
Part 26
Kana merapihkan buku-buku yang berada di atas mejaanya dan berjalan keluar dari ruangan.
Pagi ini ia sudah berada di klinik untuk mengecek semua kondisi pasien yang rawat inap serta pasien yang datang untuk rawat jalan.
Kana meraih gagang pintu dan menariknya.
'Ceklek!'
"Kana."
Kana terdiam di tempat. Seseorang itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lo?" Kana menunjuk perempuan itu. "Ngapain disini?" Kana menggelengkan kepala.
Ah, iya! Kliniknya memang tempat umum. Siapa saja bisa datang ke kliniknya. Namun— kedatangan perempuan itu sungguh membuat Kana risih.
"Jadi bener kata Kaila, lo ada di Jakarta," ucap Kana menatapnya.
Gisele tersenyum dan mengangguk. Gisele menghela napas dan menatap sekeliling. "Ngomong-ngomong, lo udah sukses ya sekarang? Gimana hubungan lo sama Kaila? Langgeng? Jadi dia mutusin buat kembali?"
Kana tersenyum miring. "Tentu aja! Gak ada alasan untuk gue dan dia berpisah. Gue terlalu sayang dia, begitupun sebaliknya."
Gisele tertawa kecil dan melipat kedua lengannya di depan dada. "Bagus deh kalau gitu. Gue pikir—"
"Stop ngurusin hubungan gue dan Kaila! Kepergian lo udah sangat membuat hubungan gue dan Kaila tenang."
Gisele menghela napas dan menggeleng. "Siapa juga Kana, yang mau ngurusin hubungan kalian?"
Gisele meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Nih," ucap Gisele seraya menyerahkan sebuah undangan kepada Kana.
Kana terdiam dan meraihnya. "Undangan pernikahan?"
Gisele mengangguk dengan senyuman. "Gue nikah minggu depan! Makanya gue mau undang orang-orang yang udah pernah gue usik hidupnya. Termasuk lo dan Kana." Gisele menghela napas dan kembali menatap Kana. "Gue baru tahu kalau Wilka sama Kevin lagi bulan madu, jadi gue gak bisa undang dia."
Kana tak menjawab. Laki-laki itu masih diam dengan tangan yang memegang undangan pemberian Gisele.
"Oh ya, satu lagi! Beberapa hari yang lalu gue ketemu Kaila. Gue sebenarnya lihat dia, tapi karena buru-buru gue gak sempet nyapa dia." Gisele tersenyum. "Lo bilangin sama dia, jangan terlalu overthinking sama gue. Gue bakal rebut calon suaminya," ucap Gisele seraya menarik dasi Kana dan berjalan pergi.
Kana menggelengkan kepala setelah gadis itu pergi. "Cewek gila!" ucapnya lalu melemparkan undangan itu ke dalam kotak sampah.
"Dokter, maaf," ucap Ayu yang terlihat takut saat menghampirinya.
Kana mengerutkan dahinya. "Untuk?"
"Tadi perempuan yang kesini dia maksa buat ketemu dokter Kana."
Kana tersenyum dan mengangguk. "Gak papa. Dia juga udah pergi kok."
Ayu mengangguk, menunduk dan pamit pergi.
Kana menghela napas dan terlihat lelah. "Gue pikir dia gak bakal berani nunjukin batang hidungnya."
-o0o-
"Kaila!"
Kaila menoleh dan menatap Elsa di sampingnya.
Saat ini keduanya tengah berada di galeri Kaila.
Kaila yang tengah sibuk mengurusi gaun kliennya, serta Elsa yang datang untuk menemani karena tahu Kaila harus lembur.
Kaila mengerutkan dahinya. "Kenapa? Lo ngomong di potong-potong."
"Tadi pas gue ke depan ambil makanan, ada cewek yang ngasih undangan nih."
Elsa menyerahkan undangan itu pada Kaila.
Kaila mengerutkan dahinya dan membaca nama dalam undangan itu.
"Lo kenal?" tanya Elsa.
Kaila terdiam. "Bentar—"
"Kenapa?" Elsa menaikkan kedua alisnya.
"Yang ngasih undangan ini cewek?"
Elsa mengangguk membenarkan.
"Tinggi?"
Elsa kembali mengangguk.
"Rambut sebahu?"
Elsa menghela napas. "Iya, Kaila."
"Dia bilang apa waktu ngasih undangan ini?"
Elsa tampak mengingat. "Dia bilang, 'Sorry, ini galeri Kaila?'"
Kaila mengangguk.
"Terus dia bilang deh, 'Lo siapanya?'. Ya gua jawab, 'Sahabatnya. Kenapa?'. Eh tiba-tiba langsung ngasih undangan ini."
"Terus pergi gitu aja?" tanya Kaila.
Elsa mengangguk membenarkan. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh iya, sama bilang, lo jangan lupa dateng. Karena kedatengan lo sangat di harapkan."
Elsa menghela napas.
"Tapi kalau kedatangan lo sangat di harapkan, kenapa dia gak ngasihin langsung aja sih? Padahal 'kan dia bisa masuk kesini."
Kaila mengangguk dan tersenyum tipis.
"Sebenarnya dia siapa sih, Kai? Dari penampilannya kaya jamet gitu."
Kaila tertawa mendengar kalimat yang Elsa ucapkan.
"Elsa, lo dari dulu gak berubah ih. Kalau ngomong suka sembarang."
Elsa tertawa. "Tapi beneran, Kai. Gue itu kalau ngomong mending apa adanya."
Kaila tertawa dan menggelengkan kepala. "Iya, sih."
"Iya. Lo belum jawab gue, dia siapa?" tanya Elsa yang masih penasaran.
Kaila menghela napas dan menatap jendela. "Bukan siapa-siapa. Dia cuma cewek yang dulu suka sama Kana."
"Dia?"
Kaila mengangguk.
"Tapi lo gak pernah berantem sama Kana gara-gara tuh cewek 'kan?"
Kaila tersenyum miring. "Gak pernah gak berantem." Kaila menghela napas dan tersenyum menatap Elsa. "Udahlah, gak usah bahas dia. Yang ada cuma bikin inget yang udah-udah."
Elsa mengangguk. "Iya, sih." Elsa berdecak. "Kai, kita beneran mau tidur disini?"
Kaila mengangguk membenarkan.
"Aman 'kan tapi?" Elsa terlihat begitu takut.
Kaila tertawa. "Aman, kok. Lagipula disini setiap malem ada satpam yang jaga. Jadi semoga aja aman dari penjahat maupun syaiton."
Elsa tertawa. "Syaiton mah takut sama gue."
"Buh, belagu! Di datengin beneran baru tahu rasa lo!" ucap Kaila menggelengkan kepala.
"Ih, Kaila mah. Dah gih buruan selesain gaunnya. Biar cepet urus gaun lo."
Kaila tersipu malu mendengar ucapan Elsa.
-o0o-
Waktu terus berputar dengan cepat. Tak terasa waku telah menunjukkan pukul 8 malam.
__ADS_1
Di klinik, Kana terlihat tengah beberes untuk pulang.
Laki-laki itu meraih jasnya dan berjalan pergi untuk menuju mobilnya yang terparkir di parkiran.
"Kaila kayanya masih di galeri. Aku mampir kesana ah," ucapnya dengan senyuman dan masuk ke dalam mobil.
Seperti yang kita tahu, jarak antara klinik Kana dan Galeri Kaila hanya berjarak 500 meter. Jadi tak butuh waktu lama, Kana pun telah sampai di depan galeri.
Galeri bernuansa putih dan abu itu terlihat begitu megah saat semua lampu masih menyala terang. Hal itu juga menunjukkan jika masih ada orang di dalam.
"Kana?" ucap Elsa saat melihat Kana turun dari mobil.
Kana menoleh dan tersenyum. Ia melihat Elsa tengah bersama seorang lelaki yang sepertinya kekasih Elsa.
"El, Kaila ada?" tanya Kana.
Elsa mengangguk. "Itu di dalem, lagi lembur dia."
Kana mengangguk dan masuk ke dalam galeri.
Saat di dalam, mata Kana tertuju pada gaun-gaun yang telah Kaila buat. Gaun-gaun itu terpasang rapi di setiap manekin. Membuatnya terlihat begitu indah saat dipandang.
Kana tersenyum dan menuju ruangan Kaila.
Saat sampai di depan pintu, laki-laki itu segera memegang gagang pintu dan mendorongnya.
Pintu terbuka sehingga menampilkan seseorang disana. Kana tersenyum manis, lelaki itu masuk ke dalam dan memandang calon isrinya yang terlihat tengah serius mengerjakan tugasnya.
"Semangat ya sayangku."
Kaila menoleh ke balakang. "Nana!"
Kana terkekeh dan berjalan mendekat. Menghampiri Kaila dan memeluk wanita itu dari belakang.
Kaila terkekeh dan memegang tangan Kana. "Kok kamu gak bilang mau mampir kesini?" ucapnya menatap ke atas.
Kana menggeleng dan mengusap rambut Kaila. "Aku pengen kasih kejutan buat kamu."
Kaila terkekeh dan menunjuk gaun buatannya. "Lihat, bentar lagi jadi."
Kana melebarkan mata dan menatap gaun itu takjub. "Cantik banget gaunnya!"
Kaila tersenyum dan bangkit dari duduknya. Menatap Kana dan memeluk lelaki itu.
Melihat Kaila seperti ini, membuat Kana terkekeh dan memeluknya erat. "Kamu pasti capek banget ya?"
Kaila mengangguk dalam pelukan Kana. "Capek banget."
Kana tersenyum dan menyentuh kedua pipi Kana membuat wanita itu terlihat imut walau cemberut. "Aku kesini buat bikin semangat kok."
Kaila mengangguk.
"Udah makan belum?" tanya Kana.
Kaila menggeleng. "Tadi baru makan siang doang."
"Pesen makanan?"
Kaila mengangguk membenarkan.
"Sekarang makan lagi yuk? Sama aku diluar," ajak Kana.
"Elsa gimana? Dia lagi ke toilet."
Kana tertawa. "Toilet apanya, orang dia lagi ngobrol sama pacarnya diluar."
Kaila melebarkan mata. "Dia diluar?"
Kana mengangguk.
Kaila menghela napas dan menggelengkan kepala. "Elsa, Elsa." Kaila berdecak dan meraih tasnya di atas meja. "Yuk!"
"Jadi makan diluar?"
Kaila mengangguk. "Gak tahan lagi nih perut."
Kana terkekeh dan merangkul Kaila untuk keluar bersama.
-o0o-
Kekasihnya mengangguk. "Iya, Yang. Makanya itu aku langsung pergi aja."
Elsa tertawa dan menggelengkan kepala. "Ada-ada aja."
'Ceklek!'
Sepasang kekasih itu reflek menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka.
Kaila berdecak seraya melipat kedua lengannya. "Ternyata toiletnya udah pindah ya, El?"
Elsa menyengir kuda. "Hehe. Sorry, Kai."
Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala. "Oh ya, kalian mau ikut kita gak?"
"Kemana?" tanya Elsa.
"Makan diluar. Yuk?" ucap Kaila.
Elsa menoleh pada Arnold. "Gimana Yang?"
"Yaudah yuk!" ucap Arnold membuat kedua perempuan itu tersenyum lebar.
Selama di perjalanan, Kaila terus mencoba memejamkan mata. Meskipun ia tahu jarak antara galeri dan restoran yang akan dituju tak terlalu jauh.
"Arnold tahu 'kan restonya dimana?" tanya Kana seraya melihat spion untuk melihat mobil Arnold yang tak terlihat.
Kaila menggelengkan kepala. "Tapi Elsa tahu kok."
Kana mengangguk dan kembali fokus dengan kemudinya.
"Sayang."
Kana menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Tadi Gisele ke galeriku."
"Dia ke galeri juga?" Kana melebarkan matanya.
Kaila mengangguk. "Memang dia juga ke klinik kamu?"
Kana menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. "Tapi Cuma sebentar. Abis ngasih undangan dia langsung pergi."
"Berarti yang aku lihat di toko bahan busana itu beneran dia ya?"
Kana mengangguk membenarkan.
Kaila menghela napas dan menyandarkankan kepalanya di kursi.
"Kita gak usah dateng ya?" ucap Kana.
Kaila mengangguk. "Aku ikut aja gimana." Kaila tersenyum. "Eh— tapi kalau kita dateng, kayanya seru juga, Na."
"Aku gak mau. Ngeliat dia udah cukup bikin emosi."
Kaila terkekeh. "Kamu kayanya dendam banget sama dia."
"Karena dia aku jadi harus kepisah sama kamu," ucap Kana menggenggam tangan Kaila.
Kaila tersenyum. "Yaudah, gimana baiknya aja. Aku ikut apa kata kamu."
Kana mengangguk dan kembali fokus dengan kemudinya. Sedangkan Kaila, perempuan itu meraih ponselnya dan membuka aplikasi instagram.
"Tumben Kak Kei bikin story," lirih Kaila, lalu membukanya.
Kaila membuka mulutnya terkejut saat melihat insta story yang Keiza buat.
"Kenapa, La?" tanya Kana penasaran.
"Kak Kei kayanya lagi dirumah Aji deh. Soalnya dia bikin instastory masak di dapur gitu."
"Coba lihat," ucap Kana.
__ADS_1
Kaila tersenyum dan menunjukkannya.
"Oh iya! Itu dapur Aji."
Kaila tersenyum gemas dan memeluk ponselnya. "Asik banget masak di rumah calon suami."
Kana terkekeh. "Besok kalau kamu udah gak sibuk, masak dirumahku ya?"
Kaila tersenyum lebar dan mengangguk. "Siap!"
Kana terkekeh dan mencium punggung tangan Kaila.
-o0o-
"Makanan datang!" teriak Aji yang baru saja keluar dari dapur bersama dengan Keiza dan menghampiri kedua orangtuanya yang tengah menunggu di meja makan.
"Wah, kapan lagi kita dimasakin calon menantu Pa?" ucap Nana pada Anan.
Anan terkekeh dan meraih sendok. "Boleh langsung Papa coba nih?" tanyanya pada Keiza.
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Silahkan, Pa."
Anan mengangguk dan mulai menyendok makanan yang Keiza buat.
Satu suapan pertama, satu suapan kedua, hingga suapan ketiga, Anan terlihat begitu menikmati.
"Gimana, Pa?" tanya Aji penasaran.
Nana pun menasaran. Perempuan itu masih memandang suaminya yang terlihat mengunyah sembari memejamkan mata.
Dibalik itu, Keiza terlihat takut. Ia takut apa yang telah ia buat, malah tak enak dimata keluarga Aji.
Anan mengangkat kedua tangannya dan mengekspresikannya begitu serius. "Enak banget!" Anan menggelengkan kepala. "Jujur, ini enak banget! Ma, buruan coba."
Nana mengangguk dan segera mencicipinya. Matanya ikut memejam saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya. "Eumm— enak banget!"
Keiza dan Aji tersenyum lebar.
"Alhamdulillah," lirih Aji sembari menggenggam tangan Keiza.
Keiza terlihat begitu bahagia. Ia benar-benar menikmati pemandangan di depannya. Yaitu melihat Anan dan Nana yang terus menikmati makanan buatannya bersama Aji.
Anan meletakkan sendoknya dan menatap sepasang kekasih di depannya. "Seumur hidup, ini pertama kalinya Aji main di dapur. Dan ini karena kamu, Keiza."
Keiza tersenyum haru, lalu melirik Aji.
Aji terkekeh malu. "Tapi walaupun gitu, enak 'kan masakanku sama Keiza, Pa?"
"Oh tentu! Tapi Papa nyebutnya masakan Keiza, bukan masakan kamu. Ya 'kan, Ma?" ucap Anan.
Nana mengangguk. "Bener! Ini masakan Keiza."
"Tapi 'kan Aji ikut andil. Aji bantu potong-potong, bantu goreng-goreng," ucap laki-laki itu seraya mengerucutkan bibirnya.
Anan dan Nana terkekeh.
"Iya, iya. Masakan Keiza sama Aji memang paling top!" ucap Nana akhirnya yang membuat Aji tersenyum lebar dan merangkul Keiza dengan bahagia.
"Yaudah ayo, kita makan bareng. Masa Keiza udah capek masak-masak, Cuma liatin Mama sama Papa makan," ucap Nana membuat Keiza terkekeh.
"Iya, Ma. Ini Keiza ikut makan." Keiza tersenyum dan meraih piring beserta sendok dan garpu.
"Aku ambilin nasi ya?" lirih Aji dan mengambilkan nasi untuk Keiza.
-o0o-
"Eumm— enak banget kepitingnya! Next time kita makan disini lagi ya?" ucap Elsa pada yang lainnya. "Kalau perlu ajakin Aji sama Kak Kei juga. Kayanya asik kalau triple date."
Kaila terkekeh mendengar usulan Elsa.
"Ngomong-ngomong, kalian berdua mau ke galeri lagi?" tanya Arnold.
Elsa dan Kaila mengangguk.
"Aku harus nemenin sahabat aku lembur," ucap Elsa menyandarkan kepalanya di pundak Kaila.
Arnold mengangguk mengerti.
"Kalian berdua jaga kesehatan, kalau gak kuat mending istirahat dulu aja," ujar Kana.
Kaila mengangguk.
"Kalau gitu, biar Kaila ikut di mobil aku aja, Kan. Soalnya 'kan galerinya masih satu arah sama jalan aku pulang," ujar Arnold.
Elsa mengangguk setuju. "Iya, Kan. Biar Kaila sama kita aja."
Kana menoleh pada Kaila dan mendapatkan anggukan.
"Yaudah, kalau gitu, aku titip Kaila ya?" ujar Kana.
Arnold dan Elsa mengangguk membuat Kana tersenyum dan membiarkan kekasihnya bersama dengan Elsa dan Arnold.
-o0o-
Tak terasa, waktu sudah sangat malam.
Keiza keluar dari rumah Aji di antar dengan Aji di sampingnya.
"Maaf ya, kemaleman gini," ujar Aji.
Keiza mengangguk dengan senyuman. "Gak papa kok."
Keiza menoleh pada jam di tangannya dan kembali menatap Aji. "Kamu anter aku ke galeri Kaila bisa 'kan?"
Aji mengangguk dengan senyuman. "Bisa dong! Bye the way, kenapa ke galeri? Memang ada Kaila disana?"
Keiza mengangguk. "Dia ada di galeri sama Elsa. Lembur buat nyelesain gaun kliennya."
Aji membulatkan bibirnya dan mengangguk. "Yaudah yuk, naik." Aji membukakan pintu mobil untuk Keiza naiki.
Keiza mengangguk dan naik ke dalam mobil itu.
"Kei."
Keiza menoleh. "Iya?"
"Besok kita keluar dari rumah sakit sore 'kan ya?" tanya Aji memastikan.
Keiza mengangguk membenarkan. "Kenapa memang?"
"Pulang dari rumah sakit, ada acara gak?"
Keiza menggeleng. "Gak ada tuh."
Aji tersenyum dan mengangguk. "Aku pengen ajak kamu."
"Kemana?" tanya Keiza penasaran.
Aji terdiam beberapa saat, lalu menoleh pada gadis itu. "Tapi kamu jangan mikir macem-macem ya?"
Keiza tertawa. "Memangnya mau kemana sih?"
Aji menghela napas dan menatap Keiza. "Ke makam."
Keiza terdiam. Ia tahu makam siapa yang Aji maksud. Keiza masih diam dan menatap lurus ke depan.
"Maaf ya, Kei. Aku Cuma pengen ngenalin kamu ke dia aja kok. Gak ada maksud lain."
Keiz menghela napas, menoleh pada Aji dan tersenyum. "Gak papa kok."
"Beneran kamu gak papa?"
Keiza mengangguk. "Aku gak papa. Aku malah seneng kamu bawa aku kesana."
Aji mengangguk dan meraih tangan Keiza. "Makasih ya?"
Keiza mengangguk. "Sama-sama. Aku seneng banget kamu terbuka sama aku."
Aji tersenyum, meraih tangan Keiza dan mengusap punggung tangannya.
-o0o-
__ADS_1