
🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek.
Starla masuk kedalam kamar hotelnya yang bersebelahan dengan kamar Arlan, mereka tak mungkin satu kamar karna keduanya masih menjaga batasan dalam urusan itu, terbukti Arlan pun sampai detik ini tak pernah menginap di rumah Starla, bahkan untuk menemani wanita tersebut ia tak pernah lebih dari jam 12 malam.
Satu ranjang berukuran sedang dengan sprei putih seolah melambai kearahnya ingin segera di hampiri, tapi Starla memilih membersihkan diri lebih dulu sebelum makan bersama dengan Arlan.
Rasanya begitu lain, hatinya tak tenang seakan sedang menunggu sesuatu padahal jelas niatnya kemari hanya ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya, dan setelah itu akan kembali pulang ke kota X untuk mewujudkan mimpinya yang sudah ia rangkai dengan baik.
Starla hanya ingin membuat dirinya bangga, karna tak semua orang bisa menerima dia dengan statusnya yang seorang janda muda dengan satu anak, entah apa yang akan Starla katakan jika ada orang yang bertanya hal tersebut, haruskah ia jujur pada dunia tentang betapa lelahnya ia harus mengemis cinta sang suami?
Menyedihkan sekali, itu pasti jawaban orang-orang kelak saat tahu kenapa ia bercerai di usia 19 tahun saat pernikahan nya belum genap juga 1 tahun, dan akan lebih mengejutkan lagi jika tau siapa mantan suaminya itu.
.
.
__ADS_1
.
Makan malam selesai, tapi Arlan dan Starla masih mengobrol banyak hal di balkon hotel, gemerlap lampu jalan dan kendaraan menambah warna warni di matanya yang kini belum juga merasakan kantuk.
"La, kamu tahu sesuatu?" tanya Arlan yang langsung membuat Starla menoleh.
"Tahu apa?" Starla balik bertanya.
"Gedung yang tinggi itu, milik ayah putrimu."
...Deg... ...
"Iyakah? aku lupa, Kak. Lebih tepatnya sudah melupakannya," jawab Starla dengan senyum simpul.
Bagaimana tak ingin di lupakan, jika nyatanya bangunan tinggi itu adalah puncak dari pengkhianatan suaminya. Setia yang ia berikan di balas dengan perlakuan tak senonoh ArXy pada sekertarisnya. Karna tak adanya penjelasan sama sekali dari bibir pria tersebut jadi kini tak salah jika Starla percaya dengan apa yang ia lihat sendiri dengan kedua matanya.
"Kamu tak rindu, Chia?" tanya Arlan lagi.
__ADS_1
"Rindu ku adalah rindu yang paling sempurna, Kak. karna jelas kami tak bisa bertemu sekedar berpeluk, adakah Rindu yang lebih dari itu?"
"Kamu bisa melihatnya jika mau, bagaimana?" tawaran Arlan malah membuat Starla terkekeh.
Bohong rasanya jika ia tak mau, karna bagaimana pun ia yang berjuang sendiri selama 9 bulan mengandung dan beberapa jam melahirkan. Tanpa ArXy, ya.. tanpa pria itu yang kini justru begitu beruntung bisa memeluk anak gadisnya dengan bebas setiap waktu.
Sedangkan Starla, harus menekan perasaannya agar tak rindu, dan memilih untuk menemui Chia adalah keputusan tersulit untuknya selama hidup.
"Aku sudah nyaman begini, aku percaya Chia baik-baik saja, Amih dan Apih serta papanya begitu sayang padanya jadi tanpa ku pun ia tak masalah, Kak." itulah yang selalu Starla ucapkan untuk menghibur dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan ArXy, dia belum menikah lagi sampai saat ini, masih maukah kamu kembali padanya suatu saat nanti?" tanya Arlan untuk memastikan perasaan wanita yang selama ini sudah menetap di hatinya.
.
.
.
__ADS_1
Aku pernah di salahkan padahal jelas tak salah, aku pernah di marahi saat ia marah, pernah di abaikan padahal aku cinta, pernah juga di hakimi dan tak di beri kesempatan untuk membela diri, dan itu rasanya sakit. Dan untuk kembali, rasanya aku tak perduli...