Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Mama dimana?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂


"Aunty peri!"


Tak hanya ArXy, nyatanya Amih pun di buat penasaran sampai tak bisa tidur hanya karna hal tersebut, rasanya ia tak sabar menunggu esok siang untuk bertanya pada Bu Hamidah tentang sosok yang di ceritakan Chia pada papanya.


Amih cukup kenal dekat dengan sang pemilik yayasan tersebut, ia pun hapal dengan ibu pengasuh juga yang lainnya termasuk anak-anak yang sering bermain dengan Chia, jadi tak salah memang jika ia percaya menitipkan cucunya disana.


"Aunty, Chia gak akan panggil orang lain dengan panggilan tersebut kalau dia gak merasa dekat dan nyaman," gumam Amih sambil menatap langit langit kamarnya, kini ia sudah berbaring di atas ranjang bersama baby koala kesayangannya.


Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di otaknya sampai tak terasa wanita yang memiliki nama lengkap Asmara Kasih itu ikut terbuai mimpi juga.


.


.


.


Chia yang sudah bangun langsung di gendong oleh papanya ke sofa, di dudukkannya anak itu di atas paha untuk menceritakan lagi siapa sebenarnya Aunty peri, sebenarnya sejak kemarin ArXy ingin cepat tahu, tapi ada Clarissa disana.


"Apa?" tanya Chia yang seolah peka dengan apa yang di rasakan papanya.


"Bisa cerita sama papa siapa Aunty peri?" tanya ArXy.


"Onty peli cantik, Chia suka halumnya, Chia suka matanya, Chia suka Onty peli peluk Chia," jawab gadis itu antusias saking senangnya menceritakan sosok yang masih misteri bagi ArXy.


"Ibu pengasuh dari panti, atau kakak disana?" tanya ArXy semakin penasaran, ia takut dan khawatir anaknya di perlakukan senyaman itu oleh orang asing.


"Bukan, Chia nemu disana. Onty peli iyup luka Chia," ceritanya lagi sambil menyodorkan jarinya yang kemarin sedikit terluka.


"Ini kenapa?"


"Chia jatuh sama gelas," sahutnya yang langsung menarii tubuh mungil putrinya.

__ADS_1


Hati ArXy semakin gelisah tak menentu, ia bersumpah akan menghabisi siapapun yang berniat tak baik pada putrinya, KhayXyLa NauRahardian Wijaya adalah pelangi bagi seorang pria yang tak pernah ada cinta dalam hatinya.


"Chia gak boleh dekat dengan orang asing ya, Sayang."


"Nda, Papa! itu Onty peli nya Chia, malen bobo sama Chia tapi--, tapi pas Chia bangun Onty pelinya hilang, Onty peli gak janji janji sama Chia," ucapnya yang kini malah menangis.


Suara isakan lirih Chia sungguh menyakitkan bagi ArXy yang seakan dadanya ikut sesak dengan hati mencelos. Sedangkan ArXy tak bisa berbuat banyak selain menenangkan dengan janji yang lain.


"Chia mahu Onty peli aja, Chia nda mahu boneka, boneka nda bisa usap usap Chia mau bobo kaya Papa."


"Chia mau Mama?" tanya ArXy.


"Mahu," jawabnya cepat.


"Kalau tante Clarissa jadi Mama Chia mau gak?"


Anak itu diam sesaat, ia menatap lekat kedua manik mata sang papa yang sama juga tertuju padanya. Dan ArXy langsung mendapat jawaban dari gelengan kepala putrinya.


"Napa, tante galak? Chia Mamanya mana?"


Deg..


Satu pertanyaan yang sebenarnya paling di hindari itu akhirnya terlontar juga dari bibir anak malang korban keegoisan orang tuanya, ArXy yang bersikeras tak cinta sedangkan Starla yang lelah mengharap cinta padahal ia berhak mendapatkan itu. Mudah padahal jika ArXy mau mencari sosok Mama yang di tanyakan putrinya itu, tapi rasa enggan menoleh ke belakang membuatnya benar-benar menutup cerita masa lalu, keras hatinya seakan di dukung saat Starla meminta untuk tak lagi saling mencari tahu.


"Nama Chia ada kok," jawab ArXy, sejahat-jahatnya seorang ArXy Rahardian Wijaya ia tak akan mengatakan mantan istrinya itu tak ada.


"Dimana? kok gak sama Chia?"


"Mama lagi sekolah, Chia mau sekolah juga gak?" tanya ArXy sedikit mengalihkan pembicaraan.


ArXy tahu, karna Starla sendiri yang memberi tahu niat tersebut tapi dimananya tentu ArXy tak pernah mencari tahu karena bukan urusannya lagi sejak ia menjatuhkan talak 4 tahun lalu.


.

__ADS_1


.


.


Lain di ibu kota lain juga di kota X tempat Starla kini tinggal, sepulangnya dari ziarah ke makam orang tuanya dan mampir sebentar ke panti asuhan semua terasa berbeda, hatinya terus gelisah seperti ada yang merindukan dan memanggilnya terus menerus tapi entah siapa Starla justru tak bisa menebak kecuali bayangan gadis kecil bernama XyLa.


"Huft, anak itu lagi" gumamnya saat membuka mata.


Senyum si cantik bermata bulat itu seakan tak bosan terus menari di otaknya yang seharusnya sibuk menyusun rencana masaa depan.


Starla bangun dari baringnya, ia keluar dari kamar dan melihat Arlan masih di ruang tengah depan TV.


"Sudah bangun?" tanya Arlan sambil memberikan senyum dan uluran tangan.


"Gak tidur, gak bisa," jawab Starla, ia menerima uluran tangan itu dan duduk di segelah Arlan.


Posisi duduk yang cukup dekat itu membuat Arlan langsung meraih bahu satu-satunya wanita yang dekat dengannya itu. Ia banyak menawarkan makanan, cemilan dan jalan-jalan tapi semua di tolak oleh Starla.


"Kamu kenapa? apa kita kerumah sakit biar tubuhmu di periksa?" perhatian pria itu kadang menang sering di atas rata-rata sampai Starla kadang lucu sendiri.


"Aku sehat loh," protesnya kesal.


"Lalu kamu mau apa? katakan sekarang biar ku carikan."


Lama Starla diam untuk berpikir tapi semakin banyak yang terlintas di otaknya justru hatinya semakin kuat menginginkan satu hal yang ia sendiri tak punya alasannya.


.


.


.


Aku ingin pulang lagi..

__ADS_1


__ADS_2