
🍂🍂🍂🍂🍂
"Chia kenapa?" tanya Starla saat mendengar anaknya mengomel.
Siapakah orang itu?
Tentu ArXy, pria yang duduk di belakang Chia sambil menyisir rambut anaknya sedari tadi tanpa selesai padahal sudah sangat-sangat rapih. Ia terus melakukannya sambil sesekali mencari pandang kearah mantan istrinya yang terlihat jelas di layar ponsel yang di pegang Chia. Jika dia wanita beda usia sedang melakukan Video call ada saja yang di lakukan ArXy juga.
"Papa nih, sisir lama-lama, Kepala Chia pegel, Mah," adu si anak gadis yang membuat ArXy malu dan langsung bangun dari duduknya.
Starla yang entah kenapa selalu tak peka hanya menganggap semua tingkah ArXy biasa saja, ia tak pernah menyapa meski pria itu terlihat jelas olehnya ada di samping atau belakang Chia.
Dan itulah yang membuat ArXy kadang kesal sendiri karna tak juga ada kesempatan bagi mereka meski hanya menanyakan kabar.
"Ya sudah, Mama mandi dulu ya, Chia sarapan yang banyak, Ok," pesan Starla pada putrinya yang begitu cantik.
"Mama kapan sini sini? Chia sama Papa sana ya?" pertanyaan dan tawaran yang sama di layangkan lagi oleh Chia dan Starla hanya membalasnya dengan senyuman kecil serba salah.
ArXy yang mendengar anaknya itu sedikit memohon di tambahnya tak ada jawaban dari Starla langsung meminta ponselnya, kemudian menyuruh Chia ke ruang makan lebih dulu karna ada yang ingin orangtuanya itu bicarakan, bersyukur Chia adalah anak yang baik, pintar dan penurut tanpa banyak bertanya ia langsung berpamitan.
"Dengar, dia minta apa dari tadi?" sindir ArXy saat putrinya sudah benar-benar keluar dari kamar.
"Iya,. paham. Aku kan udah bilang tadi kalau aku akan kesana tapi nanti, Kak."
"Nantinya itu kapan? aku harus jawab apa kalo Chia nanya sama aku? " balas ArXy kesal.
"Chia gak mungkin nanya, kan aku udah jawab. Sudahlah, aku mau mandi."
__ADS_1
Starla yang mematikan telepon secara sepihak dan tiba-tiba itu tentu membuat ArXy sangat kesal sampai lagi lagi ia mengumpat kasar namun akhirnya ia mengusap dadanya sendiri.
"Sabar ya ganteng, demi Mama Chia," ucapnya lirih.
.
.
.
Sarapan dan pamit sudah ArXy lakukan, kini saatnya ia berangkat ke kantor karna ada beberapa meeting yang harus ia hadiri. Sampai di gedung mewah itu, ia langsung menuju ke arah lift khusus para petinggi dan tak sengaja bertemu dengan Asisten pribadinya.
"Tumben siang?" tanya ArXy saat mereka berdua sudah berada di kotak besi.
"Apa urusanmu!" cetusnya dengan nada kesal.
Entah apa yang terjadi pada Clarissa yang ArXy tahu pasti wanita itu sedang tak baik-baik saja, terlihat jelas dari wajahnya yang pucat..
Tapi, semua itu tak di pikirkan oleh ArXy meski ia penasaran apalagi saat Clarissa datang hanya membacakan semua jadwalnya pekerjaannya saja.
Semua berkas selesai di tanda tangani, kini saatnya waktu jam makan siang, ArXy yang baru keluar dari ruangannya langsung menuju ruangan Asisten tempat dimana Clarissa berada, dan betapa terkejutnya pria itu saat membuka pintu dan ternyata Clarissa tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Ris, bangun, Ris!" ArXy yang panik langsung mengangkat tubuh tinggi semampai asistennya tersebut. Ia yang panik masih menunggu bantuan datang.
Tak ada perubahan apalagi sadar meski sudah 20 menit, ArXy memutuskan membawa Clarissa ke rumah sakit. Disana ia terus memohon wanita itu untuk membuka matanya. Se menjengkelkan apapun Clarissa jika melihatnya begini tentu membuat ArXy tak tega apalagi selama 10 tahun bersama ini pertama kalinya ArXy melihat Clarissa tak sadarkan diri.
.
__ADS_1
.
.
ArXy keluar dari ruang dokter dengan perasaan gontai, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Meski baru hanya diagnosa tapi ini sungguh di luar dugaannya.
Cek lek
Pintu di buka ArXy dengan pelan, ternyaya Clarissa sudah sadar meski kondisinya sangat lemah.
"Kamu sudah tau sekarang?" tanya Clarissa langsung saat pria yang di cintainya itu duduk di atas kursi samping ranjang.
"Kenapa tak cerita padaku, hem?" ArXy balik bertanya, ini pertama kalinya bagi pria itu menyentuh tangan Clarissa.
"Maaf, aku kita aku akan kuat dan sembuh, Ar."
Tangis Clarissa pun pecah, ArXy bangun dan memeluk wanita itu untuk menenangkan. Saat ini ia memposisikan dirinya sebagai sahabat yang selama 1 dekade bersama dalam segala kondisi. ArXy mengesampingkan dulu semua tingkah menyebalkan agresif Clarissa maupun hubungan DiRut dan AsPir.
"Sabar ya, kamu pasti sembuh."
"Tak ada harapan, Ar. Aku akan mati dalam hitungan bulan. Aku tak mungkin sembuh," ucap Clarissa lirih dan sedih.
ArXy menarik napas lalu di buangnya perlahan, ini tentu berat untuk Clarissa yang selama ini hanya hidup bersama neneknya yang tua renta.
"Jangan bicara begitu, aku akan carikan dokter terbaik untukmu ya. Kamu harus sehat lagi," balas ArXy yang hanya di jawab anggukan Kepala.
.
__ADS_1
.
Maaf, dan ku mohon jangan tinggalkan aku disaat aku seperti ini, Ar...