
🍂🍂🍂🍂🍂
Zevanya pulang dari tempat kursus tentu dengan hati senang luar biasa. Benar yang di katakan Nyonya Starla jika bukan hanya ilmu yang ia dapat tapi juga pengalaman dan juga teman.
Ada dua orang wanita yang berkenalan dengannya barusan, kursus di tempat yang sama namun selisih beberapa waktu saja dari Zevanya. Ketiganya nampak langsung akrab padahal Zefanya yang paling muda di antara mereka semua.
"Nona--, bagaimana tadi? apa cukup menyenangkan?" tanya Tari yang tak sabar menuju cerita.
Sebenarnya, jauh dari dalam hati sang pelayan ia sangat sedih dengan yang ia alami Zevanya, di abaikan selama 5 tahun oleh pria yang sudah Menikahinya tetap terasa menyedihkan meski tak cinta.
"Sangat, aku malah jadi tahu dengan beberapa sayuran yang tak pernah ku lihat sebelumnya, aku bahagia sekali karna pemiliknya begitu baik hati, ia benar-benar mendengar semua apa yang ku ceritakan, sama sepertimu, Tari."
"Syukur lah, aku takut Nona membuat kesalahan di luar rumah. Aku ikut senang jika begini," sahut Tari yang akhirnya bisa bernapas lega sebab beberapa jam tadi ia begitu khawatir.
Dalam satu minggu, Zevanya mengambil kelas Full, hanya akhir pekan saja ia tak kesana. Tapi itu belum ia bicara kan dengan Irwan apa lagi suaminya.
"Oh, ya. Tuan ada?" tanya Zevanya pelan sedikit berbisik.
__ADS_1
"Ada, satu jam lalu pulang dengan dua wanita seperti biasa," jawab Tari yang melakukan hal yang sama juga seperti nona mudanya barusan.
Zevanya hanya mengangguk paham, ia tak mau perduli karna memang sejak dulu ia di minta untuk tutup telinga dan mata. Itu artinya , ia tak berhak tahu apa pun itu. Termasuk pekerjaan sang tuan besar..
.
.
.
Di rasa sejak kemarin ia tak di panggil oleh sang suami, itu tandanya semua aman. Seperti yang sudah di ketahui, jika jadwal Zevanya memulai kursus adalah dari jam 11 hingga jam 2 siang. Itu artinya ia akan melewatkan makan siang disana. Saking tak sabarnya Zevanya sudah sibuk bolak balik di dalam kamarnya sambil melihat kearah jam yang baru menunjukkan pukul 10.
Zevanya tak berani untuk pergi di yang bukan waktunya sebab meski suaminya tak ada bukan berarti ia tak tahu. Zevanya yang memilih keluar kamar pun akhirnya bertemu dengan Irwan.
"Sudah rapih?" tanya pria itu dengan dahi mengernyit.
"Hem, aku sudah siap sejak tadi bisakah pergi sekarang?" punya Zevanya dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Masih ada beberapa waktu untukmu diam dirumah, Nona."
"Hey, apa Tuan tak tahu jika apa pun bisa terjadi di jalan, contohnya kecelakaan. Aku hanya ingin mengantisipasinya saja dari pada harus terlambat datang ke sana," ucap Zevanya panjang lebar namun tetap satu tujuan yaitu ingin pergi sekarang.
"Alasan!" cetus Irwan sambil mencebikkan bibirnya ke arah Zevanya yang tertawa kecil.
keduanya bisa semanis itu tentu jika hanya berdua saja, karna jika ada Tuan Max tentu mereka akan bersikap seolah yang tak saling kenal.
"Bagaimana? bisa aku pergi sekarang, Tuan?" tanya Zevanya penuh harap.
"Tunggu, aku akan hubungi supir untuk siapkan mobil untuk mengantarmu kesana ya," jawab Irwan sambil meraih ponselnya di saku jas.
.
.
.
__ADS_1
Tak perlu, biar saya yang antar dia...