KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 7


__ADS_3

Part 7


"Hey."


Kaila melebarkan mata. Ia menoleh pada laki-laki yang kini melepas helm dan tersenyum ke arahnya.


"Ke-ke-ketua?"


Laki-laki itu tersenyum dan menatap Kaila lekat. "Nama gue Erkan, bukan ketua."


Kaila mengangguk. Ia benar-benar gugub kali ini. Bagaimana bisa ia bertemu laki-laki ini di malam hari, terlebih setelah apa yang Kaila lihat siang tadi.


Erkan tersenyum. "Lo liat semuanya 'kan?"


"Hah?" Kana mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Hah, heh, hah, heh. Gue tanya! Lo liat semuanya? Apa yang gue lakuin ke pacar gue tadi siang?"


"Eng-enggak." Kaila menggeleng gugub.


"Lo liat 'kan gue nampar dia?" tanya Erkan dengan suara yang masih bisa di terima.


Kaila mengggeleng. "Enggak, Kak."


"Ngaku! Lo liat 'kan gue nampar pacar gue?" tanya Erkan dengan penuh penekanan.


Kaila menggeleng. "Beneran, Kak."


Erkan tersenyum miring dan menatap Kaila tajam. Laki-laki itu turun dari motornya membuat Kaila takut.


"Gue tahu lo dan pacar lo--"


Kaila menggeleng. "Enggak!" teriak gadis itu dan segera berlari membuat Erkan berteriak memanggilnya.


"Hey!"


Kaila tak mendengarkan, gadis itu terus berlari dengan napas terengah-engah.


Setelah berlari jauh, Kaila memastikan jika Erkan tidak sampai mengejarnya.


"Hfffttt!" Kaila menghela napas panjang. "Kenapa ada orang kaya gitu sih di kampus gue?" ucap Kaila tak habis pikir.


Tiba-tiba Kaila teringat sesuatu.


"Astaga, jangan-jangan cewek yang minimarket tadi pacar orang itu?" ucap Kaila menyebut Erkan adalah orang itu.


Kaila mengangguk. "Gue yakin, itu pasti pacarnya. Walaupun gue belum liat muka dia, tapi postur tubuh dan gerak-gerik cewek tadi mirip banget sama pacar orang itu."


Kaila menggelengkan kepala. "Gak nyangka, cewek itu bener-bener kesiksa gara-gara dia!"


Kaila mengedikkan bahu dan berlari menuju rumahnya yang tinggal berjarak Lima puluh meter lagi.


...-o0o-...


Wilka terlihat tengah menyalin materi yang ia dapatkan pagi tadi ke dalam buku catatan.


Gadis itu terlihat rajin jika sedang berada di rumah. Namun terlihat malas jika berada di kampus.


Dan memang benar. Kadang sebagian orang akan terlihat seperti itu, atau bahkan sebaliknya.


"Masih lama gak?" tanya seseorang membuat Wilka menoleh.


"Masih," jawab Wilka singkat setelah mengetahui saudara kembarnya yang menghampiri.


Wilka memang memiliki saudara kembar yang bernama Wilko, Wilko Felorie Anandra. Laki-laki yang saat ini tengah melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan perfilman di Kota kelahirannya tersebut.


"Dek, lama banget sih nulisnya?" ucap Wilko yang mulai sebal.


"Dak dek dak dek, memang aku adek kamu. Beda Lima menit doang sok sok mau jadi kakak," gerutu Wilka.


Wilko berdecak. "Yaudah makanya cepet nulisnya, aku mau minta temenin kamu keluar."


"Astaga, keluar sendiri memang kenapa sih? Makanya cari pacar Wilko, biar kalau keluar-keluar gak bingung. Kalau kaya gini, aku ikut kesusahan 'kan?"


Wilko berdecak. "Kalau aku udah nemu yang pas, pasti aku pacarin kok!"

__ADS_1


"Halah, gitu aja terus dari dulu ngomongnya."


"Ayo, Wilka. Buruan. Sebentar doang," pinta Wilko.


Wilka menutup bukunya dan menoleh pada Wilko. "Mau kemana sih?"


"Mau nganterin buku temenku."


"Cewek?"


Wilko mengangguk.


Wilka tertawa. "Ahh, aku tahu aku tahu. Pasti cewek yang kamu taksir 'kan?"


"Mana ada! Dia malah yang naksir sama aku. Makanya itu aku mau ajak kamu. Dia 'kan gak tahu kalau aku punya kembaran," ucap Wilko.


"Jadi maksud kamu, kamu mau manfaatin aku gitu? Untuk ngejauhin cewek yang naksir kamu?" Wilka menaikkan kedua alisnya.


"Ya kurang lebih gitu lah. Makanya ayo."


"Gak mau!"


Wilko berdecak. "Ayolah," bujuknya.


Wilka menggeleng. "Aku gak mau ya besoknya dilabrak sama cewek itu karena di sangka pacar kamu."


"Enggak-enggak," ucap Wilko. "Ayolah!"


Wilka tetap menggeleng.


"Wilka."


'Drtttt!'


Ponsel Wilka bergetar membuat Wilka menjulurkan lidah pada Wilko dan berjalan mengambilnya di atas meja.


Senyumnya melebar dan langsung menuju pada Wilko. "Temen aku nelpon! Bye!" ucapnya lalu beralih pada ponselnya. "Halo, Kaila. Ada apa?"


"Halo Wil, kamu lagi apa? Lagi sibuk gak?"


Wilko menghela napas panjang dan meninggalkan kamar saudara kembarnya tersebut. Saudaranya benar-benar tak bisa ia mintai pertolongan.


"Gimana Kai? Gimana?" tanya Wilka membuka topik.


"Aku pengen nanya sama kamu, kamu tahu gak kakak tingkat yang jadi ketua panitia waktu kita pengenalan kampus?"


Wilka tanpa mengingat. "Maksud kamu kakak yang tinggi itu?"


"Iya!" jawab Kaila.


"Ohh, itu mah temen sekelasnya Kak Flero kalau gak salah."


"Kamu tahu gak siapa pacarnya dia?"


"Enggak. Memang kenapa? Kamu suka ya sama dia!" goda Wilka.


"Ih, bukan!"


Wilka tertawa. "Gak papa kali suka juga. Lagipula setahuku dia pinter, baik, punya jiwa pemimpin lagi."


Kaila terdiam di seberang sana. Wilka benar-benar tidak tahu bagaimana Erkan sebenarnya.


"Ka," panggil Kaila.


"Iya?" Wilka menaikkan kedua alisnya.


"Kamu lagi sama siapa sekarang?"


"Sendiri nih, kenapa memang? Kamu mau cerita?"


"Iya."


"Yaudah cerita gih," ujar Wilka sembari berjalan menuju kasurnya.


"Tapi kamu janji ya, jangan sebarin ini dulu ke siapa-siapa."

__ADS_1


"Iya-iya. Memangnya ada apa sih?" tanya Wilka penasaran.


Terdengar suara helaan napas di seberang sana. "Tadi siang, aku liat Erkan nampar pacarnya. Aku gak tahu detailnya. Cuma, aku ngeliat ceweknya begitu trauma sama Erkan."


Wilka melebarkan mata. "Kamu serius, Kai?"


"Serius! Dan barusan, aku ketemu Erkan. Kayanya dia tahu kalau aku liat semuanya. Makanya tadi dia nyamperin aku dan kaya marah gitu."


"Tapi kamu gak papa 'kan?" tanya Wilka khawatir.


"Iya, aku gak papa. Cuma, aku masih takut aja buat keluar. Takut dia masih dendam sama aku."


Wilka menggigit bibir bawahnya. "Terus sekarang kamu dimana?"


"Aku udah di rumah sih. Cuma aku sendirian sekarang. Mama sama adikku lagi ke rumah saudara."


"Yaudah, kalau gitu aku ke rumah kamu sekarang ya? Aku temenin."


"Gak usah, Ka. Aku gak enak sama orangtua kamu. Lagipula udah malem juga," ucap Kaila.


Wilka tersenyum. "Gak papa kali. Yaudah, aku siap-siap dulu ya, Lima menit lagi aku sampai di sana," ucap Wilka lalu mematikan sambungannya.


-o0o-


Kaila memeluk lengannya sendiri. Tangannya benar-benar dingin. Entah mengapa, ia terus kepikiran dengan kakak tingkatnya tersebut.


Bagaimana bisa Kaila terjebak dalam rasa penasarannya sendiri. Mungkin jika tadi pagi ia tidak penasaran dan tidak melihat semuanya, ia tidak akan seperti ini.


"Bodoh, lo Kaila!"


Kaila menggigit bibir bawahnya. Ia menoleh pada jam dinding yang berdenting. Suasana rumahnya benar-benar sepi. Hanya terdengar suara jalan dan dentingan jam.


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila menoleh ke pintu. Ia segera bangkit dan membuka tirai jendela. Di sana terlihat Wilka tengah berdiri di depan pintu sembari menunggunya membukanya.


'Ceklek!'


"Ayo masuk!" seru Kaila dan mengajak Wilka untuk duduk terlebih dahulu.


"Kai."


"Iya?" Kaila menaikkan kedua alisnya.


"Aku rasa kakak tingkat kita itu masih ngikutin kamu."


Kaila melebarkan mata. "Kamu serius?"


Wilka mengangguk. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela. Menggeser tirai dan menunjuk seseorang di seberang jalan. "Coba deh kamu liat, disana ada motor."


Kaila melebarkan mata. "Itu motor dia!"


Wilka menatap Kaila, mencoba menelan salivanya dengan susah payah. "Kamu harus hati-hati, Kai."


"Terus gimana dong? Apa kita telpon polisi aja?"


Wilka menggeleng. "Jangan. Mending kamu telpon Kana. Suruh dia cepet kesini."


"Gak bisa, Ka."


"Kenapa?" Wilka terlihat bingung.


"Kana punya phobia sama kecepatan, aku takut, kalau Kana tahu soal ini dia akan panik," jelas Kaila.


Wilka menggigit bibir bawahnya.


"ERKAN!" teriak seseorang dari luar membuat Kaila dan Wilka menoleh terkejut.


'Bug!'


"Erkan di hajar?" ucap Kaila melihat seseorang memukul wajah Erkan. "Siapa yang ngehajar dia?"


"I--itu 'kan Wilko!" seru Wilka saat menyadari Wilko-lah yang tengah menghajar Erkan.


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2