedua matanya tetap fokus ke dua makam yang bersebelahan.


Starla bangun di bantu oleh Arlan, ia dirangkul keluar dari tempat pemakaman umum menuju mobil yang menunggu di luar pagar.


"Kita cari makan dulu ya, nanti malam kan sudah pulang lagi ke kota X," kata Arlan yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Starla.


Selama 4 tahun ini, ia memang sedikit bergantung pada pria tersebut. Starla hanya terima bersih, nyaman dan kenyang karna Arlan selalu memberikan yang terbaik untuk wanita itu. Starla percaya dan sudah menyerahkan segalanya sampai ke hal yang paling sepele sekalipun, semisal warna baju dan menu makannya.


Starla tak sadar, jika kini ia sedang di Ratukan. Dan ia pun tak sadar jika bukan hanya Raja saja yang bisa melalukan hal tersebut.


.


.


.


Makan siang selesai, di sela obrolan mereka ternyata Arlan mendapat kabar yang mengharuskan nya pergi saat ini juga, awalnya ia memaksa Starla untuk ikut, tapi wanita itu tentu menolak karna kedatangannya ke ibu kota untuk melakukan urusannya sendiri, ia tak mau menjadi orang yang tak paham apapun saat bersama Arlan nanti.


"Aku akan khawatir, " ucap Arlan sebelum bangun dari duduknya.


"Aku sudah 23 tahun, apa yang kamu cemaskan dariku?" tanya Starla.


"Ya sudah, aku pergi ya, telepon aku jika sudah sampai di H


otel, aku pesankan taksi untukmu," jawab Arlan berat hati karna harus meninggalkan dan membiarkan Starla pulang sendiri ke tempat penginapan mereka.

__ADS_1


"Iya," sahutnya pelan tak masalah, dan lagi lagi wanita itu hanya tinggal menunggu, naik lalu sampai ke hotel.


Tak sampai 10 menit, Starla sudah duduk di kursi belakang sebuah mobil yang di pesan Arlan untuknya, Starla hanya manut dan mengangguk dengan semua deretan pesan Arlan yang terlontar dengan sangat jelas.


Perjalanan yang seharusnya hanya 20 menit ke hotel kini justru lambat karena ada sebuah perbaikan. Mobil yang biasanya bisa melaju cepat kini bagai siput yang justru malah harus berhenti berkali-kali beberapa menit karna harus gantian dengan kendaraan yang lain. Seperti saat ini, mobil berhenti selama 3 menit lamanya dan belum juga ada tanda untuk maju, Starla yang kesal sampai mengatur duduknya agar lebih nyaman. Sampai akhirnya ia tak sengaja menoleh kearah kiri.


"Panti asuhan Muara Kasih," ucap Starla saat melihat sebuah papan nama di pinggir jalan.


Hatinya yang seolah tergerak secara mendadak membuat wanita itu meminta pak supir untuk menurunkannya, awalnya pria di balik kemudi itu tak mengizinkan tapi karna Starla memaksa akhirnya ia bisa turun juga.


.


.


Papan nama yang berada di pinggir jalan tersebut terus ditatap lekat oleh Starla, membaca kalimat panti asuhan seolah sedang menampar dirinya sendiri yang juga seorang yatim piatu yang tak punya orang tua, sanak saudara bahkan pasangan hidup.


"Tak ada salahnya berbagi pada mereka," lirih Starla sambil tersenyum, tekadnya sudah bulat untuk masuk kedalam panti asuhan tersebut.


Meski ia cukup beruntung karna tak harus tinggal disana tapi tetap saja, rasanya menjadi sebatang kara itu tak enak dalam segi manapun. Tak ada tempat pulang, merajuk dan meminta tolong serta perlindungan.


"Waalaikum Salam warahmatullahi wabarakatuh," sahut seorang wanita berhijab putih menghampiri.


Starla yang di persilahkan masuk langsung di sambut baik kedatangannya, tanpa basa basi ia juga mengutarakan maksud tujuannya bisa berada di tempat tersebut.


"Terima kasih atas segala yang sudah diberikan Nona untuk anak-anak, semoga apa yang di doakan segera terkabul dan bahagia lahir bathin," Ucap Ibu kepala yayasan Panti Asuhan.


"Aamiin, Bu. Terimakasih kembali."


Starla hanya tersenyum kecil, bicara tentang doa entah kenapa bayangan Chia terlintas di pelupuk mata Starla dan nama anaknya itu di sebut berkali-kali dalam hati yang paling dalam.


"Boleh saya melihat anak anak, Bu?" pinta Starla.


"Oh, tentu, mari saya antar. Ada beberapa tempat disini untuk area bermain mereka, ada di halaman belakang salah satunya," jawab Si Ibu yayasan.

__ADS_1


Dua wanita beda umur itupun berjalan beriringan, Starla hanya mengangguk saat ia di jelaskan satu persatu hingga kini sampai ke halaman belakang panti asuhan dimana sebagian anak sedang berkumpul.


"Saya kesana boleh, Bu?" pinta Starla lagi.


"Tentu, silahkan."


Baru juga ia melangkah beberapa meter, Starla harus menoleh saat ada suara anak kecil di belakangnya.


"Aduh," serunya sambil ada juga suara pecahan kaca.


Deg...


Starla tak langsung menoleh karna hatinya mencelos tiba tiba, tapi beberapa detik kemudian ia pun membalikkan badannya.


Ada seorang gadis kecil yang wajahnya tentu berbeda dari yang lain, ia cantik, putih, bersih dengan mata bulat sepertinya.


"Sakit," keluh bocah tersebut.


"Mana yang sakit? boleh Aunty lihat?" tanya Starla.


Keduanya saling menatap beberapa saat tanpa mengedip. Starla yang berjongkok agar sejajar langsung kaget saat mendapat pelukan.


"Sakit," ulangnya lagi yang kali ini sambil terisak.


"Iya, kita obati ya, mau?" tawar Starla sambil mengelus punggung si gadis kecil agar sedikit lebih tenang.


"Mahu"


"Ya sudah, jangan nangis ya, Sayang. Ayo bilang dulu sama Aunty, siapa namamu?" ada rasa penasaran dan yakin dalam hati Starla jika anak dalam pelukannya itu bukan salah satu penghuni panti asuhan.


.


.

__ADS_1


XyLa...


__ADS_2