
Dua hari di lewati Arjuna dengan sangat menyenangkan bersama Hanna, tak ada yang sepasang kekasih itu lakukan di luar batas meski di hantam habis habisan oleh nafsu yang terus menggoda selama di Hotel, mobil maupun di air terjun.
Dan kini saatnya mereka pulang ke ibu kota untuk kembali ke aktifitas masing masing tanpa tahu kapan akan bertemu kembali karna pekerjaan Arjuna yang seolah tak ada habisnya.
"Hati hati dijalan ya, hubungi aku jika sudah sampai dirumah agar aku tahu kamu sudah sampai dengan selamat, tapi--," pesan Hanna yang tak di lanjutkan.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Arjuna bingung saat ucapan kekasihnya itu terhenti.
"Iya, berjanjilah mengabariku jika sudah di rumah itupun jika kamu tak mampir kemana kemana," lanjut Hanna dengan nada bicara bergetar, alsatu pesan dengan nama CHIA masih sangat mengganggu pikirannya sampai saat ini.
Aneh rasanya karna baru sekarang Hanna merasakan perasaan tak nyaman seperti ini sebab biasanya ia selalu percaya pada pria itu, pria yang menjadi kekasihnya selama dua tahun ini.
"Kamu pikir aku mau kemana? aku cuma punya dua tujuan, rumahku dan kamu," tegas Arjuna yang sebenarnya paling tak suka di curigai karna tak pernah melenceng dari hubungannya bersama Hanna.
"Aku mencintaimu, Juna. Tolong ingat itu ya," Pinta Hanna seolah memohon pada kekasihnya.
"Tentu, masuklah dulu, baru aku pergi."
Hanna mengangguk kan kepala, karna memang seperti itu biasanya, Arjuna akan memastikan Hanna sampai ke dalam bukan sekedar di depan terbang panti asuhan.
Ya, bangunan dua lantai itu bukan rumah Hanna melainkan sebuah panti asuhan tempat ia tinggalnya sejak kecil hingga entah sampai kapan.
Setalah memastikan wanita tercintanya masuk, barulah Arjuna kembali melajukan lagi mobilnya. Ia sengaja memilih pulang malam agar tak ada obrolan apapun di rumah nanti saat ia sampai.
Masalah perjodohan belum ia pikirkan sama sekali, Arjuna benar benar fokus menghabiskan waktu bersama Hanna dua hari ini. Tak perduli ada beberapa pesan masuk dari Chia.
Gadis kecil yang dianggapnya adik itu memang sangat cantik, bahkan lebih dari Hanna namun tak pernah ada getaran apapun yang dirasakan oleh Arjuna. Tak seperti dengan Hanna yang langsung membuatnya jatuh cinta hingga detik ini saat pandangan pertama.
.
.
Ceklek...
Pintu utama di buka Arjuna dengan pelan dengan kunci yang ia bawa, itu semua sengaja karna tak ingin mengganggu orang rumah saat ia datang di waktu hampir tengah malam.
Deg...
"Juna--," panggil Papa saat pria itu baru mau menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Iya, Pah," sahut Juan sambil membalikka tubuhnya yang tinggi.
"Baru pulang? dua hari tanpa kabar yang jelas? kemana?" tanya Papa Chiko yang sebenarnya tahu, hanya saja ia ingin tahu apa jawaban dari putranya tersebut, akankah Arjuan berkata jujur??
"Luar kota," jawabnya singkat.
"Dengan??"
"Hanna, Juna pergi dengan Hanna, kami kesana dan menginap di hotel satu kamar, itukan yang ingin papa dengar?" balas Arjuna yang tahu jika paruh baya di depannya kini hanya memancing jawaban darinya.
__ADS_1
"Kurang jelasakah pembicaraan kita kemarin saat sarapan? kamu akan papa jodohhkan dengan Chia," tegas Papa Chiko.
"Aku gak mau, aku punya pilihan sendiri yaitu Hanna. Meskipun aku akan menikah tentu Hanna yang akan ku nikahi, Pah!" jawab Arjuna sambil sedikit berteriak, ia tak lagi bisa menahan rasa kesalnya karna seolah papa tak paham dengan persaannya saat ini.
Jawaban Arjuna yang di luar dugaan Papa Chiko tentu membuatnya geram, karna hanya demi membela seorang wanita anak itu berani meninggiikan nada bicaranya di depan orang tua, tentu tak pernah di lakukan oleh Arjuna selama ini, karna sikapnya yang di luar batas itulah membuat Papa Chiko tak kuasa menahan tangannya hingga mendarat sempurna di salah satu pipi Arjuna putra Wardhana
Praaaaaaaaaaang...
Sebuah guci besar jatuh dan pecah hingga serpihannya berserak di lantai, dan itu tentu membuat Papa Chiko dan Arjuna kaget karna benda itu jatuh sebab tak kuat menahan tubuh Mama Marni yang pingsan.
Wanita mendengar dan menyaksikan langsung apa yang tejadi dengan anak dan suaminya barusan dengan kedua matanya sendiri, ia shock hingga tak sadarkan diri saat pria yang yang menikahinya puluhan tahun lalu menampar putra kesayangannya.
"Maaaaaaa," teriak kedau pria tersebut yang langsung menghampiri, saking paniknya mereka tak perduli saat harus menginjak pecahan kaca. Luka dan darah yang ad di kaki pasti tak sebanding dengan luka wanita yang kini ada di pelukan tuan besar Wardhana.
"Sayang, bangun, ku mohon," ujar Papa Chiko yang terlihat sangat khawatir dan ketakutan.
Arjuna pun tentu tak tinggal diam, ia langung menghubungi ambulance untuk membawa mamanya kerumah sakit. Mama Marni yang memiliki riwayat Hypertensi memang tak bisa mengetahui sesuatu yang membuat beban pikirannya. Ia yang sudah sejak kemarin kesal menunggu kabar dan kepulangan Arjuna di kagetkan dengan perengkaran kedua pria kesayangannya.
.
.
.
Di rumah sakit, tak ada obrolan apapun yang terjadi antara Papa Chiko dan Arjuna. keduanya tenggelam dalam pikiran masing masing meski tetap merasakan rassa takut yang sama.
"Pulanglah, jangan pikirkan mamamu," tukas Papa Chiko yang terlihat sangat kecewa pada Arjuna, harusnya mereka bisa baik baik dan hal ini tak perlu terjadi.
"Juna mau nunggu mama," tolaknya cepat, ia sudah sangat merasa bersalah dan akan semakin salah jika pulang begitu saja, di rumah pun pastinya ia tak akan bisa tidur tenang dan nyaman.
Tak ada jawaban apapun dari Papa yang seolah tak acuh, ada dan tak adanya Arjuna ia rasa tak terlalu penting untuknya saat ini. Hingga ada salah satu perwat datang dan meminta suami dari pasien yang ia tangani barusan untuk segera ke ruangan dokter.
Sambil menunggu papanya kembali, Arjuna masuk lebih dulu untuk mellihat keadaan sang pemilik surganya tersebut, hatinya terjabik sakit karna rasa sesal yang menyelimuti hatinya saat ini. Kalimat demi kalimat dari semua pesan yang dikirim oleh mamanya terus berputar di otaknya dari sekian banyak pesan itu hanya 4 yang di balas oleh Arjuna dan itu yang kini terus membuatnya tak bisa berhenti menitikan air mata, belum lagi ada puluhan panggilan telepon yang sengaja ia abaikan.
"Mah, ayo bangun. Juna udah pulang, jangan lama lama tidurnya ya, Mah." Arjuna terus memohon sambil mencumi punggung tangan kanan Mama karna tangan kiri wanita itu terdapat selang infus.
Tak pernah hatinya sehancur ini, karna iya atau tidak ini tak lepas dari salahnya, rasa lelah jiwa dan raga selama dua hari ini tak mampu membuatnya bisa menahan emosi padahal ia sadar betul jika pria yang di hadapinya itu adalah papanya sendiri.
Lelehan cairan bening yang turun dari mata hingga membasahi pipi membuat Arjuna ketiduran, ia tak tahu apa ap alagi termasuk kapan papanya masuk.
Arjuna terbangun saat mendengar suara berbicara yang tak lain itu adalah dua orang perawat yang datang untuk memeriksa mamanya.
Tak ingin mengganggu pekerjaan kedua orang tersebut iapun bnagun dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terlihat sembab dan berantakan meski itu sama sekali tak mmengurangi ketampananya.
Arjuna menarik napas perlahan lalu di buangnya perlahan saat ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah pagi ternyata," gumam Arjuna.
Ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan jauh lebih segar, sudah ada papanya juga disana yang sedang berbicara dengan dokter.
__ADS_1
Tak tahu harus berbuat apa, Arjuna memilih keluar dari ruangan mamanya menuju kantin rumah sakit, rasa lapar di perutnya membuat ia butuh makanan untuk penganjal.
Langkah yang ia pijak di lantai seolah tak bertapak karna rasa bersalah itu masih sangat berasa dalam hatinya hingga Arjuna berjalan dengan sedikit melamun, ia tak sadra saat ada yanng memanggil namanya berkali kali.
"UNNA!!!" teriak Rinjani kesal sambil menarik lengan adiknya hingga terpaksa berbalik.
"Kak Jani," sahutnya kaget.
"Dari tadi kakak panggil kenapa gak nyahut sih?" omel wanita itu dengan nada kesal pastinya.
Arjuna yang tak merasa di panggil hanya mengernyitkan dahinya bingung lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Mama gimana?" tanya Rinjani yang langsung pergi kerumah sakit saat di telepon papanya satu jam lalu.
"Belum sadar kayanya, kakak lihat aja sendiri," jawab Arjuna.
"Terus kamu mau kemana?"
"Kantin, aku butuh kue dan kopi."
"Chia bawa sarapan sama teh manis hangat, Kak juna makan ini aja ya, biar Chia temani," timpal si gadis cantik dengan senyum manisnya.
"Ide bagus, dari pada Unna makan sendiri, mending di temenin Chia. Kakak mau ke ruangan Mama dulu," sahut Rinjani yang langsung pergi tanpa pamit lagi dan itu tentu membuat Arjuna tak terima hingga memanggil kakaknya itu berkali kali tapi tak di gubris sama sekali.
"Ayo, Kak. Mumpung masih hangat," ajak Chia.
Arjuna yang sudah begitu sangat pusing hingga kepalanya hampir pecah mau tak mau ikut juga bersama Chia, mereka sarapan bersama di taman samping rumah sakit dengan bekal yang di bawa gadis itu.
Awalnya tak ada obrolan sama sekali diantara mereka hingga satu pertanyaan di lontarkan oleh Arjuna pada tuan putri Rahardian Wijaya.
"Kamu tahu jika kita akan di jodohkan?"
"Tahu, Kak," sahut Chia yang belum apa apa sudah tersipu malu, dan itu wajar karna pria di sampingnya adalah cinta pertamanya.
"Dan kamu setuju? kamu mau di jodohkan denganku, kenapa?" tanya Arjuna yang harus menahan rasa geramnya.
"Karna aku mencintaimu," jawabnya dengan pelan namun penuh penegasan, sudah tak ada lagi rasa malu terlebih niat untuk menyimpannya dalam hati seperti yang selama ini ia lakukan.
"Aku sudah punya kekasih," ungkap Arjuna dengan nada penekanan agar Si gadis cantik itu tak banyak berharap apa lagi menerima perjodohan mereka.
"Oh ya, aku baru tahu," jawab Chia dengan santai dan tak nampak terkejut sama sekali.
"Hem, karna itu ku mohon untuk menolak rencana orang tua kita, Chia."
"Loh, kenapa aku harus menolaknya? aku mencintaimu, apa itu kurang jelas?" tanya Chia.
.
.
__ADS_1
.
"Tapi aku tidak sama sekali, cintaku sudah habis di Hanna. "