Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Episode. 2


__ADS_3

"Ibu, maafkan Rindi. Makan yang banyak Tris kakak keatas dulu ya." Sera pergi mengikuti adiknya dan berniat membujuk.


Tris acuh tak acuh, dia memakan masakan ibunya yang khusus di masak untuknya. Dia masih belum bisa memaafkan kakak pertamanya.


Rindi membuka jendela kamar meluapkan emosinya sampai bola mata itu berkaca-kaca.


"Rindi."


Sera memanggil adik keduanya dengan lembut.


"Kenapa anak tidak tau malu itu kembali lagi kakak, sejak dia tidak ada, rumah ini aman tentram. Tapi__." Nafas Rindi memburu, sesak rasanya jika dia melanjutkan kata- kata kejamnya.


"Dia adik bungsu kita Rindi! Tris berhak kembali ke rumah ini." Sera mengusap air mata adiknya dengan sayang. "Jangan bersikap cengeng begini kasihan ibu. Ibu sudah memasak banyak."


"Itu untuk putri kesayangannya bukan untuk ku ataupun kakak."


"Rindi." Sera menatap tajam adiknya. Rindi semakin hari semakin keras kepala. " Kita sudah dewasa Rindi! kasihan ibu jika melihat anak-anaknya bertengkar terus. Ayo kembali kebawah."


"Kakak saja yang kembali, aku sudah tidak lapar." Rindi masuk kekamarnya dan menutupi semua badanya dengan selimut.


Sera yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas beratnya.


*


Pagi ini matahari bersinar terang, sehingga membuat bunga menjadi cepat layu.


Tris tidak tidur karena dia sedang membuat lamaran kerja. Kaca mata hitam masih bertengger cantik di atas hidungnya. Tris sudah membulatkan tekad untuk memulai hidup dan melupakan sosok yang masih bersemayam di hatinya, yaitu Rehan Sky. Walaupun dia memiliki uang yang cukup Tris ingin menghabiskan hari-harinya dengan bekerja.


Selama tiga tahun Tris mengikuti kuliah online dan mengambil dua jurusan sekaligus. Desainer dan perbankan. Dua jurusan yang sangat bertolak belakang tapi Tris suka dengan yang menantang. Biaya kuliahnya di tanggung oleh nenek Elvi Sky.


Tiga tahun mengambil S.1 dan umurnya tahun ini dua puluh tahun. Hebat bukan! Tris gadis yang cerdas dan penuh perhitungan.


Tris turun untuk sarapan, dia siap-siap dengan stelan ala-ala wanita kantoran dan dia terlihat lebih dewasa.


Kedua kakaknya melihat Tris dengan pandangan rumit.


"Sayang kamu mau keluar?" Retha mengubah ekspresi wajah. Baru semalam putrinya pulang kini pergi lagi.

__ADS_1


"Aku ingin melamar kerja ibu."


"Kerja." Sera dan Rindi saling pandang. Jadi benar adik mereka kuliah di luar kota dan sekarang kembali untuk bekerja?


" Kenapa? Apa wajahku terlihat berchanda." Tris duduk dengan wajah datar, moodnya langsung hancur. Kedua kakaknya terlalu menyepelekan Tris Walker.


"Sayang, kau baru saja pulang apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu beberapa hari dirumah." Retha memasang wajah memelasnya berharap putri bungsunya tidak keluar hari ini. Retha yang sangat merindukan Tris berniat menghabiskan waktunya hari ini.


"Aku sudah istirahat selama seminggu di apertemen ibu, jadi aku sudah bosan dan ingin segera bekerja." Bibirnya sangat lancar berbicara tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Wajah chubby dan gembul itu terlihat serius.


"Baiklah ibu akan menyiapkan makan siang mu." Karena putrinya bersikeras ingin melamar kerja Retha mengalah dan siap-siap menyiapkan makan siang putrinya. Jangan sampai asam lambung putrinya naik karena menahan lapar.


"Apa benar kau kuliah?" Rindi bertanya ragu-ragu.


Dua ijazah langsung melayang di depannya. Rindi dan Sera membaca dalam diam tidak salah lagi bahkan adiknya lulus cumlaude dengan dua jurusan. Adiknya masih sama seperti dulu, cerdas sekaligus sombong. Sementara Rindi masih belum menuntaskan kuliahnya di umurnya yang sudah dua puluh dua tahun. Walaupun umur segitu masih tergolong muda, di bandingkan dengan prestasi dan kepintaran sang adik dia kalah jauh.


"Berangkat dengan kakak saja, kebetulan kakak mau ke perusahaan Sky Group."


Tris mengerutkan keningnya. ' Kakak dokter umum sejak kapan dia kerja di perusahaan itu? '


"Kakak kerja disana?"


Sera tersenyum tipis. Wajah kakaknya itu mengalahkan Miss universe. Mata indah, bibir yang seksi serta bodynya yang aduhai. Tris yang melihat itu mencibir dalam hati. 'Untuk apa cantik di luar jika hatinya busuk. '


"Kakak melamar menjadi calon istri Tuan Rehan."


"Uhuk-uhuk," bola mata Tris langsung berembun. Hidungnya terasa pedih.


"Hati-hati sayang." Retha memberikan air minum.


"Kenapa? Kau terkejut? Jangan kau bilang kau tidak tau berita yang lagi viral saat ini?" Rindi mendengus.


"Oh, selamat kakak mudah-mudahan kakak terpilih." Tris acuh tak acuh kembali menikmati masakan ibunya walaupun hatinya sedikit terusik.


' Calon suamiku, mantan adik iparku. Akankah ada berita seperti itu nanti? ' Tris membatin dalam hati.


Tidak ada yang tau pernikahannya selain nenek Elvi Sky dan orang-orang terdekat Rehan Sky. Dan yang mengenali wajahnya hanya lah nenek Elvi yang sudah di dalam tanah dan kepala pelayan keluarga Sky yang datang sekali sebulan mengantar kebutuhan Tris ke kastil. Tris yakin laki-laki Tua itu juga tidak akan mengingat wajahnya, karena dia juga memiliki penglihatan yang sudah rabun di usianya yang sudah senja .

__ADS_1


Tris, Rindi, Sera keluar dari rumah. Sera ke garasi mengambil mobil, sementara Rindi keluar dengan sepeda motor besarnya. Tris yang melihat itu hampir cemburu dia tidak bisa mengendarai motor besar seperti itu. Tris tiba-tiba melemparkan batu kecil.


"Tris, kau mau mati?"


"Aku numpang kakak." Tris memasang wajah gemasnya membuat Rindi muak.


"Bukankah kak Sera sudah mengajakmu? Aku tidak mau, aku buru-buru kekampus." Rindi menolak tegas.


"Kakak tidak mau? Ibuuu---." Suara cempreng Tris hampir membangunkan orang satu komplek.


'Anak kecil ini.' Rindi menggeram kesal.


"Naik cepat, dasar anak kecil taunya mengadu." Rindi memasang wajah masamnya.


Tris menaiki sepeda motor besar itu dengan wajah yang ceria, otaknya memang cerdas namun dia masih memiliki sifat kekanak-kanakan.


"Wah, enak ya kak duduk di motor kakak, pasti harganya mahal."


Rindi memutar bola matanya.


"Ini hasil tabunganku."


"Oh, kukira kakak merampok."


"Kau__"


Rindi menahan kesalnya yang sudah ke ubun-ubun. Adik bungsunya itu selalu saja menguji kesabaran. Ibunya juga lebih menyayanginya dari pada dia dan kakaknya. Memang anak bungsu dimana-mana pasti selalu menjadi kesayangan orang tua.


Rindi tersenyum licik.


"Pegang yang erat kita akan terbang."


"Terbang ke tujuan aku mau kak, tapi jangan sampai ke kuburan, aku belum mau mati belum merasakan yang enak-enak apalagi, ehem yang itu kak."


Tris langsung memeluk kakaknya dengan erat sementara Rindi mencoba mencerna perkataanya. 'Anak ini masih kecil sudah mikir enak-enak. ' Tiba-tiba Rindi merinding.


"Gak gitu juga Tris, lepaskan kau membuatku geli." Pelukan Tris membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


Tris ingin memukul helem kakaknya, jika saja dia tidak ingin merasakan rasanya menaiki motor besar dia juga tidak mau berangkat dengan kakaknya yang galak itu.


__ADS_2