
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aunty peri?" tanya ArXy bingung.
Chia mengangguk, menoleh sambil tersenyum dan ArXy tahu senyum itu begitu tulus memancarkan kebahagiaan.
"Siapa?"
"Nda tahu, Chia nemu di panti," jawabnya yang semakin membuat ArXy bingung.
ArXy dan Clarissa saling pandang lewat kaca spion, seolah memiliki pertanyaan yang sama tentang siapa Ibu peri yang di maksud oleh Chia karna ArXy memang sangat jarang sekali kesana kecuali dan mengantar dan menjemput.
Perjalanan di lanjut kan ke sebuah Mall, bagi yang tak tahu mungkin akan menganggap mereka bertiga adalah keluarga kecil yang bahagia karna ada Clarissa yang bergelayut sedangkan Chia ada dalam gendongan.
"Chia mau beli apa?" tanya Clarissa saat masuk kedalam toko mainan yang pastinya bak surga dunia bagi anak-anak.
"Hem, apa ya, semua dah ada," jawabnya bingung.
Sudah berkali-kali ArXy merayu anak itu turun, tapi Chia tetap betah dalam gendongan.
"Disini nda ada jual Mama?" tanya Chia dengan wajah dan mata saling menatap kearah ArXy.
"Gak ada, Sayang."
"Kalau Onty peli?"
ArXy kembali menggelengkan kepala, rasanya begitu sulit mewujudkan dua hal tersebut untuk putri semata wayangnya meski Clarissa sudah menawarkan diri.
"Nanti kita cari di tempat lain ya," sahut ArXy.
Chia pun akhirnya mau di turunkan dari gendongan, ia memilih beberapa boneka dan mainan lainnya, sedangkan Papa dan si tante galak hanya mengikuti kemana langkah kaki anak gadis cantik itu dari belakang.
"Kamu beli apa, Ris?" tanya ArXy setelah melakukan transaksi pembayaran dan meminta semua barang langsung di antar kerumah seperti biasa.
"Aku gak butuh apa apa, Sayang. Kita disini untuk Chia," sahutnya sambil tersenyum, padahal jiwa belanjanya sedang meronta ronta.
__ADS_1
"Terimakasih."
Salah satu Resto di pilih Chia untuk memanjakan perutnya yang sudah sangat lapar, ada beberapa menu yang di pilih bocah tersebut, entah habis atau tidak tapi biasanya ArXy lah yang selalu melahap sisanya.
"Papa, suapin ya," pinta Chia.
"Biar tante aja, gimana?" potong Clarissa langsung sambil menawarkan diri.
"Nda, papa aja!" tolaknya tegas sambil merengut.
Jangankan Clarissa, amihnya saja kadang di tolaknya mentah-mentah jika ada ArXy, semua sudah biasa pria itu lakukan jadi sangat sulit rasanya untuk mengambil alih semuanya. Suapan demi suapan kini masuk kedalam mulut mungil Chia sambil ArXy makan juga makannya, ini terlalu manis untuk ukuran ayah dan anak tapi singguh menyakitkan bagi yang tahu alasan hilangnya sosok ibu diantara mereka.
"Ada yang mau dibeli lagi??" tawar ArXy.
Chia menggelengkan kepala karna rasa kenyang kantuk pun datang. Ketiganya pun memutuskan untuk pulang saat Clarissa pun melakukan hal yang sama, sebelum pulang ke kediaman Rahardian, ArXy mengantar dulu wanita yang kini duduk di belakang lagi karna Chia tetap tak mau duduk di pangkuan tante galaknya.
Hanya obrolan biasa yang ArXy dan Clarissa bincangkan selama perjalanan karna tak mau mengganggu Chia yang kini sudah terlelap.
"Aku gak bisa mampir ya, Ris," ucap ArXy saat mobil mewahnya berhenti didepan rumah Clarissa.
"Iya, tapi lain kali kamu harus mampir ya, Sayang."
.
.
.
Chia yang sudah di ganti pakaiannya dengan pelan pelan kini semakin nyenyak terbuai mimpi, dan kini gantian ArXy lah yang tinggal membersihkan diri. Tapi, ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya saat ia baru saja ingin naik ke atas ranjang. Ia akan di buat tak bisa tidur jika sampai tak. menemukan jawabannya juga malam ini.
Dan Amihnya pun menjadi tujuannya sekarang untuk ia menanyakan beberapa hal.
Tok... tok.. tok...
"Mih, udah tidur belum?" teriak ArXy di depan pintu kamar orangtuanya.
__ADS_1
Cek lek
"ArXy, ada apa?" tanya Amih kaget karna ini sudah hampir jam 11 malam dan pikiran wanita paruh baya itu tentu langsung tertuju pada cucunya.
"Ada yang maun kutanyakan."
Amih mengangguk sambil keningnya sedikit mengernyit karna penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan putranya tersebut.
"Masuklah," titah Amih.
ArXy tersenyum saat melihat Apihnya ternyata sudah mendengkur halus.
"Tadi Chia minta Aunty peri ke aku, aku gak paham sama ceritanya selama di panti asuhan tadi, Amih tahu siapa yang di maksud Chia?" tanya ArXy.
Aunty peri yang di terus di bicarakan oleh putrinya sungguh membuat pria itu sangat penasaran, padahal biasanya itu jadi hal sepele bagi ArXy yang kadang masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"Amih gak tau, baru dengar juga. Tapi semua ibu asuh disana di panggil Ibu dan kakak bukan Aunty dan Chia juga selama ini tak sembarangan memanggilnya orang lain dengan sebutan itu kan?" Amih yang juga penasaran sampai ikut berpikir keras.
"Hem, itu juga yang kurasa, karna sampai sekarang saja Clarissa masih di panggilnya dengan sebutan Tante," Jawab ArXy yang membuat perbandingan padahal Clarissa sudah mengenalnya sejak bayi.
"Biar Amih tanyakan besok pada Bu Hamidah tentang Aunty peri yang di maksud Chia," ucap Amih sambil mengelus lengan putranya karna posisi mereka kini duduk bersebelahan di sofa.
"Iya, Mih. aku hanya takut ada orang kurang baik dekat dengan Chia."
"Kamu tak usah khawatir, Chia akan selalu aman. Tapi, boleh Amih tanya sesuatu padamu?"
Kini gantian ArXy lah yang menautkan kedua alisnya, ia bisa menebak apa yang akan di tanyakan wanita paruh baya tersebut.
"Kamu dan Clarissa punya hubungan apa?"
"Tak ada, Mih. Tapi, jika Chia bisa menerima Clarissa aku akan menikahinya," jawab ArXy.
"Demi Chia maksud mu?" tanya Amihnya lagi yang dijawab anggukan kepala.
Amih yang kaget sampai membulatkan kedua matanya tak percaya dengan rencana konyol putranya tersebut tanpa kompromi lagi, jika hanya menyangkut ArXy mungkin keluarga tak akan turun tangan, tapi tidak jika ada Chia di dalamnya.
__ADS_1
Plaaaaak
"Dasar bodoh, Mama Chia masih hidup dan kamu malah memilih wanita lain, saat Mak Othor bagi bagi OTAK kamu mojok dimana , hah?"