
🍂🍂🍂🍂🍂🍂.
"Yakin mau pergi sekarang?" tanya Arlan, ia yang baru datang langsung ke dapur ikut dengan Starla menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Arlan membawakan beberapa macam makanan, kue dan susu kacang kedelai kesukaan Starla, tak perlu bertanya dan di minta ia akan selalu memenuhi semua yang dibutuhkan Si janda muda tersebut..
"Kita sudah bicarakan ini sejak kemarin, dan keputusan ku tak akan berubah. Jika kakak tak ingin mengantarku, aku bisa pergi sendiri."
"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu alasanmu kenapa ingin pulang lagi ke ibu kota, selama 4 tahun ini bukankah kamu sudah nyaman di sini, tak sekalipun kamu menyinggung tempat kelahiranmu itu, ada apa?" desak Arlan.
Wajar rasanya jika pria itu aneh dengan keputusan Starla, semenjak pulang dari ibu kota ia memang sering melamun, menghabiskan waktu di kamar seperti saat pertama kali datang ke kemari, dan jujur Arlan tak suka itu. Arlan mau Starla kembali menjadi Starla yang selama ini sibuk dengan dirinya sendiri, melakukan apapun itu bukan seperti ini yang hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur.
Arlan memang tak tahu tentang sosok anak kecil yang di temui wanita itu, Starla sama sekali tak bercerita karna ia pikir semua akan berlalu begitu saja, tapi ternyata ia salah besar.
Ya, Starla ternyata salah pernah beranggapan jika XyLa sama seperti anak-anak lain yang sering ia jumpai, bertemu kemudian selesai begitu saja tanpa memberi kenangan yang cukup berkesan.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan XyLa, ada rasa bersalah pada diri Starla karena tak menepati janjinya untuk ada saat anak itu bangun dari tidurnya.
Harum rambut XyLa terus menggoda indera penciuman nya yang membuat Starla ingat pada putrinya yang selama 40 hari ia mandikan sendiri di rumah mantan suaminya.
Semua nampak sama, dan Starla masih ingat itu.
"Ada rindu yang ingin ku tuntas kan, Kak."
Arlan mengernyit kan dahi, hatinya sedikit sakit saat kata rindu terlontar dari bibir wanita yang sedang ia harapkan itu.
"Siapa yang kamu rindukan?" tanya Arlan.
Keputusan yang tak ingin di ubah membuat Arlan mau tak mau ikut juga ke ibu kota, ia tak tenang membiarkan Starla pergi sendiri ke kota kelahirannya karna begitu banyak kenangan buruk disana.
Senyum yang nampak lain terlihat di ujung bibir Starla, ia terlihat begitu bersemangat saat menarik koper yang sedikit lebih besar dari yang dulu dibawanya.
__ADS_1
"Cuma dua hari, kenapa begitu banyak membawa barang?" tanya Arlan curiga.
"Aku tak tahu apa yang akan terjadi disana, untuk jaga jaga ku rasa tak apa," sahut Starla santai sambil melengos pergi melewati Arlan di depan ruang tengah.
Arlan yang merasa hatinya tak beres langsung menarik tangan Starla sampai wanita itu berhenti dan menoleh, alisnya yang bertaut jelas sekali pertanda jika ada tanya dalam benak wanita itu.
"Ada apa, Kak? kita tak punya banyak waktu."
"Ada yang ingin ku bicarakan padamu, dan aku berharap kamu bisa menjawabnya saat ini juga," ucap Arlan penuh dengan keseriusan, tatapannya berbeda dari biasanya dan Starla bisa merasakan hal tersebut.
"Apa? apa yang ingin Kak Arlan katakan?"
.
.
__ADS_1
.
Aku mencintaimu, mau kah kamu menikah denganku??