
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
ArXy yang masih berada di kantor dengan Asisten pribadi dan sekertarisnya masih saja berkutat dengan setumpuk pekerjaan usai meeting satu jam lalu, harusnya mereka sudah pulang bahkan tiba di rumah masing-masing tapi sayangnya ketiga orang itu masih saja ada dalam ruangan Direktur Utama dengan laptop masing-masing, proyek baru yang sedang mereka rencanakan untuk akhir tahun memang sedikit menguras otak, tenaga dan pastinya waktu yang tak sebentar.
"Tuan ingin kopi?" tawar Clarissa pada bosnya demi bisa merenggang kan otot punggungnya sejenak.
"Hem, boleh tapi jangan terlalu manis ya," jawab ArXy yang hanya menoleh sekilas.
Dalam urusan yang satu ini patut di akui ArXy memang Asistennya itu yang paling jago bahkan istrinya sendiri tak bisa menyamakan kenikmatan racikan kopi yang di buat Clarissa hingga belasan tahun ini ArXy tetep meyakini itulah yang paling enak menurutnya.
"Kamu mau juga? biar sekalian saya buatkan," tawarnya pada sang sekretaris.
"Tidak, Nona, terima kasih."
Clarissa hanya mengangguk lalu bergegas membuatkan dua cangkir kopi untuknya dan untuk arXy juga, pria yang kini namanya sudah ia kubur dalam-dalam tapi bukan berarti ia tak cinta hanya saja ia tak ingin berharap pada sesuatu yang tercipta bukan untuknya.
"Terima kasih ya, Ris," ujar ArXy saat secangkir kopi sudah di letakkan di atas meja kaca, wangi aromanya sungguh benar-benar menggoda ingin cepat di nikmati.
"Iya, Sama-sama."
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi sambil sesekali berdiskusi hingga satu jam berlalu akhirnya semua selesai dan bersiap untuk pulang. ArXy yang merenggangkan otot punggung pun sambil melihat ponselnya berharap ada satu pesan dari sang Istri, tapi itu tak mungkin terjadi karna memang Starla bukan type wanita yang rewel, sekali suaminya bilang sibuk ia tak akan terus menghubungi dan mengganggu.
.
.
.
ArXy pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri, ia tak pernah suka mengandalkan supir kecuali dalam urusan pekerjaan, tingkah Chio dan Chia yang menggemaskan terus berputar di pelupuk matanya hingga ia terus melanjukan kereta besi mewahnya itu dengan kecepatan lumayan tinggi agar cepat sampai dirumah.
Tapi sayang, saat ia sudah di kediaman Rahardian milik orang-tuanya ternyata kedua anaknya sudah terlelap terbuai mimpi, ArXy hanya bisa menciumi pipi kedua buah hatinya dengan gemas tapi haris di tahan agar tak bangun.
"Si kakak abis nangis, di pukul dede pake sendok," jelas Starla sambil menahan tawa tapi tidak dengan ArXy yang mengernyitkan dahi.
"Kok bisa?" tanyanya aneh dan bingung.
Starla lalu menceritakan secara detail bagaimana Chio sudah sangat kesal pada kakaknya yang tak henti menciumi pipi bulatnya itu padahal ia sudah merengek meminta Chia untuk menjauh karna sedang memakan kue pemberian dari Onty XyRa tapi siapa sangka rasa kesal bocah lelaki tersebut membuatnya reflek melayangkan sendok yang ia pegang tepat di kening Si gadis cantik.
"Wah, Sekutu ada perlawanan ternyata," kekeh ArXy yang ikut gemas dan bersyukur karna tak ada pas keributan itu berlangsung sebab ia tak bisa membayang sekeras apa Chia menangis saat itu.
__ADS_1
Tapi, akan selalu ada hikmah dari segala kejadian, contohnya malam ini, ArXy akan ada bonus waktu tambahan untuk menikmati apa yang ada di tubuh istrinya kecuali dua daging kenyal yang kini jadi hak milik putranya.
ArXy yang sudah menarik tengkuk istrinya tak sabar ingin berciuman harus menoleh kesal saat mendengar rengekan Chio yang bangun bukan di waktu yang tepat.
"Awas, Pah."
"Sssst, diem," titah ArXy yang kedua wajah mereka masih sangat dekat.
"Chio bangun, Pah," kata Starla mulai kesal karna anak itu mulai berguling-guling mencarinya.
.
.
.
.
Chio... tutup matanya dulu ya, papa mau ngerujak bibir sebentar.
__ADS_1