
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setiap pagi seperti biasa ArXy kadang mandi Lebih dulu sebelum Chia bangun, karna ada saja drama yang di lakukan anak gadisnya itu jika sudah mengerjapkan mata. Ia yang sudah memakai pakaian rumahan kembali ke ranjang mendekati putrinya yang masih terlelap terbuai mimpi. Di ciuminya Chia di bagian pipi kanan karna posisinya yang tidur meringkuk.
"Hari ini kita ketemu Mama ya, Sayang," bisik ArXy pelan jangan sampai membangunkan Chia.
Senyum terus terukir di sudut bibirnya yang ia sendiri saja bingung apa alasannya, ia begitu gelisah tak menentu. Ada rasa tak sabar dan berdebar dalam hatinya sejak semalam.
Ya, semalam saat terakhir Starla mengatakan waktu yang tepat kapan ia akan sampai di bandara ibu kota.
"Eeuugh, Papa."
"Iya, Sayang, sudah pagi, Nak," jawab ArXy pada putrinya.
"Kilain udah siang, Chia mahu jemput Mama sekalang," jawabnya yang kemudian menguap karna ia memang sedikit terlambat saat tidur semalam.
"Chia belum mandi dan sarapan mana bisa jemput Mama sekarang sih, Sayang."
"Yuk, mandi," ajaknya antusias.
ArXy yang tertawa kecil lalu menggendong putri satu-satunya itu ke kamar mandi, meski tidur masih di temani tapi untuk urusan membersihkan diri tentu Chia sudah bisa sendiri, tapi saat kemarin ada mamanya tentu ia ingin Starla yang menenamani.
.
__ADS_1
.
.
Sarapan kali ini ArXy dan Chia sedikit terlambat karna memang anak itu bangun kesiangan, tapi Amih dan Apih tetap setia menunggu anak dan cucunya tersebut.
"Ntal Chia mau jemput Mama, katanya Mama kangen Chia," ucapnya sambil menikmati menu makan pagi.
"Sukurlah kalau Mama mau kesini, Chia seneng dong bisa di temenin Mama lagi?" tanya Amih yang turut bahagia, ia beruntung memiliki dua surga yang dekat dengannya yaitu Ibu dan Umi Khayangan.
"Iya, nanti Chia mau ajak jalan-jalan dong."
"Papa di ajak gak?" sindir Apih dengan senyum meledek di ujung bibirnya.
Amih dan Apih tuh terkekeh bersama, mereka rasanya sedikit peka dengan yang di alami kakak kembar XyRa tersebut.
Usai mengisi perut dengan di selingi segala macam obrolan, ledekan serta sindiran yang membuat kuping panas, ayah dan anak itupun kembali ke lantai atas. ArXy akan dengan sabar menemani putrinya itu main, tak jarang sang Direktur Utama Rahardian Group tersebut di jadikan kelinci percobaan oleh Chia, mulai mencicipi hasil masakannya hingga di dandani sedemikian rupa. Tapi ArXy tak pernah marah meski kadang ia sedang kesal atau lelah karna banyaknya pekerjaan di kantor. Ini sudah jalan yang ia pilih saat memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal bagi Chia. Tak hanya menjadi ayah tapi juga menjadi ibu dengan segala rasa sabarnya.
.
.
.
__ADS_1
Starla yang menjanjikan akan datang jam 5 nyatanya dari jam 3 ArXy sudah mendandani Chia sampai anaknya sendiri bingung.
"Mang kita mau mana?" tanya Chia bingung saat rambutnya sudah di sisiri.
"Mau jemput Mama di bandara lah, emang Chia gak kangen?" ArXy balik bertanya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Chia si anak pintar langsung diam sejenak dan tak lama ia menoleh kearah jam yang tergantung di dinding.
"Satu, dua, tiga, Papa. Kan Mama sampai nya di Lima," ujar Chia sambil menunjukkan jarinya ke depan wajah ArXy.
"Hem, gak apa-apa, lebih baik kita yang nunggu dari pada Mama yang nunggu," kata ArXy.
"Nda, ntal aja di lima. Chia mau main main ih," tolaknya sambil bangun dari duduk.
"Sekarang aja, Chia. Ayoooo."
"Nda!" tolaknya anak itu lagi.
.
.
.
__ADS_1
Terserah, Papa pokoknya mau jalan sekarang!