
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Cicak terbang?" tanya Starla bingung.
"Iya, mau?" tantang ArXy yang kesalnya tak main-main karna ini adalah mode cemburu buta dan tak jelas karna perkara gedung nyatanya malah di sangkut pautkan dengan mantan CEO tempat istrinya bekerja.
"Bukan masalah mau atau enggak, ya kalau enak sih mau aja, Pah," sahut wanita itu yang membuat ArXy justru menepuk keningnya sendiri, bukannya takut tapi malah membuat penasaran.
"Masalahnya itu---,"
"Apa?" potong ArXy.
"Memang Cicak bisa terbang? bukannya yang terbang itu kecoa ya?" tanya Starla.
"Nah, ini nanti kita coba kalo lagi kepepet, Ok."
Starla semakin di buat tak paham, cicak terbang saja sudah membuatnya pusing di tambahan gaya kecoa yang entah terbang juga kah atau mungkin ngesot dan anclok anclokan, Wallahu alam nanti tanya Sang Gajah dulu, mungkin kedua gaya ini ArXy dapatkan dari bisikin para Suhunya terdahulu.
__ADS_1
Obrolan aneh bin ajaib itu untungnya tak terlalu di dengar oleh Chia yang duduk di kursi belakang mobil mewah papanya. Ia masih anteng dengan mainnya tanpa rewel bertanya ini dan itu.
Sampai di salah satu Mall, gadis cantik yang sampai detik ini masih tunggal itu menarik tangan papanya ke sebuah toko mainan paling besar dan komplot, di sana bak surganya anak-anak karna apapun yang mereka cari di pastikan ada.
"Beli mainan kaya apa lagi sih, Chia?" tanya ArXy, anak itu tahu saja jika urusan seperti ini akan langsung pada sang pemilik kartu ajaib.
"Mau banyak banyak, kemarin masa pengantinnya barbie Chia kepalanya di ganti sama kak Lilin," adu Chia yang sempat di buat menangis selama dua jam oleh Lintang saat di rumah utama.
"Loh, emang kenapa?" tanya ArXy yang sepertinya melewatkan hal ini.
"Iya, suami barbie Chia kepalanya di copotin terus di ganti sama kepala ultraman, katanya kasian jomblo terus, Pah, mahu kawin kawin dia, "
Seperti biasa Chia akan mengambil beberapa mainan yang ia sukai tentunya nya yang kadang belum ia punya dan tugas orangtua nya hanya mengikuti arah langkah kaki putri mereka tersebut.
"Sama yang ini ya, Pah." Chia tersenyum lebar sampai deretan putih gigi kecilnya terlihat semua.
ArXy hanya mengangguk, apa pun akan di berikan pada putrinya selagi anak itu senang dan bisa tersenyum, Chia adalah satu-satunya yang di miliki ArXy selama 4 tahun belakangan kemarin, begitu banyak yang mereka lewati bersama salah satunya hubungan yang tak sempurna karna tak adanya peran ibu disana.
__ADS_1
"Sudah?" tanya ArXy memastikan
Sebanyak apapun mainan yang di beli, Chia akan membawanya sendiri sampai ke meja kasir. Itu adalah bentuk tanggung jawabnya jika semua tak hanya sekedar asal tunjuk. Semakin banyak yang di mau, semakin berat juga beban yang di bawa hingga ke tempat penghitungan akhir.
Jadi, jika tak ingin berat, ambil secukupnya dan pilih yang hanya di perlukan saja agar memudahkan sebuah perjalanan.
Puas berbelanja semua yang di inginkan oleh Nona muda Rahardian Wijaya, kini saatnya Papa Chia yang akan beraksi cuci mata melihat yang warna warni, berenda dan juga tipis-tipis hingga tak layak di sebut pakaian.
"Ngapain ke toko Lingerie?" tanya Starla, perasaannya sudah tak enak takut dijadikan cicak percobaan bagi suaminya.
.
.
.
Kalau Chia beli mainan, aku beli bungkus mainan ajalah...
__ADS_1