
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bercerai katamu?!"
Zevanya yang kaget sampai terlonjak saat suara Tuan Max menggelegar di ruang kerjanya.
Entah ia punya keberanian dari mana hingga bisa meminta itu dari suaminya, yang Zevanya sadar ia punya hak untuk memilih saat di ingatkan perihal umur barusan.
"Aku--, tak ada gunanya untuk, Tuan. Aku hanya beban yang harus tuan beri makan setiap hari, sedangkan tak ada yang aku kerjakan untuk membalas itu semua, Tuan," ucap Zevanya yang masih menundukkan kepala.
"Kau ingin berguna?" tanya Tuan Max dengan dengan kedua alis mengkerut.
"I--iya, Tuan. Setidaknya untukku sendiri," jawab Zevanya yang kali ini sudah memejamkan kedua matanya, ia membayangkan malam ini akan tidur di ruang bawah tanah dan makan satu kali sekali, namun jika beruntung Irwan akan memberi lebih.
"Memang kau bisa apa?" ledek pria paruh baya itu sambil sedikit mencibir. Tentu saja, Tuan Max tahu bagaimana pertumbuhan Zevanya selama ini meski terkesan tak acuh dan galak, karna di rumah nya ada kepala pelayan yang akan melaporkan semua yang terjadi di rumahnya selama sang Tuan besar tak ada.
"Justru karna aku tak bisa apa-apa, aku ingin belajar banyak hal," jawab Zevanya, seingatnya ini adalah perbincangan terpanjang yang ia lakukan dengan sang suami, sebab biasanya ia hanya akan mendapat makian dan suara barang pecah saja.
__ADS_1
"Kau ingin bisa apa, hah?" meski tak selalu kasar dalam ucapan, setidaknya Tuan Max tak pernah main tangan apa lagi memperlakukan Zevanya seperti pembantu atau budaknya. Ia tetap di layani hanya saja memang tak pernah di anggap.
"Aku ingin bisa masak, Tuan."
.
.
.
Bukan penguasa namanya jika ikut pusing memikirkan apa yang di inginkan oleh Zevanya, tentu semua yang di mau gadis itu ia limpahkan pada Irwan sang tangan kanan yang bisa dan pasti dapat di percaya.
"Tentu, memang kamu ingin bisa masak apa?" tanya Irwan yang merasa lucu dengan wanita di depannya itu.
"Hem, apa saja, setidaknya aku tak tahu tinggal makan saja," jawabnya yang malu sendiri sembari memainkan tangan yang menurutnya tak berguna itu.
Jelas, karna Zevanya selama ini hanya menyiram bunga dan juga memetik nya untuk di simpan di pot, kebun itu adalah milik Nyonya Talitha yang kini ia teruskan untuk merawat semuanya, untung saja semua itu mudah jadi Zevanya punya kegiatan yang bisa ia lakukan kecuali membuat suaminya kesal.
__ADS_1
"Kamu bisa ikut Koki masak di dapur, nanti saya yang akan perintah padanya."
Baru beberapa detik Irwan berucap, Zevanya langsung menggelengkan kepalanya dan itu berhasil membuat Pria tersebut mengernyitkan dahi tak paham dengan maunya sang nona muda.
"Lalu apa?" tanya Irwan.
"Aku tak ingin masak disini, aku ingin kursus memasak," bisik Zevanya, padahal tak mungkin ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kursus masak? maksudmu, keluar?"
Zevanya langsung mengangguk kan kepala, ia semakin penasaran dan antusias saat Irwan meraih ponselnya dari saku jas, entah siapa yang di hubungi pria itu yang jelas Zevanya sudah siap membuka telinga lebar lebar untuk mendengar apapun yang terlontar dari mulut sang tangan kanan suaminya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Hallo, selamat Siang. Apa benar saya sedang berbicara dengan Nyonya Starla Rahardian Wijaya?