Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Pria Simpanan Istri Mafia #14


__ADS_3

🍂🍂 **Flashback** 🍂🍂


Suara klakson dan teriakan Chio tentu membuat seorang gadis tak sengaja ia serempet sampai terjatuh.


Chio yang oleng, untung bisa menguasai sepeda motornya hingga tak sampai ikut terguling parah.


"Ya Tuhan!" pekiknya panik.


Ia langsung meninggalkan kendaraan roda dua nya itu demi menghampiri orang yang terserempet tadi. Ada dua laki laki dewasa yang menolong gadis kecil tersebut dan itu cukup membuat Chio sedikit lega.


"Kamu gak apa apa?" tanta Chio dengan raut wajah panik dan itu rasanya sangat normal bagi seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan, apalagi ini juga pertama kalinya untuk sang Tuan Muda.


"Sakit banget," jawab gadis kecil tersebut yang di tebak Chio masih berumur tak lebih dari lima belas tahun.


Chio yang berjongkok di depan gadis tadi mendongak pada beberapa orang yang ternyata semakin banyak mengelilingi mereka, sebab ingin tahu apa yang sedang terjadi, tak ingin ada salah paham, Chio menjanjikan akan bertanggung jawab dari semua sikap lalai nya barusan.


Satu persatu orang yang ber kerumun pun pergi hingga meninggalkan kan Chio dengan Korbannya itu. Dirasa tempatnya tak nyaman, mau tak mau Chio harus menggendong gadis tadi ke depan sebuah toko yang sudah tutup.


"Lain kali kalau mau nyeberang hati hati, kamu harus lihat kiri kanan dulu," kata Chio yang entah ini memberi nasihat atau justru sedang mengomel meski nyatanya ia juga salah karna tak fokus pada jalan di depannya saking sangat menikmati pinggiran jalan kota yang baru ini ia lewati dengan sepeda motor.


"Maaf--aw!" pekiknya kesakitan.


Chio yang mendengar itu langsung memperhatikan dengan seksama luka luka yang ada di kaki kanan gadis itu.

__ADS_1


"Berdarah, aku takut ini infeksi jika tak segera di bersihkan. Aku akan membawamu ke klinik terdekat," tawar Chio dalam bentuk tanggung jawabnya.


Apalagi yang ia serempet barusan adalah seorang gadis kecil yang tak terlalu terlihat wajahnya di karena kan lampu yang tak terlalu terang di tambah rambut panjangnya yang teruai bebas begitu saja.


"Jangan, aku takut Dokter, aku bisa obati ini di rumah nanti," tolak si gadis tersebut dengan nada bicara panik yang terdengar sangat takut, dan Chio yakin itu sedang tak di buat buat.


"Tapi luka ini pasti sakit, dokter hanya membersihkan nya saja, apa kamu takut di suntik?" tebak Chio.


"I--iya. Aku tak mau. Biar nanti ku bersihkan sendiri rumah dengan air dan salep saja," mohonnya yang kini terdengar sudah terisak, dan itu semakin membuat Chio merasa sangat bersalah.


"Ok, aku tak akan memaksamu jika tak ingin ku bawa ke dokter. Tapi, siapa namamu?" tanya Chio yang mungkin besok ia bisa bertemu lagi.


"Namaku Zevanya," jawabnya dengan suara parau yang sama sekali belum bertatapan mata dengan si pangeran tidur Rahardian Wijaya.


"Lalu mau mu apa? ini itu tak mau, aku harus bertanggung jawab atasmu, aku tak mungkin meninggal kan mu begitu saja, Zevanya!" ucap Chio yang saat menyebut nama gadis itu malah hatinya bergetar.


"Tak apa apa, pergi saja. Aku bisa pulang sendiri."


"Kamu yakin?" tanya Chio memastikan dan di balas anggukan kepala dengan sangat mantap.


Chio yang pasrah pun akhirnya bangun, ia meraba saku celana dan jaketnya namun tak menemukan apapun disana.


"Sial!" umpatnya kasar saat lupa membawa dompet dan ponsel.

__ADS_1


Ia yang bingung semakin bingung harus bagaimana sedangkan Zevanya terlihat sangat keras kepala.


"Aku tak bawa uang untukmu, tapi aku punya ini. Kamu bisa jual nanti di toko, harganya cukup untuk beli obat pereda nyeri dan salep luka," ucap Chio sambil menyerahkan sebuah kalung yang ia pakai selama 2 tahun ini.


Zevanya yang awalnya menolak terus di paksa, setidaknya ia tenang meninggal kan korbannya jika ada yang di beri.


"Jangan, aku tak apa-apa."


"Ambilah, ku mohon. Jangan buatku merasa semakin bersalah. Aku juga sedang sangat buru buru sekarang."


"Pergilah kalau begitu," titah Zevanya namun Chio tetap menggeleng kepala hingga akhir nya gadis itu luluh juga.


"Aku pergi ya, jangan lupa untuk di jual nanti," pesan Chio sekali lagi, ia pergi dengan sangat tergesa menuju sepeda motornya yang dekat di tempat kejadian.


Sedangkan Zevanya menatap lekat sebuah benda yang kini ada di tangannya.


.


.


.


AleXio...

__ADS_1


__ADS_2