
🍂🍂🍂🍂🍂
"Kamu, menyuruhku meninggalkan Chia disini sendiri, iya?" tanya ArXy dengan senyum sinisnya.
"Chia aman denganku, lagian aku mamanya mana mungkin aku melakukan yang tidak-tidak pada putriku sendiri," ucap Starla meyakinkan.
"Tak ada jaminan kamu tak melakukan itu, malah justru mungkin kamu akan membawa kabur putriku!" cetus ArXy sambil bangun dari duduk.
"Aku tak segila itu, aku tahu siapa keluargamu, Kak."
Starla tentu bukan orang bodoh, satu kesalahan yang ia perbuat ia pasti akan mendapatkan 10 balasan yang jauh lebih dari kata setimpal. Ia tak mau merubah hidupnya yang sudah nyaman dan aman. Biarlah ia hanya mendapat sedikit waktu bersama Chia dari pada tidak sama sekali, Starla paham perasaan anak itu karna Chia seakan seperti dirinya sendiri yang sepi di tengah kedamaian.
"Benarkah, kamu juga tahu aku kan? jika aku tak mau ya tak mau, tapi jika aku mau akan ku pertahanan semua yang ada di tanganku!" tegas ArXy sambil berjalan menghampiri Starla hingg wanita itu terus mundur karna takut dengan tatapan yang ArXy berikan, ia tak bisa mengartikan apa yang sedang di pikirkan mantan suaminya tersebut.
Deg...
Starla berhenti saat punggungnya menabrak lemari pakaian yang kosong tanpa apapun karna ia memang tak menaruh barangnya disana.
"Kak--, Kak ArXy mau apa?" tanya Starla panik ketika kedua tangan pria itu sudah ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
"Haruskah ku jawab? bukankah kini kamu sudah dewasa, hem?"
__ADS_1
Starla menelan Salivanya sambil mengepalkan tangan, ia takut dan khawatir ArXy akan melakukan hal di luar batas secara mereka bukan suami istri lagi.
"Jaga sikapmu, jangan sampai teriakanku membangunkan Chia!" ancam Starla.
"Tidurlah, aku lelah," ucap ArXy yang kemudian berlalu begitu saja kembali kearah sofa. Ia bersikap seolah tak terjadi apapun padahal jelas jantung Starla hampir copot di buatnya.
.
.
Sepanjang malam wanita itu tak bisa tidur, ada rasa tak nyaman dalam dirinya karna takut. Ia tak percaya pada pria yang kini terlelap di sofa setelah tadi sempat melakukan hal di luar dugaannya. Selama jadi istri ArXy ia tak pernah di perlakuan seperti tadi, di kungkung seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaan Starla yang ketakutan.
Cukup hanya rasa cinta yang masih ada dalam hatinya meski tak sehebat dulu, karna rasa percaya dan nyaman sudah tak bisa ia pelihara sejak hari dimana dunianya hancur dalam satu waktu. Starla membatasi dirinya bersentuhan dengan ArXy karna ia menganggap pria itu harus hindari karna bagaiamana pun orang tersebut pernah menggoreskan luka yang teramat luar biasa sakitnya, berbeda dengan Arlan yang semuanya ia percayakan pada pria itu.
"A--ku, belum!"
"Bisa kita bicara, ada yang ingin ku katakan padamu," pinta ArXy yang ternyata sudah duduk meski tak menoleh kearah ranjang.
Starla diam beberapa saat, ia juga harus memastikan Chia tak bangun saat ia mengurai pelukannya nanti. Hingga Lima menit berselang akhirnya ArXy dan Starla kini duduk di satu sofa yang sama dengan jarak yang cukup untuk menjadi pemisah.
"Bisakah tetep bersama Chia?"
__ADS_1
"Aku sudah mulai bekerja minggu depan. Tapi akan ku usahakan tetap datang menemuinya," jawab Starla pelan sambil menunduk.
"Dia membutuhkanmu."
Starla menggangguk paham, tanpa dunia mengatakan hal tersebut ia tahu jika kini Chia sulit lepas darinya, ia hanya mengerti saat di awal perpisahan karna setelahnya akan sama saja seperti anak yang lainnya yang akan tetap merengek ingin bertemu jika sudah rindu.
"Tapi aku harus pikirkan diriku juga, aku sebatang kara dan tak punya siapapun untuk ku andalkan, perutku tak akan kenyang dengan hanya makan angin," cetus Starla agar pria di dekatnya itu mengerti jika hidupnya butuh perjuangan.
Braaak..
Satu Card unlimited di lempar ke atas meja oleh ArXy dan itu membuat Starla bingung maunya pria tersebut.
"Apa?" tanya Starla.
"Bekerjalah denganku, kamu bisa makan dengan kartu sampai kamu muntah," jelas ArXy masih dengan mode angkuh se angkuh angkuhnya.
"Bekerja denganmu? kerja apa?" tanya Starla lagi.
.
.
__ADS_1
"Seperti yang selama ini kamu lakukan bersama Chia."