
🍂🍂🍂🍂🍂
Kedatangan Starla di kediaman Rahardian beserta kabar sakitnya tentu membuat semua anggota keluarga besar itu datang untuk menjenguk, tak hanya itu pastinya Sang pawang seperti Qia, Jingga, Rindu dan Embun pun akan melepas kangen mereka pada Starla, meski kedekatan mereka cukup singkat tapi wanita itu tak pernah di lupakan sama sekali oleh para menantu Rahardian terkecuali Si buaya betina yang memang Ratunya.
Starla sampai menangis terharu saat menerima pelukan hangat dari 4 wanita yang hidupnya semua nyaris sempurna. Ia kini merasa tak sendiri dan sebatang kara sebab keluarga yang dulu ia tinggalkan kini hadir kembali.
"Makin cantik aja sih, La," puji Qia si gadis bawah pohon kesayangan Skala sang Terompet Kiamat.
"Iya, pangling ih," sahut Rindu, yang tak lain adalah emaknya si Madu.
"Kalo ketemu di jalan kayanya gak sadar ya kalau ini Starla," sahut Jingga, saingan Marimar, si Ular phyton peliharaaan tuan muda Biantara.
"Nah, bener. Udah cantik makin cantik kalo di make over," kekeh Embun, Ratu shoping yang punya kerjaan langka sejak kecil yaitu menghabiskan uang para pria kesayangannya.
Wanita beranak tiga itu serasa masih gadis karna para krucilnya punya pawang masing-masing. Tugasnya hanya mengasuh kadal jantan yang masih berusaha ingin punya anak lagi, tapi sayangnya Mak Othor tak mengizinkan hal tersebut karna pusing jika harus cari nama lagi, di tambah takut di macupin ke nelaka oleh sang kuncen akhirat ketika bocah itu tak jadi anak bungsu.
Semua wanita itupun tertawa bersama dan mulai bertukar cerita dengan banyak hal, termasuk tentang hidup Starla selama 4 tahun menghilang begitu saja.
.
.
.
Lain dengan para pawang, lain juga dengan para Si kompor meleduk yang kini sudah pada kabur ke kamar sang Duda di lantai dua. Hanya kamar ArXy yang masih bisa di datangin seenak jidat mereka berempat karna hanya pria itu yang tak punya pasangan.
Suara gelak tawa, candaan, sindiran bahkan umpatan kasar terus bersahutan diantara para Tuan muda itu tanpa terkecuali.
__ADS_1
Ada Lee, Biantara, Baratha dan pastinya Rahardian Wijaya.
"Kawinin, Dud. Jangan nolak rejeki," ledek Skala sambil cekikian tak jelas.
"Nikah dulu ih, tar diomelin Phiu kalo langsung kawin," timpal Rain yang selalu jadi yang terpolos diantara yang termesum.
"Heh, bocah emang apa bedanya?" tanya Heaven yang lebih banyak tarik uratnya di banding lembutnya.
"Beda doooooooong! Si Duda marDuda kan bukan MIONG!" jawab Rain lagi.
"Berisik!" sahut Keanu, Si kadal jantan yang tak di ragukan lagi keahliannya dalam cetak mencetak anak yang langsung kembar 3.
ArXy hanya bisa menarik napas lalu di buangnya perlahan, ke datangan keempat sepupuku ajaibnya itu hanya menambah beban pikirannya.
"Gimana bisa di kawin kalo gue di tolak," ucap ArXy lirih.
"Njiiiiir, gak sebangsa JIN sekalian, Bum?" kata Heaven disela gelak tawanya.
"Cinta di tolak, dukun di bertindak, yang sabar ya," balas Keanu sambil mengusap punggung sepupu dari si buaya betina.
"Astaghfirullah!" Sahut Skala.
"Haha, salah ya gue?" kekeh Tuan Muda Lee lagi.
"Pake jalur langit dong kaya Si Mpet noh, dijamin langsung Halalan toyiban kaya mie instan," sahut Rain dan kini semua mata beralih pada Skala Barata Rahardian Wijaya.
"Gimana Mpet doanya?" Tanya ArXy dalam mode serius, tapi ia harus bersabar karna pasti jawaban dari para sepupunya itu tak patut untuk contoh.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Mamanya Chia wajib jadi jodohku, kalau dia gak mau paksa dia sampe mau, ya Tuhan, TITIK," sahut Skala yang langsung di lempar bantal oleh ArXy.
"Ya Tuhan, jadikan mamanya Chia jodohku, kalau dia bukan jodohku jangan jodohkan dia dengan siapapun, adil kan ya Tuhan?" sahut Rain yang membuat semuanya geleng-geleng kepala karna doa nya maksa semaksa maksanya.
"Ya Tuhan, Semoga mama Chia jadi jodohku, kalau enggak, mungkin ada temennya yang lucu lucu, bolehlah," kata Keanu yang langsung membuat adik iparnya merengut kesal.
"Ya Tuhan, biarkan mamanya Chia jadi jodohku, kalau dia bukan jodohku, izinkan aku pelet dia ya." Doa sadis pun terlontar dari Heaven yang selalu bicara tanpa saringan.
.
.
.
.
#DiAlamLain
"Pah, cicitnya papah doanya gak beres semua, itu malaikat ampe bingung," bisik Air.
"Cicit Papah? gak liat itu ada cucu juga cucu mantumu, hah?" protes Appa.
"Haha, emang enak," sahut Langit sambil tertawa.
"Heh, Cucu Si Abang noh yang mulutnya paling ampun ampunan dah," sindir Bumi.
"Sama kaya cucumu, si Mpet," cibir Langit.
__ADS_1
"Brisik! Yang paling baik itu disini cucu Papa, Si Tutut Markentut!" Sahut Sang Gajah.