KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 50 [END]


__ADS_3

Part 50 [END]


a/n :


Hai,


Maaf kalau judul partnya bikin kalian kaget atau ngerasa ; "Ih, kok ending?", "Lah, udah selesai? Gitu doang? Ah gak asih ah."


Aku maklum, kok.


Tapi kalian tenang aja, ini bukan akhir dari kisah Kana. Tapi akhir dari cerita SMA mereka. Karena, setelah ini mereka akan memasuki dunia baru.


Yaps, Dunia perkuliahan.


Aku sengaja bagi cerita ini menjadi beberapa season. Season 1 (Awal Cerita Kana), Season 2 (Dunia perkuliahan), dan akan ada beberapa season lagi.


Aku sendiri sebagai Author punya pesan tersendiri untuk Kana dan Kaila.


"Untuk Kana dan Kaila, terima kasih untuk keuwuan dan keromantisan kalian. Terima kasih untuk cueknya Kana yang berhasil buat Kaila jatuh hati. Terima kasih untuk Kaila yang malu-malu tapi malah buat Kana suka. Terima kasih juga karena kalian berhasil lewati rintangan yang ada. Tapi, kalian berdua jangan senang dulu. Perjalanan kalian masih panjang. Masih banyak kisah yang akan kalian lalui. Jadi pesanku, tetap bersama apapun masalah yang ada."


Dan buat para pembaca semuanya. Kalian bukan sekedar pembaca yang menikmati karyaku. Menurutku, kalian adalah hal terbesar yang buat aku terus melanjutkan kisah ini walaupun rasanya malas. Tapi dengan adanya kalian, aku merasa aku bisa!


Makasih banyak, ya?


Jangan pernah lupa untuk meninggalkan komentar kalian. Karena, komentar kalianlah yang membuat aku terus bangun dan semangat.


Selamat menikmati.


...-o0o-...


"Aku pulang dulu ya? Kamu hati-hati di perjalanan nanti. Kabarin kalau udah sampai di sana," ucap Kana setelah Kaila turun dari motornya.


Kaila mengangguk. "Terus kamu kapan berangkat kesananya?"


"Mungkin Satu minggu sebelum masa pengenalan kampus."


Kaila membulatkan bibirnya. "Masih Dua minggu lagi dong?"


Kana mengangguk membenarkan.


"Bakal kangen."


Kana terkekeh lalu mengusap pucuk kepala Kaila. "Kenapa sih pacar aku gemesin banget?"


Kaila mengerucutkan bibirnya. "Orang aku ngeluh, dibilang gemesin," ucapnya seraya menarik ujung bajunya.


Kana tertawa, menghela napas dan menatap lekat kekasihnya. "Aku juga bakal kangen kok sama kamu. Tenang aja, Dua minggu gak lama. Setelah ini, kita ketemu lagi di kampus dan bakal bareng-bareng lagi."


Kaila mengangguk. "Berdoa ya semoga nanti kita satu kelas."


"Aamiin. Aku pasti berdoa kok."


Kaila tersenyum lebar. "Yaudah, pulang gih, bentar lagi kayanya hujan," ucap Kaila memandang langit yang mulai mendung.


Kana mengangguk. Meraih tangan Kaila dan mengecupnya.


Kaila terkejut dengan apa yang Kana lakukan. Pipinya sudah merah seperti kepiting rebus.


"Aku pulang, Assalamualaikum," ucap Kana dan berlalu pergi.


"Waalaikumsalam," jawab Kaila yang masih diam mematung.


Kaila menggelengkan kepala. Mengangkat tangan kanannya dan memandang dengan tatapan tak percaya. Seketika senyumnya melebar. "Mama!" teriaknya histeris dan berlari masuk ke dalam rumah.


-o0o-


Setelah menaruh motor ke dalam garasi. Kana berjalan masuk memasuki rumah dengan kunci motor yang memutar di jarinya.


Dengan siulan di bibirnya, Kana memandang lurus isi rumahnya untuk langsung berjalan menuju kamar.


"Kamu baru pulang?" ucap seseorang membuat Kana menoleh.


"Mama?"


Alina tersenyum. "Kamu darimana aja? Berangkat pagi pulang magrib. Tadi Aji sama Adinda kesini nyariin kamu."


Kana membulatkan bibirnya.


"Dia nunggu kamu lama, lho. Tapi karena kamu gak pulang-pulang, mereka akhirnya pergi."


"Yaudah nanti Kana ke rumah mereka."


Alina mengangguk. "Kamu memangnya darimana aja?"


Kana menghela napas. "Jalan."

__ADS_1


"Sama anak itu?" tanya Alina.


Kana tak menjawab.


"Gak perlu kamu jawab, Mama udah tahu." Alina menghela napas dan melipat kedua lengannya. "Mama gak ngelarang kamu berteman sama dia."


Kana menoleh dan menyunggingkan senyumnya.


"Tapi Mama gak mau kalian berdua dekat apalagi pacaran."


Senyum Kana memudar. Ia menghela napas dan mengeratkan tas yang ia gunakan.


"Mama tahu ini berat buat kalian berdua. Tapi kalian berdua juga harus ngertiin perasaan orangtua kalian."


"Terus kapan orangtua kita ngerti perasaan kita?" tanya Kana membuat Alina diam.


Alina menghela napas dan mengangguk. "Mama tahu ini bikin kamu terluka. Tapi tolong kamu ngerti, ini pertama kalinya Mama mohon sama kamu. Selama ini apa pernah Mama ngelarang keinginan kamu? Enggak 'kan? Mama selalu berusaha untuk menjadi orangtua yang baik buat kamu. Dan sekarang, saatnya Mama minta pengertian kamu, nak."


Kana memutar bola matanya. "Pengertian yang bikin anak Mama sendiri terluka? Ma, ini pertama kalinya Kana cinta dan sayang sama seseorang. Jadi Kana mohon, tolong buang semua ego dan masa lalu Mama yang bikin Mama terluka."


Alina menggeleng. "Gak bisa. Mama tahu itu udah masa lalu dan memang seharusnya Mama lupain. Tapi Mama gak bisa, nak."


Kana menghela napas kasar dan berjalan menuju kamar.


"Kana, Mama belum selesai ngomong—"


'Brakkk!'


Pintu kamar di tutup dengan kerasnya oleh Kana.


Alina menghela napas panjang. "Apa aku salah ngelarang dia dekat sama Kaila?" ucapnya seraya mengusap wajah gusar.


-o0o-


Kana melemparkan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan mata. Rasanya lelah sekali membicarakan hal yang tidak ingin ia dengar.


"Sampai kapan Mama ngelarang gue deket sama Kaila?" Kana menghela napas kasar dan kembali membuka mata.


Ia memandang ke arah dinding dan menatap wajah gadis yang terpampang lebar di sana.


"Pertama kali liat lo, gue pikir lo sama kaya cewek-cewek diluar sana. Ternyata gue salah Kai, lo memang beda. Gue ngerasa beruntung bisa milikin lo." Kana tersenyum dan melipat kedua lengannya untuk ia jadikan sebagai bantal.


"Gue gak akan biarin satu orang pun misahin kita. Meskipun itu orangtua gue sendiri."


'Drrrtt!'


Senyumnya mengembang saat mengetahui jika Kaila-lah yang mengiriminya pesan.


Lala : Udah sampai rumah?


Kana mengangguk refleks.


Karena rindu mendengar suara Kaila, Kana pun mendial nomor kekasihnya tersebut.


"Halo," ucap Kaila di seberang sana.


"Seneng banget bisa denger suara kamu."


Terdengar suara tawa kecil di seberang sana. "Baru juga ketemu."


Kana tersenyum. "La," panggil Kana.


"Iya?"


"Aku kangen."


"Sama aku juga," jawab Kaila membuat Kana tersenyum dan mengepalkan tengannya dengan rasa senang.


"Kamu berangkatnya besok 'kan?"


"Iya. Kenapa memang?"


"Pengen ketemu kamu lagi," ucap Kana seraya memejamkan matanya menunggu apa balasan dari Kaila.


"Yaudah, ayo ketemu."


Kana melebarkan mata. "Serius?"


"Iya. Masa bohong."


"Yes!" lirihnya pelan. "Emm— yaudah, kalau gitu aku siap-siap, sebentar lagi aku sampai rumah kamu."


"Gak usah."


Kana mengerutkan dahinya. "Maksudnya? Gak usah gimana? Gak usah ke rumah kamu?"

__ADS_1


"Kita ketemu di lapangan deket sekolah aja gimana?"


"Lapangan yang ada tamannya itu?"


"Iya. Gimana? Biar gak terlalu jauh di kamu dan gak terlalu jauh di aku juga."


Kana mengangguk setuju. "Sepuluh menit lagi aku sampai disana."


"Oke. Sampai ketemu disana, Nana," ucap Kaila lalu mematikan sambungannya.


Kana tersenyum dan memandang ponselnya tersebut dengan tatapan bahagia.


"Huft!" Kana menghela napas, membuka lemarinya dan bersiap.


-o0o-


"Bener. Mendung belum tentu hujan, dan hujan gak selalu di sertai mendung. Itu juga yang aku rasain sama Kana. Kita pacaran gak di sertai restu." Kaila menghela napas. "Sampai kapan kami kaya gini? Apa bener suatu saat Tante Alina bisa terima aku lagi seperti dulu. Sebelum dia tahu kalau aku anak dari masa lalu suaminya?"


Kaila menghela napas panjang dan memandang langit malam. "Ya Allah, jika Kana memang jodoh hamba. Maka, bukakanlah hati orangtua Kana. Agar mereka tahu betapa—"


"Lala!"


Kaila menoleh pada sumber suara. Ia tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Udah dari tadi?" tanya Kana saat ia sampai di hadapan Kaila.


Kaila menggeleng. "Barusan aja."


"Untung aja gak jadi hujan ya?"


Kaila mengangguk. "Semesta sengaja kasih kesempatan waktu untuk kita."


Kana tertawa. "Kamu bener. Mungkin kalau hujan, kita gak mungkin ada disini."


Kaila mengangguk membenarkan.


"Kamu udah makan?" tanya Kana.


Kaila menggeleng.


"Kita makan ketoprak yang ada di sana aja yuk?" ajak Kana seraya menunjuk penjual ketoprak yang berada tak jauh dari keduanya.


Kaila mengangguk. "Ayo. Kebetulan aku juga lagi pengen makan ketoprak."


Kana terkekeh, meraih tangan Kaila dan membawa gadis itu menuju penjual ketoprak tersebut.


"Pesen Dua porsi ya, Pak?"


"Siap, Mas!"


Penjual ketoprak itu segera mempersiapkan pesanan sepasang kekasih tersebut. Ia terlihat lihai dalam membuatnya. Tak butuh waktu lama, ketoprak keduanya pun jadi dan siap untuk di nikmati.


"Silahkan, Mas, Mbak."


Kaila tersenyum. "Makasih ya, Pak?"


"Sama-sama, Mbak."


Kana tersenyum memandang gadis di depannya.


"Kenapa sih liatinnya gitu amat?" tanya Kaila penasaran.


Kana mengeleng. "Gak papa. Seneng aja liatnya."


Kaila tertawa.


"Kamu tahu gak apa yang bikin ketoprak malam ini spesial?" tanya Kana.


Kaila mengerutkan dahinya. "Apa?" tanyanya serius.


"Karena ada kamu."


Kaila memutar bola manya. "Gak nyambung."


Kana terkekeh dan menyuapkan sesendok ketoprak ke dalam mulutnya. "Umm— enak banget! Mau aku suapin gak?"


Kaila menggeleng.


"Udah aku suapin aja. Ini enak banget. Gak bohong!" Kana menyuapkan sesendok ketoprak ke dalam mulut Kaila. "Gimana? Enak 'kan?"


"Iya."


Kana tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.


Kaila menghela napas dan tersenyum memandang laki-laki itu. "Makasih banyak Kana, kamu udah bikin hidup aku berwarna."

__ADS_1


...-END-...


__ADS_2