
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Starla yang ikut dengan Bu Hamidah kini sudah ada di dalam mobil, wanita baya itu banyak menceritakan kejadian setelah Starla pulang dan Chia terus menangis ketika ia bangun dari tidurnya. Hati Starla begitu perih membayangkan anak gadis itu ternyata sampai datang bersama keluarganya untuk mencari dan bertanya tentang Onty peri yang di maksud. Bu Hamidah tak mengatakan siapa XyLa yang sebenarnya karna itu permintaan dari keluarga untuk tidak memberitahu jati diri si gadis kecil itu pada orang asing untuk Menghindari hal yang tak di inginkan.
"Saya jadi tak enak hati, Bu. Pertemuan kami ternyata berbekas di hati XyLa. Saya malu pada orang tuanya," ucap Starla.
"Tak apa, namanya anak anak, Papa dan neneknya pasti paham."
Lagi, Starla dibuat penasaran dengan perkataan Bu Hamidah yang sejak tadi hanya mengatakan Papa dan Nenek, lalu dimana ibu anak itu?
"Iya, biar nanti saya bicara juga dengan mamanya XyLa, Bu." Starla terpaksa basa basi saking tak kuatnya menahannya rasa ingin tahu.
"XyLa hanya tinggal dengan papanya," jawab Bu Hamidah pelan dan sambil tersenyum.
Deg..
Satu tetes air mata akhirnya jatuh juga ke pipinya, XyLa bagai dirinya yang besar tanpa sentuhan ibu dan tumbuh besar hanya dengan sosok ayah.
__ADS_1
Dan...
' Chia... apa Chia juga seperti itu? Chia inget Mama gak, Nak? Mama kangen Chia,' bathin Starla yang malah sesegukan karna dadanya semakin sesak.
Bu Hamidah hanya bisa mengusap punggung wanita itu, dulu Starla pernah cerita jika ia pun seorang yatim piatu, dan sepertinya Ibu yayasan itu ingat dengan hal tersebut.
.
.
.
Cinta?
Masihkah Starla merasakan hal tersebut setelah ia di buat lelah dengan segala sikap dingin suaminya yang begitu egois sambil meremehkan semua apa yang ia bisa, termasuk mengurus anak mereka.
' kenapa harus di tempat ini?' bathinnya lagi seolah mengingatkan ia pada luka 4 tahun lalu dimana ia datang selalu dengan Amih dan Adik iparnya, dan Arlan jugalah yang menjemput mereka.
__ADS_1
"Nona, ayo," ajak Bu Hamidah saat ia melihat Starla masih diam berdiri di tempatnya.
"Iya, Bu. Maaf."
Dengan langkah berat dan terseok Starla berjalan meski harus satu langkah dengan Bu Hamidah, masuk dan keluar dari pintu Lift hingga mereka sampai di sebuah lantai yang cukup sepi. Keduanya berjalan menuju satu pintu yang terdapat dua penjaga di luarnya. Bu Hamidah menyerahkan sebuah Kartu indentitas dan mengatakan jika Starla adalah kerabatnya. Mereka pun di persilahkan untuk masuk kedalam. Tangan Starla begitu dingin dan sedikit bergetar menandakan betapa gugupnya ia saat ini, belum lagi jantungnya yang seolah berdetak ribuan kali lipat dari sebelumnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Bu Hamidah, lidah Starla rasanya kelu untuk melakukan hal yang sama saking lemas nya.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seorang wanita yang tak di perhatikan oleh Starla karna kedua matanya hanya fokus kearah ranjang pasien dimana kini ada seorang gadis kecil berbaring lemas dengan selang infus di tangannya.
.
.
Onty peliiiiii..
__ADS_1