Jatuh Cinta Pada Mantan Istri

Jatuh Cinta Pada Mantan Istri
Selamat tinggal.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


"Cerai?" seru kedua pasangan paruh baya tersebut.


Wajar rasanya jika Gala dan Ara tak percaya karna yang mereka tahu anak dan menantunya itu baik-baik saja. ArXy memang sedikit cuek dan menjadi lebih dingin saat di tolak oleh cinta pertamanya bertahun-tahun lalu. Tapi, rasanya tak sampai hati jika saat tahu hubungan rumah tangga keduanya ternyata kini kandas bukan lagi di tengah jalan, tapi justru ini awal dimana semua belum genap satu tahun.


"ArXy!"


"Pih, tolong hargai keputusan kami ya," mohon ArXy yang memang sejak dulu tak pernah mau di campuri urusannya jika memang ia bisa mengatasinya sendiri.


"Yang di katakan ArXy bohong kan, Nak? kalian bercanda kan, Sayang?" tanya Amih sambil menangkup wajah cantik menantunya yang memang terlihat jelas usai menangis.


"Tidak, Mih. Kak ArXy melakukannya secara sadar dan itu sesuai keputusan kami. Aku titip Chia ya, doakan aku jauh lebih bahagia dan jangan lupakan aku yang pernah jadi bagian dari keluarga kalian."


Amih menggelengkan kepalanya, ia masih tak percaya dengan yang terjadi, meski katanya ini sudah di bicarakan baik-baik tapi tetap saja membuat rasa terkejut bagi yang mendengarnya.


"Kalian bertengkar masalah apa? tak bisakah di bicarakan baik-baik, kasihan Chia, kalian tak bisa egois seperti ini," ujar Apih yang mulai geram.


Pasangan yang bukan lagi suami istri itu menggeleng kan kepala secara bersamaan, mungkin bisa untuk Starla tapi tidak untuk ArXy.


Tak adanya cinta di hati pria itu menjadi alasan utama dan satu-satunya ia ingin melepas Starla secepat mungkin, berpisah jauh lebih baik agar wanita itu mendapatkan rumahnya sendiri karna ArXy sadar tak bisa menjadi sandaran ibu dari putri kecilnya.


.


.


.


Satu minggu berlalu, semua masih terasa asing bagi Starla yang tinggal sendiri di rumah pemberian ArXy saat mereka awal menikah dulu.

__ADS_1


Keduanya yang sepakat memutus hubungan secara total membuat Starla seolah mati gaya karna tak hanya dengan sang mantan suami tapi seluruh keluarga Rahardian Wijaya. Ia yang sempat berpamitan juga memohon untuk tak menanyakan apapun lagi, dan jika seandainya bertemu pun Starla berharap tak ada lagi tegur sapa diantara mereka. Keputusannya sudah bulat, yaitu ingin membuka lembaran baru dan menutup rapat masa lalu termasuk tentang Chia.


Cek lek


Suara pintu halaman belakang sedikit mengagetkan Starla yang duduk sendiri di teras dekat kolam ikan, gemercik air yang ia dengar setidaknya tak membuat hidupnya terlalu sepi tak berteman.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Arlan sambil tersenyum.


"Menurut mu?"


Pria tinggi yang cukup lumayan tampan itu pun tersenyum kecil, ia hempaskan bo kongnya tepat di samping kursi kosong di sebelah Starla.


"Aku memintamu kemari jam 3, kenapa jam segini sudah datang?" tanya Starla tanpa menoleh pada satu-satunya orang yang masih ia Terima baik kehadirannya.


"Terlalu lama, jika bisa sekarang kenapa harus nanti?" jawab Arlan yang sama-sama menatap jauh ke arah depan.


"Kenapa kamu yang tak sabaran, Kak?" tanya Starla bingung.


ArXy tahu, Arlan masih menjaga mantan istrinya itu dengan sangat baik tapi ia tetap pada keputusannya untuk tak bertanya apapun dan mencari tahu dalam segala hal, begitupun dengan Starla. Keduanya sudah benar-benar putus komunikasi lahir dan bathin.


"Hem, jadi pergi atau tidak? berangkat sekarang jauh lebih baik agar kamu tak terlalu lelah sampai di sana, perjalanan kita cukup jauh."


"Jadi, jangan patahkan semangatku dengan pertanyaan seperti itu," jawab Starla yang kemudian bangun dari duduknya.


Saat Starla memutuskan untuk mundur dari hidup ArXy, banyak sekali yang ia pikirkan termasuk kelanjutan hidupnya. Tak adanya Bapak malah justru membuatnya nekat dan semakin kuat, jika dulu pria itu adalah alasannya bertahan justru kini pria itu jugalah yang menjadi alasannya untuk pergi jauh sejauh-jauhnya.


Hidup sebatang kara memang tak mudah, tapi terpuruk dalam sedih dan sesal pun tak ada gunanya. Kini Starla akan menata lagi sisa-sisa hatinya yang hancur berserak, meski tak lagi utuh dan cantik seperti dulu saat ia belum mengenal cinta.


.

__ADS_1


.


Semua barang yang sudah di bereskan kini dibawa keluar oleh Starla, ia tersenyum simpul dengan perasaan sakit menahan air mata sebelum meninggal kan tempat tersebut, tempat dimana ia menyerahkan kesuciannya untuk pria halal yang teramat di cintainya hingga KhayXyLa NauRahardian Wijaya tumbuh subur di dalam rahimnya dalam sekali permainan yang tak akan Starla maupun ArXy lupakan rasanya, sebab itu benar-benar yang pertama bagi mereka berdua.


"Melamun lagi?!"


Starla menoleh saat pundaknya di sentuh dan itu membuatnya cukup terkejut.


"Aku hanya memastikan jika pilihanku tak salah, Kak," ucap Starla yang belum sepenuhnya ikhlas melepas ArXy dalam hidupnya.


"Jika dia di takdirkan untukmu, sejauh apapun kamu pergi kalian pasti bertemu lagi," balas Arlan dengan segaris senyum di ujung bibirnya.


"Itu terlalu mustahil bagiku, Kak."


Starla pergi dengan koper di tangannya, rumah mewah ini akan tetap ada yang mengurus meski tak di tempati, sedangkan mobilnya akan ia bawa untuk kendaraan pribadinya nanti. Starla tak bisa meninggalkan seluruh kenangannya, karena bagaimana pun dari ArXy ia tahu rasanya punya surga di telapak kaki dan itu hanya berlaku untuk Chia, putri kecilnya.


Dan, di kota X nanti itulah ia akan hidup dengan warna yang baru, meski tak seindah pelangi tapi setidaknya tak selalu hitam dan gelap.


"Selamat tinggal Bapak, selamat tinggal Chia, selamat tinggal Amih, Apih, XyRa dan selamat tingal juga untuk kamu--, ya...kamu yang sudah membuatku perlahan mati rasa." bathin Starla.


Tak ada lagi tangis, air mata dan pukulan pada dada saat ia merasakan sesak dalam hati. Cukup satu tahun ia merasa di abaikan, di kecewakan dan di khianati. Kini fokusnya hanya pada diri sendiri tanpa bergantung pada siapapun.


"Kamu ingin ku kunjungi berapa kali sebulan, hem?" tanya Arlan.


"Sesampatnya saja, pekerjaanmu jauh lebih utama. Aku bisa jaga diriku sendiri," jawab Starla.


"Aku tahu itu, tapi biarkan aku tetap menjagamu," balas Arlan.


Tak ada jawaban apapun dari Starla, ia juga bingung mengartikan kebaikan Arlan kini yang tentu bukan karna ia istri dari bosnya seperti seperti dulu.

__ADS_1


Perhatian Arlan yang kadang berlebihan seolah mematahkan tekadnya yang ingin lebih mandiri, karna cukup bagi Starla dulu sering iri saat melihat seorang istri yang begitu di ratukan, di hargai , di bahagiakan lahir batinnya oleh sang suami, dan sedihnya ia tak pernah merasakan semua itu hingga kini ia sadar memang tak semua istri mengalami keberuntungan tersebut begitu pula dengannya yang tak semua istri akan bisa kuat sepertinya.


__ADS_2