KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 9


__ADS_3

Part 9


Kana merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu melempar anak pada pada busa target yang terpasang di dinding.


Sepulang dari sekolah tadi, wajahnya memang sudah di tekuk. Bahkan jika di perhatikan, sebelum keluar dari parkiran pun semua orang tak dapat melihat senyum Kana. Meskipun semua tahu bahwa Kana adalah orang yang hanya tersenyum dalam waktu satu dari tujuh ratus dua puluh menit.


"Hei..."


Kana menoleh ke arah pintu saat Alina— sang Ibu, berdiri di sana.


"Kenapa, Ma?" tanya Kana tanpa merubah posisinya.


"Ada yang nyariin tuh di depan."


"Siapa?"


"Cewek."


Kana melebarkan mata. "Seriusan?"


Alina mengangguk membenarkan.


Kana bangkit dan bergegas keluar. Senyumnya tercipta saat mengetahui seorang gadis tengah menunggunya di luar.


"Kenapa tuh anak? Tumben seneng di datengin cewek," lirih Alina memandang punggung putranya yang berlari kegirangan.


Sebelum sampai di ruang tamu, Kana menghentikan langkah lalu merapihkan rambutnya.


Kana berdeham dan menghela napas, "Stay cool! Inget, lo Kana. Gak ada kata bucin atau baper dalam kamus lo. Lo gak boleh keliatan murahan depan dia atau cewek manapun," ucapnya mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu.


Berbeda dengan Kana yang berusaha mempersiapkan diri, Kaila nampak sibuk dengan pemandangan di depannya.


Saat ini gadis itu tengah memandang foto-foto yang tertempel di dinding ruangan bernuansa hangat tersebut. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang memperlihatkan Tiga anak kecil yang saling merangkul satu sama lain.


"Jadi mereka udah deket dari kecil?" ucapnya memandang foto tersebut. Kaila jelas sudah yakin siapa tiga anak itu.


"Iya, itu Aji sama Adinda yang ada di samping gue."


Kaila menoleh saat Kana telah berada di belakangnya.


"Lo— udah dari tadi disini?" tanya Kaila.


"Ini 'kan rumah gue," ucap Kana dengan tampang sadisnya.


"Ya, gue tahu."


Kana berdecak dan menatap jam di tangannya. "Lo kenapa lama banget sih? Gue 'kan udah bilang, jangan sampai telat semenit pun."


Kaila menghela napas. Ia sudah sangat yakin jika akhirnya Kana akan marah dan komplain dengannya. "Sorry, tadi macet di jalan."


Kana memutar bola matanya lalu meraih kantong plastik dari tangan Kaila. "Makasih," ucapnya dan masuk ke dalam.


Kaila melebarkan mata. "Gitu doang?"


Kana yang mendengar ucapan Kaila pun berhenti dan berbalik badan. "Memangnya apa lagi? Lo kesini cuma nganterin kue doang 'kan?"


"Iya, gue pamit," decak Kaila kesal.


"Eh, tunggu!" ucap Kana.


Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Mulai besok tanggung jawab lo untuk masaki gue mulai berlaku."


Kaila mengangguk.


"Bagus kalau lo inget. Oh ya, jadi perlu lo tahu dan ingat, besok adalah satu dari Sembilan puluh satu hari."


Kaila berdecak. "Gak perlu lo perjelas juga gue inget kok."


Kana mengangguk. "Baguslah!"


Kaila memutar bola mata dan berjalan keluar dari rumah bergaya Amerika klasik modern tersebut.


Kana menyunggingkan senyumnya saat gadis itu keluar dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Kenapa asik sih bikin lo kesel?" lirih Kana seraya menggelengkan kepala dan masuk ke kamarnya.


"Kana!" panggil Alina membuat Kana berhenti dan menoleh.


"Kenapa, Ma?"


"Tadi siapa? Temen kamu?" tanya Alina.


Kana menggeleng. "Dia asistennya Oma."


Alina melebarkan mata. "Oh... Itu yang namanya Kaila?" tanyanya.


Kana mengangguk membenarkan.


"Cantik ya? Pantes aja kamu semangat keluar waktu tahu dia dateng," ucap Alina lalu terkekeh.


Kana menyunggingkan senyumnya. "Terserah Mama deh."


Alina tertawa lalu berjalan keluar untuk melihat gadis tadi. Ia ingin melihat dan bertanya langsung tentang gadis itu. Sebab, mendengar cerita Ibunya tentang gadis itu membuat Alina penasaran.


Senyumnya mengembang saat melihat gadis itu masih di depan.


"Kaila," panggilnya membuat gadis yang memiliki nama lengkap Kaila Zeline Qirani menoleh.


Kaila tersenyum dan sedikit menunduk memberikan rasa hormat.


"Kamu kesini naik apa?" tanya Alina dengan ramahnya.


"Naik ojek online, Tante."


"Sekarang pesen ojek lagi?" tanya Alina.


Kaila mengangguk membenarkan.


"Udah dapet belum?"


"Ini baru aja dapet, Tan."


"Di cancel bisa gak? Ini udah mau hujan loh. Nanti kamu malah kehujanan."


"Udah gak papa, kamu cancel aja. Nanti Tante cari cara supaya kamu sampai di ruko dengan selamat." Alina berusaha meyakinkan.


"Tapi Kaila harus anter kue lagi, Tante."


Alina tersenyum. "Udah kamu cancel tapi 'kan?"


Kaila mengangguk. "Udah, Tante."


"Yaudah, kamu tunggu sini ya. Tante panggil supir dulu buat anterin kamu."


"Ta—" Belum sempat Kaila bicara, Alina sudah masuk ke dalam untuk memanggilkan supirnya.


"Duh, kemana harus di anterin pakai supir sih? Gue gak enak." Kaila menatap satu kantong plastik di tangannya. "Mana belum nganterin punya Aji."


"Eh—em!"


Kaila menoleh dan mendapati Kana tengah berdiri di sampingnya seraya memainkan kunci mobil di tangannya. "Mau di anter kemana?"


Kaila menaikkan alisnya tak mengerti.


"Nyokap nyuruh gue nganterin lo! Lo mau di anter kemana?" tanya Kana dengan wajah datar dan dinginnya.


Jadi ini, supir yang Alina maksud? Puteranya sendiri?


"Halo!" pekik Kana membuat Kaila sedikit tersentak. "Di anter kemana?"


"Ke rumah Aji," jawab Kaila.


"AJI?"


Kaila mengangguk membenarkan.


Kana memutar bola matanya lalu berjalan menuju mobil yang berada di parkiran dan di ikuti oleh Kaila di belakangnya.


Tanpa keduanya sadari, Alina tengah memperhatikan keduanya dari balik jendela. Senyumnya mengembang saat Kaila naik ke dalam mobil bersama dengan Kana.

__ADS_1


"Lo sebenarnya ada hubungan apa sih sama Aji sama Bima?" tanya Kana setelah keduanya keluar dari area rumahnya.


Kaila menoleh. "Gue sama mereka gak ada hubungan apa-apa."


"Lo yakin?" tanya Kana tak percaya.


Kaila mengangguk.


"Hati-hati aja mereka sampai baper sama lo."


Kaila diam. Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa.


"Rumah Aji di depan. Gue tunggu sini aja," ucap Kana saat keduanya sampai di depan gerbang rumah Aji.


Kaila mengangguk dan turun dari mobil Kana.


"Cari siapa ya, Mbak?" tanya seorang satpam yang berjaga di depan.


"Aji-nya ada, Pak?"


"Ada, Mbak. Langsung masuk aja. Biasanya Den Aji ada di ruang tengah."


Kaila mengangguk dan memasuki rumah besar tersebut.


"Eh, Kaila ya?" tanya seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagi Kaila.


Ya! Dia adalah Anna. Kaila sendiri sudah Tiga kali ini bertemu dengan Ibunda Aji. Untunglah wanita itu masih mengingat wajahnya.


"Aji-nya ada, Tante?" tanya Kaila dengan ramahnya.


"Ada, itu dia lagi main game di ruang tengah. Kamu masuk aja, oke?"


Kaila mengangguk dan berjalan masuk menemui Aji di ruang tengah.


"Assalamualaikum, Aji?" lirih Kaila saat melihat laki-laki itu tengah fokus dengan layar besar di depannya. "Aji," panggil Kaila lagi.


Aji menoleh. "Eh, Kaila? Kenapa ya?" Aji menaruh benda di tangannya dan berdiri menemui Kaila.


Kaila tersenyum. "Ini kue."


Aji menaikkan kedua alisnya. "Buat aku?" tanya Aji.


Kaila mengangguk.


"Wah, makasih ya? Padahal aku gak minta lo."


Kaila melebarkan mata.


"Dia gak minta?" ucap seseorang membuat Kaila dan Aji menoleh secara bersamaan.


"Kana?" ucap Aji dan Kaila saat mendapati Kana berdiri di balik lemari yang menjadi penghalang ruang tamu dan ruang tengah.


"Lo ngapain? Katanya nunggu di mobil," ucap Kaila membuat Kana tampak kesusahan mencari jawaban yang tepat.


Aji tersenyum. "Oh, lo takut gue macem-macem sama Kaila?"


Kana melebarkan mata. "Hah? Gue? Takut cewek ini kenapa-napa? Ngapain?" Kana melipat kedua lengannya. "Bodo amat kali. Mau lo culik terus lo kurung di kandang macan juga bodo amat!"


Kaila melirih Kana dengan tatapan tajam.


"Apa lo?" tanya Kana yang sadar dengan lirikan Kaila.


Kaila menghela napas. "Yaudah Ji, gue permisi ya?" ucapnya pada Aji.


Aji menganguk dengan senyuman. "Makasih banyak ya?"


Kaila mengangguk.


"Bilangin juga sama Oma, makasih banyak!" ucap Aji kembali.


Kaila mengangguk dan berjalan keluar.


Saat berada di hadapan Kana, Kaila menatap laki-laki di hadapannya itu dengan tatapan malas. "Nyebelin!" ucapnya lalu melanjutkan langkahnya.


...-o0o-...

__ADS_1


__ADS_2