
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kecuali siapa? Cacing kremi?" tanya Starla dengan wajah polosnya.
"Clarissa maksudmu?" Arlan balik bertanya yang di jawab anggukan kepala oleh wanita di depannya tersebut.
Tawa pria itu pun pecah, seorang Sekertaris direktur utama yang kini naik jabatan sebagai Asisten pribadi di sebut cacing kremi oleh Arlan, sungguh ia jijik sendiri membayangkannya.
"Dia masih ada disana? apa yang di lakukannya pada Chia, sampai anakku menyebutnya tante galak!" cetus Starla kesal.
Arlan hanya mengangkat bahunya sebab ia pun tak tahu apa-apa, Arlan sama seperti Starla yang memutuskan semua jalur komunikasi dengan Rahardian Group. Terakhir ia bekerja disana hubungan dua orang itu memang profesional jika di jam kerja meski kadang sering di bumbui dengan rayu dan rajukan tak jelas Clarissa. Tapi entah jika sudah di luar, Arlan tak mau menebak apa-apa.
"Sudahlah, ku rasa keluarga Rahardian pun tak akan diam saja saat Chia di lukai, jika Clarissa masih disana berarti Chia masih aman," kata Arlan berniat menenangkan.
Starla menarik napas lalu di buangnya perlahan, jika ingat wanita itu, rasanya sakit hatinya kembali muncul. Istri mana yang tak terluka saat melihat ada yang lain di pangkuan suaminya, di ruang tertutup dan hanya mereka berdua. Tak ada sangkalan sama sekali seolah Starla di biarkan untuk percaya dengan apa yang ia lihat.
"Mereka--, apa punya hubungan?" tanya Starla lagi.
"Buat apa kamu tahu, bukankah itu bukan urusanmu?" sindir Arlan.
Starla megangguk sambil tersenyum, keduanya meneruskan sarapan dengan berbincang dengan topik obrolan yang lain.
__ADS_1
.
.
.
Starla yang mulai sibuk dengan aktifitasnya tetap menyempatkan diri mengobrol dengan sang buah hati jika anak itu menelpon di waktu pagi dan malam, karna untuk siang hari Chia melakukan nya hanya sesekali mengingat itu juga memakai ponsel Amihnya. Starla hanya bisa menunggu tanpa berani menghubungi lebih dulu apa lagi ke nomer mantan suaminya.
Ia lebih memilih menahan rindu meski alasannya jelas hanya ingin mengobrol dengan anaknya saja.
Starla yang baru membersihkan diri mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil melihat kalender yang terdapat diatas nakas samping ranjangnya. Jika ia tak salah ingat, besok adalah waktu untuk ia menepati janjinya kembali ke ibu kota bertemu dengan Chia dan yang pasti bertemu juga dengan papanya.
Tak ada rasa antusias yang di rasakan wanita itu jika mengingat sosok ArXy, Si cinta pertama yang berhasil memberinya luka luar biasa.
Lamunan Starla buyar saat ponselnya diatas meja belajar bergetar, ia dengan cepat meraihnya dan menekan icon berwarna hijau meski ragu.
"Hallo," sapa Starla, ia harap suara anaknya yang ia dengar tapi nyatanya justru salah besar.
"Hem, hallo," jawab ArXy, ya ArXy Rahardian Wijaya lah yang meneleponnya saat ini.
"Chia mana, Kak?"
__ADS_1
"Tidur, dia memintaku untuk menanyakan tentang kedatanganmu besok, jadi kan?" tanya ArXy.
Starla tak menjawab, ia melirik kearah jam yang menggantung di dinding kamar nya.
'Jam 10 pagi, Chia tidur apa? apa mungkin dia belum bangun?' bathin Starla yang merasa ada yang mengganjal di hatinya.
"Hallo," panggil ArXy lagi.
"Hem, iya. Aku kesana sore ya, aku ada urusan sampai siang," jawabnya langsung sesuai rencana awal.
"Oh, Chia mau jemput di Bandara, gimana?" tanya ArXy lagi.
"Iyakah?" Starla memang tahu hal itu tapi tak menyangka jika ArXy akan memastikannya secara langsung.
"Terserah, tapi--,"
.
.
.
__ADS_1
...Papa... Chia bawa ice cream loh... ...