Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
episode. 6


__ADS_3

Helmi hanya berfikir kenapa wanita itu di terima menjadi karyawan. Helmi merasa Tris sedikit ceroboh. Otak cerdas Helmi langsung bekerja dia mengambil tablet untuk melihat cctv. Tangan Helmi langsung berhenti, dia memperhatikan Tris dari cctv dan mengamatinya turun dari tangga, dan melihat Tris menuju ruang desainer group D.


"Tuan Nona tadi dari divisi desainer group D."


"Hmm."


Rehan menjepit dagunya dan berpikir sesaat.


"Cari tau namanya siapa."


Helmi menelan ludahnya dia tidak percaya bahwa tuannya akan menyelidiki nama seorang wanita yang baru saja bertemu denganya. ' Apakah cinta pada pandangan pertama itu benar adanya?'


"Baik tuan."


Helmi memutar nomor telepon divisi desainer group D.


"Halo." Suara yang di buat-buat sedikit manja membuat Helmi mual.


Helmi sudah tau itu suara siapa. Suara nyonya Lori.


"Sebutkan nama-nama bawahan mu."


"Siapa ini?" Nyonya Lori langsung mengubah suaranya menjadi sedikit tegas.


"Sebelum mengangkat telepon apa kau tidak melihat nomor yang tertera?" Helmi ingin sekali mengumpat, berani-beraninya kepala divisi itu bekerja tidak profesional.


"Oh my God. Maaf..maaf Tuan. " Lori berkeringat dingin setelah memperhatikan angka yang tertera. Nomor dari ruangan CEO. Akibat dirinya terlalu sibuk melihat sketsa, dia tidak terlalu memperhatikan nomor penelepon. ' Mati aku tuan Helmi sama tiran nya dengan Tuan Rehan.'


"Nama-nama anggota saya, Amel, Ricky, Jesika dan ada baru masuk karyawan baru yaitu Tris tuan."


"Tris apa?"


"Itu.. Bentar Tuan saya tanya dulu."


Helmi menggeram marah bisa-bisanya dia di suruh menunggu.


"Tris.. Nama kepanjangan Tris apa?"


Ibu Lori memanggilnya sedikit berbisik takut didengar orang di sebarang sana.


"Tris Walker Nyonya." Tris sedikit binggung. 'Apa nyonya Lori lupa jelas-jelas nama-nama kami ada di layar yang di hadapannya."

__ADS_1


"Maaf tuan. Tris Walker nama anggota baru saya tuan."


sebelum menerima jawaban dari seberang sana telepon itu sudah terputus.


"Kenapa nyonya Lori?" Amel yang lebih peka melihat perubahan wajah nyonya Lori.


"Tuan Helmi menanyakan nama-nama kalian, aku tidak tau untuk apa."


"Kenapa nyonya ketakutan begitu?" Jesika bertanya datar.


"Itu, itu karena aku tidak melihat nomor si penelepon jadi tuan Helmi marah."


Jesika memutar bola matanya sementara Amel hanya bisa menghela nafas.


"Siapa tuan Helmi itu kak." Tris sedikit penasaran .


"Kamu tidak tau siapa tuan Helmi? Cihh..Jangan bilang kau masuk dari jalur belakang." Jesika semakin tidak suka.


Tris menggeleng dia tidak tau siapa itu tuan Helmi. ' Dia juga belum tentu tau aku siapa.'


"Tuan Helmi asisten Tuan Rehan Tris." Amel menjawab dengan suara lembut.


"Oh." Mulut Tris membulat. ' Jadi laki-laki tadi yang namanya Helmi? Kenapa tidak telmi saja lebih cocok dengan karakternya. Tapi ngomong-ngomong ngapain dia menanyakan nama lengkap ku. What the hell, jangan bilang dia benar-benar memecat ku gara-gara masuk kedalam lift CEO.' Tris mengepal tanganya.


'Kak Amel ini cocok sekali jadi detektif.'


"Tidak kak aku hanya menghapal nama asisten tuan Rehan jadi aku bisa lebih waspada kedepan."


"Bagus itu kau harus lebih hati-hati jika bertemu dengan dua sosok itu. Jangan sampai mereka bertemu denganmu."


"Memang kenapa kak?"


"Karena kau masih karyawan baru dan masih magang. Kau tidak pantas bertemu mereka." Jesika berucap dengan sombong.


Tris menelan salivanya.' Apa yang terjadi jika mereka tau bahwa aku sudah bertemu dengan Rehan dan asistennya dan sialnya aku memasuki liftnya.'


Tris tidak menyangka dunia kerja sedikit merepotkan, apalagi hanya perkara lift. Bukan hanya lelah dalam bekerja tapi batin juga harus di uji secara mental. Baru perdana masuk kerja Tris sudah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Selama ini Tris merasa dunia kerja itu sangat asyik dan di dambakan semua orang. Dulu Tris selalu mengagumi para tetangganya yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Penampilan mereka sangat menarik dan juga selalu wangi. Tris selalu berharap suatu saat dia ingin seperti mereka . Ternyata setelah dia terjun sendiri rasanya sungguh nano-nano.


Jam menunjukkan sudah waktunya pulang. Tris membereskan bawaannya dan merapikan meja kerjanya. Jesika sudah duluan melenggang pergi padahal nyonya Lori masih ada. Sungguh wanita itu tidak sopan. Tris penasaran Jesika itu siapa.


'Apa dia putri orang kaya?'

__ADS_1


"Duluan ya semuanya." Lori menyapa sebelum keluar .


"Hati-hati nyonya Lori." Tris dan Amel menunduk hormat.


"Kak Amel, kenapa kak Jesika duluan pulang?" Mulut Tris tidak sabar lagi.


"Dia memang selalu seperti itu Tris. Kamu juga jangan terlalu memasukkan kehati jika dia berbicara ketus. Jesika memang sedikit sombong."


"Apa dia putri orang kaya kak."


Amel mengangguk walaupun dia sedikit tidak yakin.


"Mungkin dia putri orang kaya Tris. Jesika dulu satu sekolah dengan Tuan Rehan. Mereka katanya cukup akrab."


Tris mengerutkan kening. ' Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan Rehan memiliki teman seperti Jesika. Bukankah nenek Elvi bilang bahwa Rehan tidak dekat dengan wanita? Jadi mana yang benar. Jika aku menanyakan nenek, nenek sudah dialam lain. Takutlah aku jika dia tiba-tiba datang menemui ku sebagai hantu.' Tris langsung merinding. " Kenapa hening?" Tris baru menyadari bahwa dia sendiri di ruangan itu.


"Kak Ameeeelll...." Tris berteriak sambil berlari kencang. Amel menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang melengking. Amel melihat Tris yang berlari.


"Tris kau kenapa?"


'Kak Amel masih bertanya aku kenapa? Kak Amel walaupun pintar dia juga bodoh.'


"Kak Amel kenapa meninggalkan aku sendiri."


"Terus aku harus menunggu mu?"


"Pacarku sudah menunggu di bawah sejak tadi, kau melamun jadi aku pergi." Amel merasa tidak ada yang salah.


Tris cemberut dia meninggalkan Amel begitu saja. Amel geleng kepala melihat sifat Tris.


' Tris memang masih muda jadi wajar dia memiliki sifat kekanak-kanakan.'


Tris berjalan menuju halte klakson mobil menghentikan langkahnya. "Tris masuk ke mobil kita pulang sama, kakak baru saja melakukan sesi wawancara di perusahaan Sky Group." Sera berbicara lembut kepada adik bungsunya.


Tris tidak perduli, dia melanjutkan langkahnya.


"Tris kau masih marah sama kakak?" Sera mengikuti Tris dari belakang.


'Hanya orang gila yang tidak marah jika dia hampir terbunuh.'


"Uangku masih ada untuk membayar ongkos."

__ADS_1


Tris memasuki bus, dia tidak perduli.


Sera menghembuskan nafas, menatap bus yang sudah berjalan. "Tris masih sangat membenci ku." Sera berguman dalam hati. Dia juga memiliki trauma sendiri. "Kak janji jika kakak menjadi nyonya Sky kakak akan menyekolahkan mu ke kampus favorit yang kau dambakan itu Tris." Sera yang tau cita-cita Tris berniat menyekolahkan Tris kejenjang yang lebih baik lagi. Di negara B ada kampus khusus sekolah desainer dan pengajarnya para desainer legendaris, adiknya sudah lama ingin melanjutkan pendidikan disana.


__ADS_2