Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Promo nupel Chia


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


( Selamat pagi, Sayang. Bisa kita sarapan bersama? Aku merindukanmu, Juna. )


Deretan kata di baca oleh Arjuna Putra Wardhana saat ia baru saja membuka kedua matanya, sudah jadi suatu kebiasaan bagi pria itu selama 2 tahun ini mengawali harinya dengan membuka pesan berisi ungkapan cinta dan rindu dari Sang kekasih.


( Tentu, tunggu aku di tempat biasa. )


Usai membalas pesan dari Hanna, ia pun bergegas turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sudah tak sabar rasanya ingin sekali bertemu dengan wanita yang sudah 2 tahun di pacarinya itu, tapi tak sekalipun ia kenalkan pada keluarganya.


Hari ini, mumpung di akhir pekan tentu banyak rencana yang akan di lakukan Arjuna dan Hanna setelah serapan nanti. Ia akan mengajak kekasih hatinya itu jalan-jalan guna menghabiskan waktu bersama. Sudah hampir 4 hari mereka tak bertemu jadi jangan tanyakan sebanyak apa rindu dalam hati keduanya saat ini.


Namun, rasa curiga terselip di hati Arjuna saat ia sudah ada di ruang makan, niat hati ingin pamit pada kedua orang tuanya, ia justru di minta untuk duduk karna ada yang ingin Papa Chiko bicarakan, dari nada bicaranya terlihat cukup serius, tapi Arjuna tetap berpikir positif mengira hal yang akan mereka bahas yaitu tentang perusahaan yang kini sudah jatuh ke tangannya, sebab Sang kakak yaitu Rinjani ChiMa Wardhana sudah bahagia bergelimang harta semenjak menjadi Nona muda Rahardian Wijaya.


"Ada apa, Pah?" tanya Arjuna setelah ia menarik kursi dan menghempaskan bokongnya di sana.


"Papa dan Mama ingin bicara denganmu, perihal masa depanmu yang tak lain tentang pernikahanmu, Juna," jelas Papa, hati Arjuna mulai tak enak karna perkiraannya tentu jauh meleset.


"Pernikahan? maksud Mama dan Papa apa?"


"Kami ingin kamu menikah dengan Chia," jawab Mama Marni, kali ini wanita itu yang angkat bicara karna tahu jika putra mereka tak akan membantah.


"Mah--, Mama lagi bercanda kan? Juna pamit keluar ya, ada urusan." Ia yang tak ingin menanggapi permintaan konyol barusan buru buru bangun dari duduknya, tapi tentu langsung di cegah dan di minta untuk kembali ke posisi semula.


"Juna, kami serius. Kamu mau cari perempuan yang seperti apa? Chia sudah paling pantas untukmu, dia juga sepertinya sudah lama menaruh rasa padamu, bukan begitu?" ucap Papa Chiko.


"Sejak kapan kalian membandingkan latar belakang orang lain?" tanya Arjuna yang pastinya paham dengan sindiran orangtuanya barusan, " Lagi pula, yang punya rasa itu Chia, bukan Juna." tegasnya lalu benar-benar pergi.


Perasaan pria tampan dengan postur tubuh nyaris sempurna tersebut jauh dari kata baik baik saja, padahal matahari baru saja naik ke permukaan langit.


Mama Marni dan Papa Chiko bukan tak tahu hubungan Arjuna dengan seorang gadis, hanya saja mereka ingin mempererat tali silaturahmi dengan keluarga besan serta sahabat mereka yaitu, Skala.


Lagi pula, sangat jelas entah dari kapan KhyaXyLa NauRahardian Wijaya menaruh rasa pada Arjuna. Dan itu adalah kesempatan emas bukan hanya keturunan yang nanti jelas asal usulnya tapi baik juga untuk perusahaan Wardhana Gruop.


.


.


Arjuna yang benar-benar pergi tak lagi menoleh saat namanya di panggil berkali-kali, baru saat ini ia bersikap tak acuh karna memang ia tak suka dengan topik pembicaraan yang di lontar kan orang tuanya barusan, rasa lapar dan rindunya pada Sang kekasih mengalahkan segalanya termasuk perintah untuk tidak pergi dari rumah.


"Aaaaaargh!" Arjuna yang kesal sampai memukul setir mobilnya sendiri. Ia kacau, sungguh sangat kacau.


Tapi, perlahan Arjuna menarik napas untuk di buangnya perlahan, ia tekan emosi dan rasa kesalnya itu karna tak ingin nanti justru akan merusak suasana kebersamaannya dengan Hanna, tak perduli dengan permintaan kedua orang tuanya barusan, yang jelas hari ini ia akan bersenang-senang dengan Sang penghuni hati.

__ADS_1


.


.


.


Mobil melaju dengan cukup kencang karena memang Arjuna masih terbawa suasana pikirannya yang kacau, karna jika bicara tentang hati tentu semua masih baik baik saja, tetap ada satu nama disana yaitu, Hanna.


Selama melajukan kendaraannya itu, Arjuna sesekali melihat ponsel sembari membalas pesan Sang kekasih yang bertanya posisinya saat ini, agar tak terjadi hal yang tak di inginkan, Arjuna membalasnya dengan Voicenote supaya kedua matanya tetap bisa fokus pada jalan di depannya.


Sampai di Resto langganan mereka, Arjuna mengedarkan pandangan mencari sosok Hanna, senyum terukir jelas di sudut bibir pria tampan itu saat melihat Hanna melambaikan tangannya.


"Maaf, Sayang, kamu terlalu lama menungguku," ucap penuh sesal Arjuna setelah menciumi seluruh wajah cantik gadis kesayangannya itu.


Cinta Arjuna memang tak main main pada sosok Hanna yang tumbuh besar di salah satu panti asuhan, ia gadis pintar dengan penuh rasa sabar jadi cocok sekali dengan Arjuna yang keras kepala.


"Macet kah?" tanya Hanna, tatapannya yang sendu selalu bisa menghipnotis seorang Arjuna.


"Tidak, tadi ada ada yang ku bahas sebentar dengan mama dan papa," jawabnya.


Dan Hanna hanya tersenyum simpul, jika nama kedua orang tua itu di sebut ia tak pernah mau memperpanjang obrolan. Entah kenapa dan memang tak tahu alasannya Arjuna tak sekalipun membawa Hanna kerumah untuk di kenalkan sebagai kekasih. Padahal, pria itu selalu berjanji akan menikahinya walau tak jelas kapan waktunya.


"Habis sarapan kita jalan jalan ya, aku sangat sangat merindukanmu, jadi aku ingin menghabiskan satu hari ini bersama mu, bagaimana?"Β  tawar Arjuna di sela sarapan mereka yang memang sudah di pesan lebih dulu oleh Hanna sebelum Arjuna datang.


Wanita mana pun pasti akan senang tak terkecuali Hanna, ia tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala karna ia pun memiliki rindu luar biasa sama seperti kekasihnya.


"Jadi kita kemana??" tanya Arjuna yang tak henti menciumi punggung dan telapak tangan kekasih itu.


"Air terjun aja gimana? Airnya ada gunungnya ada," Jawab Hanna sambil terkekeh.


"Ide bagus, cantik. Aku mencintaimu." Arjuna menciumi kening Hanna karna suka dengan kepintaran wanita itu.


Tapi, saat bayangan Chia terlintas ia menarik napas lalu di buangnya dengan berat dan kasar.


.


.


Sebelum pasangan kekasih itu pergi menuju ketempat yang sudah mereka sepakati, Hanna meminta pada Arjuna untuk mampir sebentar ke salah satu pusat perbelanjaan, ia akan membeli sedikit cemilan untuk di perjalanan nanti.


Tentu, semua akan di turuti oleh prianya itu apalagi sekedar snack dan minuman saja. Beruntungnya Hanna bukan wanita matre yang memanfaatkan harta kekasihnya untuk keperluan dan kesenangannya sendiri.


"Minimarket aja, Sayang."

__ADS_1


"Swalayan aja, lebih komplit dan gak antri," Tolak Arjuna, ia yang tak suka menunggu tapi dengan seenak hatinya membuat kekasihnya itu menunggu sebuah kepastian.


Mobil mewah itu terus melaju hingga sampai di sebuah parkiran sebuah Mall tak jauh dari resto tempat mereka tadi sarapan. Tapi, kejadian tak terduga terjadi saat Arjuna dan Hanna turun dari mobil , keluar juga sosok yang tanpa di duga akan di temui mereka hari ini.


"Kak Jani--," Seru Arjuna saat melihat kakak perempuannya itu dengan tatapan sama kagetnya.


"Unna, disini juga?" tanya Rinjani yang untungnya seorang diri.


Arjuna mengangguk tanpa senyum, ia hampir wanita itu dengan menggandengΒ  tangan Hanna.


"Siang Kak Jani," sapa Hanna dengan sopan.


"Siang juga, Hanna. Kalian--, mau belanja?" Tanya Rinjani karna Mall yang kebetulan sama sama mereka datangi khusus swalayan.


"Iya, mau beli cemilan," jawab Arjuna yang hanya di balas anggukan kepala pelan oleh kakaknya itu.


Rinjani yang tak mau menganggu, mempersilahkan adiknya dan wanita yang ia bawa itu untuk masuk lebih dulu ke dalam Mall, ia beralasan menunggu temannya padahal ingin menelepon Sang Mama, karna Rinjani tahu tentang rencana perjodohan adiknya dan juga adik sepupu suaminya tersebut.


Di dalam Mall, seperti biasa Arjuna hanya akan mengikuti kemana langkah kaki kekasihnya itu. Ia yang memegang troley sedangkan Hanna memilih dan memilah apa yang akan di belinya.


"Cepetan, Sayang. Keburu siang," titah Tuan Muda Wardhana.


"Iya, tunggu sebentar ya, aku ambil beberapa minuman dulu."


Hampir satu satu jam berbelanja, mereka kembali ke mobil di parkiran namun ternyata mobil Sang kakak tak ada disana. Hanna yang sebenarnya penasaran namun tak berani bertanya, ia memilih diam karna Arjuna pun terlihat tak acuh. Padahal, dalam hati pria itu sudah bisa menebak jika Rinjani pasti pulang dan mengadu jika mereka bertemu.


"Dasar wanita!!" bathinnya kesal.


Perjalananpun di lanjutkan namun diantara mereka lebih banyak diam, hanya bicara dan sesekali membuka obrolan. Hanna yang melirik sekilas seolah tahu ada yang sedang di pikirkan oleh Arjuna.


"Kak Jani makin cantik ya, sudah berapa kali aku bertemu dengannya," ucap Hanna mulai memancing.


Tapi, Arjuna tak menjawab seolah ia ingin fokus pada jalan di depannya saja atau mungkin lebih tepatnya ia tak berminat dengan obrolan yang di lontarkan Hanna barusan.


"Juna--, tak apa kan jika aku bertanya tentang keluargamu?"


"Untuk apa? Kamu hanya butuh aku, tak perlu tahu tentang mereka," Tegas Arjuna yang tak suka dengan permintaan Hanna.


"Maaf, aku hanya ingin lebih mengenal mereka saja. Jika kamu tak suka, aku--, loh kita mau kemana? Kok belok kemari?" tanya Hanna bingung dan kaget karna ini di luar rencana mereka yang akan liburan ke air terjun.


.


.

__ADS_1


.


Hotel.. Kita akan menghabiskan waktu disini.


__ADS_2