
🍂🍂🍂🍂🍂
Zevanya yang sudah di izinkan pulang di jam 2 siang, sesekali menoleh ke arah Lift, berharap pria yang katanya bernama Chio itu keluar dari kotak besi. Zevanya hanya ingin melihat sosoknya lagi karna perasaan seolah tertarik padanya.
"Ze, belum pulang? di depan bukannya udah ada mobil kamu?" suara Mbak Yuli yang bertanya membuyarkan lamunan Zevanya yang sedang duduk di ruang tunggu seorang diri.
"Hem, belum, Mbak. Baru mau pulang kok ini," sahutnya tergagap karna saking terkejutnya.
"Lagi nunggu seseorang?" tebak orang kepercayaan Nyonya Starla.
"Engga, aku pamit ya, permisi." Zevanya menggelengkan kepala lalu bangun dari duduk, ia berjalan sangat tergesa-gesa menuju pintu keluar.
Tentu, Langkahnya tak sampai disitu sebab ia juga langsung menghampiri sebuah mobil berwarna hitam yang di tugaskan untuk mengantar jemputnya selama kursus.
Masuk ke kendaraan tersebut, Zevanya langsung di tegur oleh sang supir yang menunggu kurang lebih 20 menit di parkiran, jika Tuan Max tahu pastilah ia akan di marahi habis habis an sebab pulang tak tepat waktu.
Ini juga sebenarnya bisa jadi boomerang bagi Zevanya sendiri yang tak bisa memanfaatkan kebaikan hati sang suami, tapi apa mau di kata saat hati meminta untuk tinggal.
"Maaf, Pak. Lain kali tak akan saya ulangi lagi," ucap Zevanya penuh sesal.
__ADS_1
.
.
.
Selama perjalanan pulang, Zevanya kembali melamun. Entah sungkan atau memang di pandang rendah yang jelas tak ada yang bicara dengannya kecuali Tari itupun karna gadis tersebut di tugaskan untuk menemani Zevanya.
Sampai di rumah, tubuhnya langsung lemas karena saat masuk ke dalam ia berpapasan dengan Tuan Max dan Irwan.
"Kamu baru pulang?" tanya pria yang tak lain adalah suami Zevanya.
Tuan Max langsung melirik ke arah Irwan, dan anehnya pria itu langsung mengangguk kan kepala padahal jelas Tuannya tak berucap satu kata pun.
"Masuk kamar, dan jangan keluar lagi," titah pria paruh baya itu dengan tegas bahkan kedua matanya mengedar dan menatap tajam satu persatu para pelayan yang ada disana.
Dan itu artinya, Zevanya akan di kurung di dalam kamar.
"Baik, Tuan," sahutnya yang masih menundukan kepala. Hukuman ini masih jauh lebih baik, ia juga tak akan kesal karna memang ini salahnya yang tak pulang tepat waktu.
__ADS_1
Di dalam kamar, Zevanya yang bersama dengan Tari masih duduk tepi ranjang dengan tangan saling mengenggam.
"Tadi Tuan Irwan bilang, kalau Nona besok tak boleh datang ke tempat kursus," jelas Tari yang pastinya membuat kecewa.
"Aku di hukum?" tanya Zevanya
"Sepertinya begitu, Nona. Keluar dari sini aku akan menyerahkan kunci kamar pada kepala pelayan," ungkapnya dengan berat hati meski nyata nya ini bukan yang pertama.
"Ya sudah, tak apa apa, Ini memang salahku. Kamu bisa kunci kamarnya sekarang, aku mau mandi," ucap Zevanya pasrah yang di iyakan oleh Tari. Ia bisa melihat jelas raut wajah lelah dari nona mudanya tersebut.
Zevanya bangun dari duduk, ia melangkah masuk kedalam kamar mandi. Kini, Zevanya sudah berdiri di depan cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhnya. Satu persatu semua pakaian ia tanggal kan tanpa tersisa hingga hanya ada satu benda yang menempel d tubuh molek nya. Ia pegang benda itu sembari menarik napas.
.
.
.
Tak kuat lagi rasanya. Apa kalung ini ku jual saja ya?
__ADS_1