Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Season 2# 44


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rasa mual dan muntah tak di rasakan lagi oleh Starla, kini keluhannya hanya di tubuh yang tak lagi bisa bergerak sesuka hatinya termasuk berjalan dengan cepat, beruntungnya Chia sudah sedikit lebih paham jadi saat ia tak di antar ke sekolah anak itu tak lagi merajuk manja pada mamanya.


"Kasih papa aja, Mah, dede bayinya, berat ya?" kata Chia dengan sangat polosnya.


Uhuk.. uhuk..


ArXy yang mendengar itu tentu langsung terbatuk karna ia memang sedang memakan cemilan di ruang tengah sambil menemani Chia bermain usai makan siang, libur akhir pekan ini mereka tak punya rencana apa-apa karna hujan deras sejak pagi.


"Mana bisa gitu, Chia." Starla menjawab sambil mengusap kepala puterinya tersebut.


KhyXyLa NauRahardian Wijaya kini menjadi Si sulung, ia tak lagi menjadi anak tunggal semata wayang sejak dokter mengatakan jika ada calon bayi yaitu adiknya di dalam perut Sang Mama.


Ia yang memang sangat berharap dan mendamba tentu sangat senang saat mau menjadi seorang kakak seperti harapannya jauh sebelum orang tuanya menikah lagi, tak hanya satu karna nyatanya Chia ingin 10 adik kembar sekaligus.


"Tapi Mama keberatan banget, Chia kasihan."


"Gak apa-apa, Sayang. Memang semua Mama seperti ini," sahut Starla memberi pengertian.

__ADS_1


"Jadi dede bayinya gak bisa pindahin ke Papa?" tanya Chia lagi yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.


"Terus papa ngapain?"


"Papa cuma bikin, pas udah jadi biar Mama yang besarin dalam perut," timpal ArXy.


Starla yang mendengar penjelasan ArXy langsung memicingkan matanya. Ia takut anaknya semakin bertanya ke hal-hal yang lebih jauh karna Chia type anak yang kadang kurang puas dengan jawaban yang di terimanya tersebut.


ArXy yang sadar dengan tatapan tajam istrinya hanya tersenyum simpul, untuk mencari aman dan ranjangnya tetap panas ia pun kabur ke lantai bawah, dan tak di sangka disana ia malah bertemu Skala dan Qia yang baru saja sampai.


"Dari mana lo ujan ujan?" tanya ArXy, entah di sengaja atau tidak karna sepupunya itu sama sekali tak mengabari.


Sepeninggal Si gadis bawah pohon, keturunan Rahardian itu langsung ke teras halaman belakang, meski masih hujan deras tapi itu yang membuat mereka suka karna akan banyak kenangan yang terlintas kembali.


Dua cangkir kopi dengan beberapa cemilan sudah ada di atas meja kayu, sedangkan ArXy dan Skala masih diam memandangi hujan.


"Inget MiMoy sama PapAy ya, Mpet," ucap ArXy tiba-tiba.


"Iya, lagi pada ngapain ya mereka, kok gue penasaran banget," sahut Skala tanpa menoleh.

__ADS_1


"Cucunya kuncen akherat, tapi Phiunya doang yang di masukin Culuga," kekeh ArXy lagi yang langsung ingat dengan keponakan ajaibnya itu.


"Lo juga calon dong," ledek Skala sambil tertawa.


"Gak bisa bayangin kalau Phiu, Mhiu, Ayah, ibu, Amih, Apih, Mama sama Papa Awan gak ada ya."


"Jangan di bayangin, serem gue." kata ArXy yang malah brigidik ngeri.


"Inget gue dulu ya," kata Skala yang memori ingatannya sedang berputar tentang kenangan di rumah utama.


"Inget apa?"


.


.


.


Gue di gendong PapAy, terus nabrak kursi, si kursi di paksa buat sungkem minta maaf...

__ADS_1


__ADS_2