
🍂🍂🍂🍂
Satu bulan berlalu, Starla belum juga kembali ke ibu kota untuk bertemu dengan Chia. Jangan kan untuk anak itu, karna waktu untuk dirinya saja ia harus pintar-pintar mengakalinya. Telepon pagi dan malam masih rutin di lakukan oleh ibu dan anak tersebut tapi tetap saja rasanya lain. ArXy yang sudah menawarkan diri untuk ia dan Chia datang ke kota X pun di tolak Starla mentah-mentah karna ia tak bisa berjanji untuk menemani Chia di tengah kesibukannya yang luar biasa. Kini Starla yang menjabat sebagai sekretaris CEO tentu harus standby bersama bosnya tersebut yang tak lain adalah Arlan.
Seperti saat ini, mereka baru saja selesai makan malam dengan beberapa Klien disalah satu Resto mewah di kota tersebut.
Rasa lelah dan kantuk membawa Arlan langsung ke rumah Starla untuk mengantar wanitu pulang.
"Selalu ku Aamiinkan semua doa mereka, tak apa kan?" Arlan tersenyum penuh harap sambil meraih tangan Starla yang belum turun dari mobilnya meski sudah berhenti di depan pagar.
"Jika doa nya baik ya tak apa, Kak."
"Aku ingin doa mereka jadi kenyataan, kita menikah," ucapnya lagi pelan dan serius.
"Bukankah kamu yang ingin melihatku sukses dan menjadi wanita Karier? kenapa memintaku untuk menikah di saat aku baru merintis?" sindir Starla.
"Aku tak melarang semua yang ingin kamu raih," balas Arlan, jika saja masa lalu wanita itu tak kembali mungkin semua akan aman mau kapanpun Starla siap ia nikahi.
"Ada Chia yang harus ku perhatikan, satu bulan ini saja aku belum bertemu dengannya, bisakah aku minta waktu dua hari untuk bersamanya?" mohon Starla.
__ADS_1
"Lusa kita pergi ke luar kota, mungkin habis itu baru bisa," Jawab Arlan meski rasanya berat.
Starla mengangguk, tak apa harus menunggu lagi asalkan ia sudah punya bayangan dan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Chia.
.
.
Starla masuk kedalam rumahnya setelah memastikan mobil Arlan pergi dan hilang dari pandangannya. Baru saja wanita itu melepas tas dan blazer yang menempel di tubuhnya posel pun berdering, dari suaranya ia bisa menebak jika itu dari nomer sang mantan suami, tapi saat ia memastikan jam yang tergantung di dinding ia pun mengernyitkan dahi.
"Hallo," sapa Starla, meski ragu ia tetap menganggkatnya.
"Dimana?" tanya ArXy tanpa basa basi seperti biasa.
"Jam segini?" tanya ArXy lagi dengan nada ketus tak enak di dengar.
"Iya, ada pertemuan dan makan malam bersama klien."
Dari yang Starla dengar mantan suaminya itu mendesah kesal, entah ia bergumam apa karna Starla tak begitu bisa mendengarnya. Dan ia masih menunggu pertanyaan apa lagi yang akan di lontarkan oleh ArXy untuknya.
__ADS_1
"Chia sudah tidur?"
"Sudah, dia terus merengek ingin bertemu denganmu. Apa pekerjaanmu itu lebih penting dari dia? jika tak mau lagi bertemu dan mengurusnya tak perlu lagi kamu angkat telepon dari Chia, Paham!" ancam ArXy yang sudah sangat kesal.
"Loh, kok gitu?" protes Starla tak terima.
"Kenapa? baru bekerja saja dengannya kamu sudah melupakan putrimu sendiri, lalu bagaimana jika kalian menikah, hah?" sentak ArXy yang mulai hilang kendali, ia tak benar-benar sudah tak menahan emosinya.
Starla langsung menautkan kedua alisnya. Ia bingung dengan semua yang di tuduhkan ArXy padanya sampai harus membawa pernikahan, pernikahan siapa yang di maksud pria itu?
"Kamu kenapa sih?"
"Kamu masih nanya aku kenapa?" ArXy balik bertanya dengan nada lebih tinggi.
"Iya, kenapa? hobby banget kayanya marahin aku tanpa alesan, marah marah aja terus!" cetus Starla yang ikut kesal karna sedang lelah.
.
.
__ADS_1
.
Kamu ngerti gak sih kalau aku kangen, hah?