
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
4 tahun berlalu..
"Keceeeeeeel, papa lama!'"
Chia yang sudah makan malam dan berganti pakaian menjadi piyama tidur bergambar kucing ajaib berwarna biru terus merajuk dalam pelukan Apihnya, ia kesal karna sang papa belum juga pulang padahal ia sudah menguap berkali-kali sambil terus merengek.
"Bobo sama Amih dulu ya, sayang."
"Nda, mahu ama papa Chia, papa mana?" tanyanya yang terus uring uringan.
Sudah sejak bayi Chia tak pernah jauh dari papanya, sosok orang tua tunggal yang ia punya selama ini, hidup dan menjalani hari hari tanpa sentuhan seorang ibu membuat gadis kecil itu sangat bergantung pada papanya. Jika sedang ada pekerjaan mendadak dan mengharuskan pria itu pulang malam tentu seisi rumah akan di buat pusing dengan rengekan Chia, ia tak akan bisa tidur jika bukan dalam pelukan ArXy.
"Ponselnya tak bisa di hubungi, Pih" ucap Amih kseal karna sudah hampir jam 10 malam anak sulungnya itu belum juga pulang.
"Coba telepon Clarissa," titah Apih juga yang sama jengkelnya.
"Sama, malah tak di angkat."
Pasangan paruh baya itu pun tak bisa berbuat banyak kecuali menunggu datangnya ArXy yang akan entah kapan.
"Papaaaaaaaaaa" teriak Chia yang msih ada dalam gendongan Apihnya saat ia melihat pria kesayangannya sudah pulang sambil tersenyum.
Meski lelah dan mengantuk ArXy akan tetap berusaha terlihat sempurna di depan putri kecilnya, Sang bidadari cantik yang selama ini membuat ia selalu bahagia dengan segala celoteh dan gelak tawa Chia.
"Maaf ya, papa pulang malam lagi," ucap ArXy penuh sesal.
"Lagi? becok jangan ya, Chia kan mahu bobo," pinta si gadis cilik.
"Iya, Sayang, kita ke kamar ya, Chia langsung bobo, Ok"
KhayXyLa NauRahardian Wijaya itupun mengangguk setuju, kini mereka masuk kedalam kamar ArXy meninggalkan Amih dan Apih yang menatap kasihan pada putra mereka.
__ADS_1
4 tahun berlalu, tak ada yang berubah dari sosok ArXy yang tak pernah dekat dengan wanita manapun lagi usai bercerai. Padahal, siapa pun akan tertarik padanya meski statusanya seorang duda beranak satu, bukan hanya karna ketampanannya saja tapi tentu juga dari kemapanan yang pria matang itu miliki.
"Apa ArXy beneran gak normal ya , Pih?" tanya Amih masih penasaran karna rasa curiga itu memang pernah ada jauh sebelum ArXy menikah.
"Hust, amit amit" sahut Apih yang langsung membawa istri cerewetnya itu ke dalam kamar mereka.
.
.
.
"Papa, lapat lapat ya?" tanya Chia sata ArXy keluar dari kamar mandi sudah menggunakan piyama yang sama denga putrinya tersebut
"Iya, kan tadi Papa sudah bilang, Chia bisa bobo dulu sama Amih kalau sudah ngantuk. Nanti, Papa pindahin kesini kalau sudah pulang."
Chia pun langsung menggelengkan kepalanya, bagi gadis kecil itu rasanya akan sangat berbeda karna sudah sangat terbiasa bersama dengan papanya sejak satu hari ia menyapa dunia. Keputusan untuk bercerai dulu memang sangat di rencanakan begitu matang oleh orang tuanya yang tak menyangka akan membuat Chia tak bisa lepas sama sekali.
" Chia sudah besar loh, sebentar lagi kan mau sekolah."
Bukan menjawab, ArXy justru tertawa mendengarnya ia langsung menciumi wajah anaknya yang kini sedang terkeh menahan geli.
Begitulah hari hari yang ArXy jalani, jika siang ia akan sibuk bekerja dan jika pagi dan malam ia pasti sibuk mengurus Chia, sampai rasanya tak butuh orang lain untuk menyempurnakan hidupnya yang ia rasa cukup mereka berdua saja.
ArXy akan dengan sabar menunggu hasil keringat semlamnya itu terlelap terbuai mimpi dan jika itu sudah terjadi, ia akan kembali bangun untuk melakukan me time untuknya sendiri jika belum mengantuk. Apa saja akan ia lakukan meski hanya sekedar bermain game atau bertukar chat tak peting bersama tiga sepupunya yang lain, Skala, Rain dan Heaven.
"Selamat tidur Chia, Papa akan buat hari hari mu jauh lebih indah dari hanya sebuah mimpi yang hanya bunga tidur, tak perduli jika kamu harus tumbuh tanpa dekapan seorang ibu di antara kita."
ArXy langsung mencium kening dan kedua pipi Chia pelan dan lembut karna jangan sampai gadis kecil itu terbangun lagi setelah susah payah ia temani selama hampir satu jam sambil terus bertukar cerita.
Dengan pergerakan pelan ArXy turun dari ranjang, ia berjalan kearah lemari pendingin yang di kunxi karna disana begtu banyak minuman untuk orang dewasa yang tentunya tak boleh di ketahui oleh Chia.
ArXy mengambil satu kaleng minuman soda lalu membawanya ke balkon kamar, anginnya yang cukup lumayan kencang karna hampir tengah malam membuat ia sesekali mengeratkan pelukanya sendri pada tuvuhnya. Tapi, sedingin apapun ia saat ini, ia tetep tak butuh pendamping hidup lain meski ada beberapa wanita yang datang terang terangan ingin bersamanya termasuk sekertarisnya yang kini sudah menjadi Asisten pribadi setelah Arlan mengundurkan diri dua tahun lala tanpa alasan yang jelas meski sedikit banyak ia bisa menebak dengan apa yang terjadi pada orang kepercayaannya tersebut.
__ADS_1
Dan nama Starla pun tak pernah terlintas juga di benak ArXy meski senyum dan mata Chia begitu mirip dengan mantan istrjnya yang entah dimana.
Ya, entah dimana, karna ArXy tak berniat untuk mencari tahu sama sekali, ia sudah terlalu nyaman hidup sendirri sebelum kenal dan akhirnya menikah, tapi ia tak lupa terus berterima kasih pada wanita itu karna sudah mau mengandung dan melahirkan benihnya yang kini sudah berumur 4 tahun. Cha tumbuh menjadi anak manja namun menggemaskan itu masih bisa di bilang wajar karna di rumah mewah ini hanya ia satu satunya tuan putri, semua perhatian hanya teruju pada Chia yang sebenarnya sudah paham arti sosok seorang ibu yang tak ia dapatkan di rumah tersebut meski ada Amih yang selalu ada bersamanya.
*
*
Pagi...
ArXy yang sudah lebih dulu bangun akan tetap betah di atas ranjang sebelum Chia membuka mata bulatnya dengan bulu mata lentik berwarna hitam pekat.
"Pagi, Papa."
"Selamat pagi juga cantik, mau bangun sekarang?" tawar ArXy sambil memberikan senyum terbaiknya.
''Ental aja, macih dinin," tolak Chia yang malah mengeratkan pelukannya pada Sang Papa.
"Papa mahu kelja lagi, nanti pulangnya malam malam lagi nda?" tanya Chia.
"Enggak, hari ini Papa pulang cepet, Chia mau di bawakan apa sama Papa nanti saat pulang dari kantor?"
"Hem, apa yaaaaa, Chia bingun ih, "
"Ayo, Chia mau apa? Ice cream, coklat atau permen bulat warna warni?" tanya ArXy yang belum juga mendapatkan jawaban.
.
.
.
Hem.. Chia mahu Mama, ada yang jual nda di toko??
__ADS_1