
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek
Clarissa masuk kedalam ruangan Direktur Utama selang kurang lebih 5 menit setalah ArXy datang. Wanita itu langsung memberikan senyum terbaiknya seperti biasa. Arlan yang sedang ada urusan di luar menyerahkan beberapa pekerjaan pada Sekertarisnya untuk segera di serahkan pada Tuan Muda ArXy Rahardian Wijaya.
Lebih dari 60 menit mereka membahas tentang pekerjaan sampai akhirnya ArXy bosan dan ingin pindah ke sofa agar lebih nyaman, tak lupa ia meminta lebih dulu pada Clarissa minuman soda dan beberapa cemilan di lemari pendinginnya.
"Sayang, apa kamu akan mendampingi istrimu nanti saat melahirkan?" tanya Clarissa, ia duduk di samping ArXy hingga roknya yang setengah paha semakin terangkat. Dan bagian putih mulus itu kini jelas didepan mata pria dewasa yang selalu menekan hasratnya tersebut.
"Hem, aku akan jadi orang pertama yang menggendong anakku," sahut ArXy, ia tersenyum saat sadar jika dalam hitungan hari keturunannya akan lahir dan akan ia dekap sepenuh hati.
"Itu berarti kamu akan ada di ruang persalinan?"
"Harusnya sih seperti itu, kenapa? lanjutkan pekerjaanmu saja sana," titah ArXy kembali ke mode atasan dan bawahan.
"Malas! Mood ku langsung hilang sekarang, kerjakan saja olehmu sendiri!" cetus Clarissa kesal, ia merajuk layaknya mereka pasangan kekasih padahal hanya sebatas teman biasa jika di luar jam kantor karna bagi ArXy tak ada satu wanita pun yang istimewa untuknya.
__ADS_1
"Jangan begitu, Arlan belum datang dan ini masih banyak sekali," omel ArXy.
Tapi bukan Clarissa namanya jika ia tak tetap keras kepala tak ingin lagi menyentuh semua berkas yang harus di cek dan dan di tanda tangani oleh ArXy secepatnya karena ada meeting penting di jam usai makan siang nanti.
ArXy pun mau tak mau merayu meski hanya di janjikan akan makan bersama nanti malam, tapi Clarissa yang sepertinya sangat kecewa malah bangun dari duduknya. Dan, heels nya yang sangat tinggi itu malah tak sengaja menginjak pulpen yang jatuh ke lantai hingga ia sedikit tergelincir lalu jatuh tepat ke pangkuan Si pria beristri tersebut.
"Aw, hati-hati, Ris!" pekik ArXy yang kaget dengan jatuhnya Sang Sekertaris secara tiba-tiba.
Bagai ketiban rejeki, bukannya bangun Clarissa malah mengalungkan tangannya di leher ArXy sambil membisikkan sesuatu. Dan di saat yang sama juga ada seorang wanita berbadan dua kini tengah berdiri di ambang pintu.
"Kalian sedang apa?" tanya Starla sambil memegang perutnya yang besar.
"Kak, ArXy!" teriak Starla, saking kesalnya ia sampai harus meremat dompet milik suaminya yang ia bawa untuk di berikan.
ArXy yang sama terkejutnya dalam sepersekian detik hanya diam, tapi belaian tangan Clarissa di pipinya seolah menyadarkannya jika ada drama yang harus ia mainkan dan inilah kesempatan emasnya.
"Hey, matamu dimana?, sudah jelas melihat masih saja basa basi?" ArXy malah bertanya dengan nada sinis.
__ADS_1
Clarissa yang di minta untuk bangun dari atas pangkuan Sang bos pun malah tersenyum meledek. Baginya, Starla tak lebih dari sebuah boneka yang akan di hempas dalam waktu cepat atau lambat.
"Katakan, katakan padaku jika yang aku lihat tak sama dengan yang ku pikiran, Kak!" mohon Starla meski ia sangat kecewa dan sakit hati.
Tapi, jika saja pria yang kini ada di depannya itu mau sedikit saja merayu, mungkin akan ada maaf lagi yang Starla berikan meski ia tahu tengah di bohongi dengan cara terbuka oleh pria berstatus kan suaminya tersebut.
"Aku tahu, kamu bukan wanita bodoh. Didalam ruangan tertutup seperti ini hanya ada kami berdua dengan posisi seperti tadi, memang kamu pikir kami sedang apa? harus kah ku perinci semuanya? atau kamu mau aku melakukan reka ulang adegan kami yang barusan, hem?" tawar ArXy, ia tersenyum sinis dengan tangan melipat di dada.
Hancur, sakit, terluka dan kecewa semua jadi satu, rasanya begitu sesak sampai untuk menjawab saja bibir Starla tak mampu bergerak lagi.
Tangisan pilu dan pukulan kecil pada bagian dada si calon ibu itu tak membuat ArXy kasihan padahal jelas ada anaknya didalam tubuh wanita yang sedang sesegukan tersebut.
"Nona!" seru Arlan yang kaget saat melihat ada tiga orang di ruangan DirUt yang masing-masing memasang ekspresi wajah yang berbeda.
.
.
__ADS_1
Antar dia pulang, dan pastikan jangan pernah mengangguku lagi dengan datang kemari.