Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Pria Simpanan Istri Mafia #05


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hari ini, entah kenapa Tuan Max masih saja ada di rumah, padahal biasanya usai sarapan ia tak pernah lagi terlihat batang hidungnya hingga hampir larut malam. Hanya dua kali Zevanya bertemu dengan sang suami, sekalipun lebih dari itu ia selalu menganggap itu adalah hari sialnya.


"Nona, Tuan memanggilmu ke ruangannya," ucap Tari yang entah kapan ada di depan Zevanya yang sadari tadi melamun.


"A--apa?" pekik gadis itu tak percaya, ia bahkan sedang membayangkan yang tidak tidak kali ini. Bukan tentang hal mesum karna itu tak mungkin terjadi.


Tapi, hukuman apa yang akan di Terimanya meski kadang Zevanya tak pernah melanggar aturan Tuan arogan tersebut termasuk keluar Satu langkah pun dari rumah ini.


"Iya, Tuan ingin Nona kesana. Ayo, cepat," titah si pelayan itu lagi sedikit memaksa karna ini perintah dari orang yang mengganjinya.


"Tapi kenapa? lagi pula kenapa ia masih dirumah di waktu sesiang ini?!" pertanyaan bodoh, apapun yang di lakukan Tuan Max harusnya suka suka dia yang tak lain adalah si pemegang kuasa.


"Jangan tanyakan itu, Nona! aku tak punya jawabannya." Tari hanya bisa membuang napas kasar sambil menarik tangan nona mudanya. Meski banyak wanita datang silih berganti dan keluar masuk kamar sang tuan besar tapi yang punya ikatan resmi hanya Zevanya meski pernikahan itu hingga sekarang masih di bawah tangan.


.


.

__ADS_1


.


Ceklek


Zevanya masuk setelah pintu di buka oleh Irwan. Ia adalah tangan kanan Tuan Max yang kadang sering menolong Zevanya, termasuk saat gadis itu di hukum diruang bawah tanah. Ia yang hanya di beri makan satu kali sehari sering di titipkan cemilan entah Roti, kue kering dan buah buahan.


"Terima kasih, Tuan."


Irwan mengangguk dengan senyum kecil di ujung bibirnya. Kadang ia tak menyangkan Zevanya yang dulu imut, kecil dan rambut pendeknya kini berubah menjadi gadis manis tak bosan di pandang. Itu semua tentu karna cantiknya alami.


"Selamat siang, Tuan." Zevanya menyapa sopan saat sudah di depan suaminya yang selalu ia hormati layaknya Majikan.


"Du--dua puluh tahun, Tuan." jawab Zevanya terbata. Ia malah mengira jika ini adalah umur terakhir untuknya.


"Masih ingat dengan pesan mendiang istriku?"


Zevanya diam, ia ragu menjawab sebab begitu banyak pesan dan wasiat yang di lontarkan almarhumah Nyonya Talita padanya selama ia sakit hingga detik-detik ketiadaannya 5 tahun lalu.


"Hem, Nyonya--, Nyonya meminta ku untuk menjaga diri baik-baik, Tuan." Zevanya tak berani mendongak, ia juga tak mungkin mengatakan jika harus menjadi istri yang penurut untuk suaminya tersebut.

__ADS_1


"Sudah Seharusnya pernikahan ini di resmikan. Kamu sudah cukup umur untuk melakukannya."


Deg...


Rasanya, Zevanya akan lebih memilih untuk di kurung saja dibanding harus meresmikan ikatan pernikahan mereka tersebut. Itu semua tak pernah terlintas sama sekali dalam benaknya, sekalipun memang dulu Zevanya mengiyakan pesan dari Nyonya Talitha, semua tak lebih karna tak ada lagi pilihan untuknya, keadaan begitu genting hingga ia seolah sudah terhipnotis oleh takdir.


"Kenapa? kamu keberatan?" tanya Tuan Max dengan penuh selidik dan tatapan tak suka.


"Apa aku boleh memilih?" tanya Zevanya yang sangat di luar dugaan.


"Memilih? apa yang kamu pilih?"


.


.


.


Aku memilih di ceraikan, Tuan .

__ADS_1


__ADS_2