
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Hallo, siapa ini?" tanya ArXy saat ia sudah berhasil meraih ponselnya dari tangan Chia.
"Starla sudah tidur, tak baik mengganggunya yang sedang istirahat," jawab Arlan.
Ya, memang mantan Asisten Pribadi Direkrut utama Rahardian Grouplah yang mengangkat telepon untuk Starla yang baru saja terlelap di sampingnya, kepala yang berada di bahu Arlan membuat pria tersebut tak bisa bicara keras, ia harus menekan nada suaranya agar Starla tak terganggu.
"Cih, sombong sekali! kamu tak sadar siapa yang meneleponnya tadi, hah? putrinya sendiri, dan kamu mengatakan jika Chia tak boleh menggangu ibunya?? " sentak ArXy, ia langsung berjalan ke arah balkon karna ta ingin Chia mendengar ia memaki mantan Aspirnya tersebut.
"Ini sudah malam, harusnya Anda juga tahu waktu. jika ini waktunya istirahat."
__ADS_1
"Kamu sudah memeras otak dan tenaga Starla, ini masih terbilang sore untuk sekedar tidur jika bukan karna ia terlalu lelah," ujar ArXy.
Sebenarnya sudah dari beberapa waktu lalu ArXy ingin mengatakan ini, dan beruntungnya sekarang ia bisa langsung bicara pada CEO nya langsung. Ia merasa Starla selalu tak fokus saat mengobrol dengan putrinya dan itu pasti karna rasa lelah dan beratnya tekanan dalam pekerjaan. ArXy tentu paham hal tersebut mengingat ia sudah jauh lebih dulu dan lama terjun dalam dunia perkantoran.
"Lelah tenaga dan otak, obatnya hanya tidur cukup. Di banding lelah hati dan pikiran, adakah obatnya?" sindir Arlan.
Andai pria itu tahu bagaimana rapuhnya Starla selama 5 tahun belakangan ini, ArXy pasti akan bangga melihat Starla yang sekarang, bukan menuntut banyak hal dari wanita yang sudah berjuang mati-matian untuk bangkit dari rasa tak berdayanya. Starla terus memaki dirinya sendiri yang tak bisa menjadi istri yang baik, yang patut di cintai dan harga posisinya. Hingga suami yang teramat ia hormati itu memberinya percikan api cemburu yang membakar habis hatinya dalam satu detik.
"Jangan terlalu berlebihan, Bahagianya Starla ada pada Chia, dan kurasa kamu tahu itu. Jangan pernah sesekali menghalangi mereka bertemu dengan memberi pekerjaan yang berlebihan dan tak masuk akal. Aku bisa mengambil alih perusahaanmu dalam hitungan detik, paham?!" ancam ArXy tak main main, apapun bisa di lakukan oleh Tuan Muda Rahardian tersebut apa lagi hanya soal perkara perusahaan kecil yang baru saja di rintis dan masih terbilang baru mulai berkembang.
Arlan hanya terkekeh, ia tentu tahu hal itu tanpa ArXy mengingatkannya. Tapi, harusnya masalah pribadi tak perlu di bawa ke dalam pekerjaan, karna bukan Arlan saja yang akan menanggung akibatnya tapi pasti puluhan karyawan yang baru bekerja dengannya. Dan Arlan jauh lebih memikirkan itu.
__ADS_1
"Mana mungkin aku melakukannya, aku tahu bagimana Starla menyayangi Chia sejak dalam kandungan, dan aku pun merasakan hal hanya sama. Aku menyayangi bayi yang ada dalam perut mantan istri mu itu, karna apa? karna aku turut andil dalam drama ngindamnya, aku yang selalu berusaha mencari apa yang Chia inginkan, aku selalu ada saat dokter menerangkan tumbuh kembangnya dalam rahim Starla dan aku juga orang pertama yang menggendong putri kalian."
"Brengsek!" umpata ArXy kesal dan kasar.
Jika mengenai hal tersebut tentu ia kalah telak dari Arlan yang dulu selalu di repotkan selama masa kehamilan Strla.
.
.
Terimakasih sudah mengajariku bagaimana menjadi suami siaga dan calon ayah yang baik mungkin juga untuk Chia di kemudian hari..
__ADS_1