
🍂🍂🍂🍂🍂
Sampai di rumah utama, ternyata sudah banyak keluarga yang datang, langkah pria tampan itu pun kini langsung kearah halaman samping dimana ada kolam renang dan gazebo disana tempat berkumpulnya para keturunan laki-laki dari Tuan Wisnu Rahardian Wijaya sang pemilik asli bangunan mewah bak istana ini.
"Heh kang molor, kirain gak dateng," ledek El tiba tiba saat sepupunya itu duduk di sebelahnya.
"Kan udah melek," jawabnya yang malah menyambar minuman milik Shaka hingga pemiliknya hanya bisa mendengus kesal.
"Emang bisa melek?" tanya Lintang yang hanya di balas dengan Ekspresi mata besar dari Chio.
Semua yang melihat itupun jadi tertawa, mereka semua selalu akur dan hidup damai saling berpegang tangan, tak pernah ada masalah serius yang memecah belah di dalam hubungan persaudaraan diantara keturunan Singa tersebut, meski saling ledek dan menjahili tak pernah absen saat sudah berkumpul seperti ini. Banyaknya karakter yang berbeda beda membuat warna lain di dalsm perkumpulan tersebut hingga keseruannya tak ternilai dengan harta yang masing-masing mereka miliki.
"Tar juga dia mah tidur lagi," ejek Sean yang tak mau kalah, abang tayang El itu langsung pindah tempat duduk semakin jauh karna takut mendapat amukan dari si pangeran tidur.
__ADS_1
"Kenyang ih, tidur dari kemaren!"
Semua mata langsung tertuju pada anak bungku ManDud dan ManJa tersebut.
"Pantes bau banget iler," timpal El kesal.
"Gak apa-apa bau yang penting ganteng baik hati dan tidak sombong," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Chio yang mendongak ke arah langit gelap entah mengapa malah mengukir senyum, ada bisikan dalam hatinya yang sulit ia artikan.
"Nona, ayo masuk. Tuan sudah pulang," ucap Tari memberitahukan dengan nada bicara panik karna takut Zevanya kena marah lagi oleh Tuan besar Max.
"Sudah pulang? tumben sekali," jawab Zevanya sambil berlari masuk kedalam rumah rasa neraka baginya itu.
__ADS_1
Dan benar saja, Zevanya mendengar suara langka beberapa orang sedang berjalan masuk, Ia langsung berhenti dan berdiri dengan kepala menunduk.
"Kau buat kesalahan hari ini?" tanya Tuan Max.
"Ti-- tidak, Tuan. Semua sudah saya lakukan sesuai perintah, Tuan," jawab Zevanya dengan terbata.
Ia selalu saja takut jika berhadapan dengan pria paruh baya yang sudah Menikahinya 5 tahun lalu itu.
"Bagus! lakukan semua perintahku jika masih ingin memiliki kepala!" ancam Tuan Max dengan tatapan penuh kebencian.
Zevanya hanya mengangguk dengan tubuh bergetar menahan rasa takut. Pria itu tak pernah memperlakukannya dengan baik selama ini layaknya istri meski Zevanya pun tak pernah berharap hal itu juga.
Pernikahan mereka terjadi karna sebuah wasiat dari mendiang istri Tuan Max yang tak lain adalah saudara jauh Zevanya satu-satunya. Wanita itu meninggal karna penyakit mematikan tanpa meninggalkan keturunan untuk sang suami kala itu, pesan terakhir pun disampaikan di detik-detik kepergian Nyonya Talitha sebelum ia menghembus napas terakhir untuk selamanya setelah pernikahan dibawah tangan berhasil terjadi antara sang suami dan Zevanya. Tapi Tuan Max yang tak pernah menginginkan Zevanya justru kini sangat membenci gadis cantik itu, tak jarang Tuan Max memaki dan menuduh Zevanya yang hanya memanfaatkan keadaan padahal jauh dari dalam lubuk hatinya ia hanya ingin membalas budi dan kebaikan dari Nyonya Talita selama ini padanya.
__ADS_1