
🍂🍂🍂🍂🍂
Seperti yang Zevanya mau, ia hanya minta hal kecil yang bisa ia lakukan dalam hidupnya, meski mungkin untuk sebagian orang itu justru tak penting termasuk bagi suaminya sendiri yang terbukti tak perduli sama sekali akan keinginan istri kecilnya itu.
Kini, untuk pertama kalinya Zevanya keluar dari rumah mewah yang bagai neraka dunia baginya tersebut. Bagaimana tidak, ia di kurung tanpa tahu seperti apa dunia luar yang sebenarnya, belum lagi hanya satu orang yang biasa berinteraksi dengannya yaitu Sang pelayan, Tari.
"Ini adalah sekolah masak untuk pemula, kamu bisa belajar disini, Saya sudah menghubungi pemiliknya kemarin dan pastinya kamu dengar dan tahu itu kan?"
"I--iya, Tuan," jawab Zevanya yang tak percaya dengan hari ini, ia bahkan tak menoleh apalagi menundukkan kepala saat berbicara dengan Irwan si tangan kanan Tuan Max.
"Ayo turun, kita bertemu dengan Nyonya Starla," ajak Irwan yang di balas dengan sangat antusias oleh Zevanya.
Keduanya turun dari mobil mewah yang di bawa sendiri oleh Irwan, Zevanya yang berjalan di belakang pria itu terus mengedarkan pandangan.
"Aduh!" pekik Zevanya saat ia menabrak punggung Irwan yang sengaja berhenti mendadak.
"Tolong fokus pada jalan Anda, Nona."
"Maaf, aku sampai lupa dengan kota ini," ucap Zevanya sambil mengusap keningnya sendiri.
__ADS_1
Irwan hanya tersenyum kecil, ada alasan yang membuat Zevanya terkurung dan pastinya hanya Irwan dan Tuan Max yang tahu.
.
.
Sampai di dalam bangunan tiga lantai yang Zevanya dan Irwan kunjungi, mereka di minta duduk sambil menunggu Nyonya Starla untuk datang.
Sama seperti di luar tadi, gadis polos itu terus menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan yang ia lihat.
Sedangkan Irwan tetap memperhatikan sembari meminta maaf dalam hati karna tak bisa banyak membantu.
"Selamat siang, Nyonya. Perkenalkan, saya Irwan yang sudah menghubungi Nyonya kemarin," jelas Irwan yang sambil mengulurkan tangan namun hanya di balas dengan senyum kecil serta kedua tangan yang menyatukan di depan dada.
Irwan akan pulang jadi abu jika suami Starlatahu atau melihat istrinya di sentuh sembarangan.
"Ah, Maaf. IniX Zevanya yang sudah saya ceritakan, mohon sekiranya Nonya membantu."
"Oh, ini yang mau belajar memasak?" tanya Starla yang entah kenapa langsung jatuh cinta pada sosok gadis manis di depannya saat ini.
__ADS_1
"Iya, Nyonya. Nama saya Zevanya. Senang berkenalan dengan Anda," ucap Zevanya yang uluran tangannya di Terima dengan sangat baik oleh Starla.
Ia yang sudah suka semakin senang saat melihat sikap sopan Zevanya, belum lagi tutur katanya juga sopan dan lembut.
"Apa yang kamu minati? masakan atau kue?" tanya Starla.
"Hem, keduanya. Tapi jika di minta memilih untuk yang lebih dulu tentu saya ingin bisa masak," jawab Zevanya. Ia begitu yakin dan terlihat Sangat antusias. Meski begitu, Zevanya tetap tenang meyakinkan.
"Baiklah, bisa di mulai kapan kelas memasaknya?" tanya Starla lagi yang suka dengan kepercayaan diri Zevanya
Mendengar pertanyaan tersebut sontak membuat gadis itu menoleh ke arah Irwan. Ia tak punya kuasa untuk bertindak lebih jauh untuk mengambil keputusan.
"Kamu ingin kapan?" tanya Irwan seperti Starla.
.
.
.
__ADS_1
Lebih cepat rasanya lebih baik, Tuan.