KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 21


__ADS_3

Part 21


'Brukk!'


Kaila meregangkan tangannya setelah menaruh semua bahan busana yang telah ia beli.


Kaila menghela napas panjang dan menatap manekin di hadapannya. Tangannya menyentuh manekin itu dan tersenyum. "Semangat Kaila, usaha kamu akan dimulai lagi dari sini."


Kaila menggangguk semangat dan berpetuk tangan menyemangati diri. "Oke, ayo kita mulai!"


Wanita itu berjalan mencari buku catatan berisikan ukuran gaun yang akan calon pengantin gunakan.


Jika kalian ingat, klien Kaila kali ini adalah seseorang yang saat itu bertemu dengan Kaila di hotel.


Benar, mereka akan menyelenggarakan pesta pernikahan dua minggu lagi. Hal itulah yang membuat Kaila harus segera mempersiapkannya sebagus dan secantik mungkin.


"Supaya pengantinnya bahagia," lirih Kaila dan mulai menggambar pola gaun yang diinginkan kliennya.


Dilain tempat, tepatnya sebuah klinik yang berjarak Lima ratus meter dari galeri Kaila, Kana terlihat tengah melihat kondisi pasiennya.


"Bagaimana, Bu? Apa mualnya masih terasa?" tanya Kana dengan penuh rasa hangat.


Pasiennya menggeleng. "Setelah meminum obat yang dokter resepkan tadi, mual saya perlahan menghilang, Dok."


Kana mengangguk dengan senyuman. "Saya cek tekanan darahnya dulu ya?"


Pasiennya mengangguk dan meluruskan lengannya.


Dengan teliti, Kana mengukur tekanan darah itu. "Baik ibu, tekanan darah Ibu sudah kembali normal. 120/80 mmHg ya, Bu. Sekarang coba ibu berbaring yang lurus."


Pasiennya mengangguk.


Kana tersenyum dan meletakan stetoskop kepada perut pasiennya. Senyum Kana mengembang dan melepaskan stetoskop yang juga menempel di telinganya.


"Keadaan Ibu udah jauh lebih ya? Tekanan darah Ibu sudah membaik, mualnya sudah menghilang, wajah ibu juga sudah lebih ceria. Betul 'kan?"


Pasiennya mengangguk dengan senyuman.


Kana tersenyum dengan anggukan. "Karena Ibu sudah jauh lebih membaik, maka Ibu sudah di perbolehkan pulang hari ini."


"Alhamdulillah," ucap suami pasien yang berada di samping pasien tersebut.


"Baik, sebelum pulang, saya resepkan obat dulu ya untuk Ibu konsumsi di rumah. Nanti bisa di tebus di apotik kami ya? Bawa saja resep yang sudah saya tuliskan."


Suami pasien mengangguk.


Kana tersenyum dan berbicara pada perawat Ayu yang berada di sampingnya.


Setelah membicarakan kepulangan dan kondisi pasien, Kana pun berjalan pergi menuju pasien lain.


Jika dilihat, Kana memang benar-benar dokter yang ramah dan juga telaten. Hal itulah juga yang menjadi faktor kesembuhan pasiennya. Benar-benar dokter idaman, kata Kaila.


-o0o-


'Tap! Tap! Tap!'


Terdengar suara langkah membuat Kaila menoleh ke arah pintu.


Wanita itu segera bangkit dan berjalan menghampiri sumber suara.


'Tok! Tok! Tok!'


Kaila mengerutkan dahinya dan memutar knop pintu.


"Halo, Kaila!"


Kaila tersenyum lebar dan menundukkan kepala memberikan rasa hormat. "Halo," ucap Kaila pada Mella, klien yang saat ini tengah Kaila kerjakan gaunnya.


Mella tersenyum dan menoleh pada calon suaminya. "Sayang, ini Kaila. Yang bakal buat gaun pernikahan kita."


Calon suaminya mengangguk dengan senyuman.


"Kaila, kenalin ini Alan, calon suami aku."


Kaila mengangguk dan tersenyum pada Alan.


"Oke, silahkan masuk."


Alan dan Mella mengangguk dan melangkah masuk.


"Silahkan duduk," ucap Kaila menyuruh keduanya.


Mella duduk di kursi yang telah disediakan dan tersenyum pada Kaila. "Kaila, aku sama Alan kesini bukan mau bikin kamu buru-buru. Tapi aku kesini pengen liat motif gaunnya. Gak papa 'kan? Soalnya karena tadi kamu bilang habis beli bahannya dan kebetulan aku lewat depan galeri kamu, jadi aku putusin buat mampir."


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Gak papa, Mel. Ini aku tunjukin bahannya. Oh ya, udah sebagian aku pasang di manekin. Jadi kamu bisa lihat gimana gaun itu terpasang."


Mella mengangguk dan mengikuti langkah Kaila.


"Waw, ini?" tanya Mella menunjuk bahan busana yang terpasang di manekin.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Tapi ini belum aku apa-apain, belum aku rancang juga yang keinginan kamu."


Mella mengangguk mengerti. "Gak papa! Baru lihat bahannya pun aku udah seneng banget!" ucap Mella lalu menoleh pada Alan. "Gak sabar pengen cepet nikah," bisiknya.


Alan terkekeh dan merangkul pinggang Mella, lalu mengusap rambut Mella dengan penuh hangat. "Yang sabar dong, 'kan dua minggu lagi."


"Dua minggu apanya?" tanya Mella.


"Kita nikah," ucap Alana sembarin mencubit pipi Mella dengan gemas.


Kaila tersenyum melihat pemandangan di depannya. Rasa iri kembali menyeruak dalam hatinya.


"Kapan Kana lamar aku?" ucapnya dalam hati. "Dia selalu bilang usaha dan kerja keras dulu, tetapi sampai sekarang gak pernah bilang kapan dia bakal nikahin aku."


"Kaila! Kaila!"


Kaila tersentak. "Ah, iya?"

__ADS_1


Mella terkekeh. "Kamu kenapa melamun?"


Kaila tersenyum dan menggeleng. "Gak papa."


Mella mengangguk dan merangkul lengan Alan. "Kalau gitu, aku pamit dulu ya? Alan ada acara soalnya di kampusnya."


Kaila mengerutkan dahinya. "Kalian masih kuliah?"


Mella tersenyum dan mengangguk. "Kami lagi lanjut S2. Tapi karena kita berdua pengen cepet halal, akhirnya kita putuskan buat menikah sekarang."


"Memang gak menganggu kuliah kalian? Dan—"


Allan menggeleng dengan senyuman. "Enggak dong. Yang penting kita bisa sama-sama mengerti, berpikir dewasa dan urusan rezeki udah yang ngatur. Jadi gak perlu khawatir soal finansial."


Mella mengangguk setuju. "Bener banget! Lagipula menikah 'kan ibadah. So, kalau itu ibadah, gas dong!" ucapnya terkekeh.


Kaila mengangguk setuju dan menyunggingkan senyumnya. "Bener."


"Bye the way, Kaila udah menikah?" tanya Mella.


Kaila terdiam beberapa saat dan menggeleng. "Belum."


Mela menutup mulutnya. "Maaf Kaila, aku gak bermaksud—"


Kaila mengangguk mengerti. "Gak papa kok. Doain aja, semoga cepet terlaksana."


"Aamiin," ucap Mella dan Alan bersamaan.


"Kalau gitu, aku sama Alan pergi dulu ya, Kai."


Kaila mengangguk. "Hati-hati," ucapnya seraya mengantarkan Alan dan Mella sampai depan.


Setelah sepasang kekasih itu pergi, Kaila kembali ke ruangannya. Wanita itu menghela napas panjang dan mengingat perkataan Alan dan Mella tadi.


Ia mendudukkan dirinya di kursi dan terdiam. "Mereka aja bisa berpikir gitu, kenapa aku sama Kana enggak ya?" Kaila menghela napas dan menyandarkan kepalanya di meja.


'Drttt!'


"Kana?" ucap Kaila saat melihat Kana menelponnya.


Wanita itu segera menggeser tombol hijau dan meletakkan di telinganya.


"Halo, sayang?" ucap Kana di seberang sana.


"Halo."


"Kamu kenapa sih? Kok gak semangat gitu angkat telponnya?" tanya Kana.


Kaila refleks menggeleng. "Gak papa kok. Aku Cuma lagi capek aja."


"Banyak banget ya yang harus di kerjain?' tanya Kana.


"Enggak, sih. Cuma, barusan klien aku kesini sama calon suaminya. Dan ternyata mereka masih kuliah sekarang. Tapi memutuskan untuk menikah," ucap Kaila yang mencoba memberi kode agar Kana mengerti maksud ucapannya.


"Ooh, gitu."


"Lah, terus harus jawab apa?" ucap Kana.


Kaila berdecak. "Tau ah!" ucapnya dan mematikan sambungannya. "Gini terus aja sampai aku jadi perawan tua!" ucapnya kesal dan kembali menyandarkan kepala di meja.


-o0o-


Kana mengerutkan dahinya seraya memandang ponselnya. "Kaila kenapa sih? Dia lagi haid apa ya, makanya sensitif gini?" tanyanya dalam hati.


Kana menghela napas dan menggelengkan kepala.


-o0o-


"Kak Kei, ke galeri Kak Kaila yuk," ucap Kiara pada Keiza yang tengah membaca novel di kamarnya.


Keiza menoleh. "Jangan ah. Nanti dia keganggu. Deadline dia gak sampai dua minggu lagi. Takut ngengaggu dia malah."


Kiara mengerucutkan bibirnya. "Iya juga sih."


Keiza tersenyum. "Sini tiduran aja di kamar kakak sambil pijetin kakak."


Kiara melebarkan mata dan melemparkan boneka pada Keiza. "Enak bener kalau ngomong!"


Keiza tertawa. "Menyenangkan seorang kakak bisa menambah pahala, lho."


"Hadist siapa yang bilang, hmm?" Kiara menaikkan kedua alisnya mendekat ke wajah Keiza.


Keiza tertawa dan mencubit pipi Kiara dengan gemas.


"Kak Keiza! Aku tuh sakit gigian loh! Malah dicubit!"


Keiza terkekeh dan menunjuk kotak obat dikamarnya. "Nah kalau sakit gigi ambil obat disana!"


"Nyebelin emang," ucap Kiara mencubit paha Keiza dan berjalan pergi.


"Dek, mau kemana kamu?" tanya Keiza pada adiknya.


"Jalan sama Aldo."


Keiza menghela napas dan menggelengkan kepala, lalu melanjutkan bacaan novelnya.


'Tok! Tok! Tok!'


Wanita itu menoleh ke arah pintu.


"Apa, Kiara?" teriaknya.


"Ada cowok di depan!"


Keiza mengerutkan dahinya. "Cowok?"


Wanita itu pun menutup novelnya dan berjalan keluar.

__ADS_1


Dalam diam, Keiza penasaran. Siapa cowok yang Kiara maksud?


'Ceklek!'


Pintu terbuka.


Keiza mengerutkan dahinya saat melihat seseorang tengah duduk di kursi depan dan tersenyum ke arahnya.


"Aji?"


Aji tersenyum. "Gak lagi ngapa-ngapain 'kan?"


Keiza menggeleng.


"Jalan yuk!"


Keiza mengerutkan dahinya. "Jalan?"


Aji mengangguk. "Aku pengen ajak kamu ke pantai."


Keiza menutup mulutnya tak percaya. Aji mengajaknya ke pantai? Apa tidak salah dengar?


Aji terkekeh. "Ayo! Aku udah siapin makanan, minuman, alas untuk kita piknik disana."


Keiza mengerutkan dahinya. "Aku gak salah denger?"


Aji tertawa. "Enggak, Keiza!Aku beneran ajak kamu. Ya, hitung-hitung menebus kesalahan aku di acara rumah sakit kemarin."


Keiza terdiam beberapa saat.


"Ayo!" ucap Aji lagi.


Keiza tampak berpikir.


"Ayo, Keiza! Aku udah jauh-jauh lho kesini."


Keiza mengangguk ragu dan tersenyum. "Oke!"


Aji melebarkan mata menunjukkan rasa senang.


"Aku ganti baju dulu ya?" ucapnya.


Aji mengangguk. "Aku tunggu di mobil."


Keiza tersenyum dan masuk ke dalam.


Keiza masuk ke dalam dengan raut wajah senang. Entah mengapa, melihat Aji manis kepadanya membuat Keiza merasa senang.


Keiza terkekeh. "Aku kenapa sih?"


"Hayo senyum-senyum," ucap Kiara yang keluar dari kamarnya.


"Loh, kamu mau kemana?" ucap Keiza melihat Kiara sudah tampil rapi.


"Jalan dong sama Aldo!" ucap Kiara dengan senyuman lebar.


Keiza mengerutkan dahinya. "Beneran?"


Kiara tertawa. "Iyalah! Sejak kapan aku bohong soal pacar."


Keiza melebarkan mata. "Kamu punya pacar?!"


Kiara mengangguk dengan senyuman. "B aja dong! Kaya gak pernah ABG aja," ucapnya lalu mencium pipi Keiza.


"Kiara!" teriak Keiza saat Kiara berlari pergi.


Keiza menggelengkan kepala. "Blak-blakan banget tuh anak. Gue dulu punya pacar selalu diem-diem. Lah ini, di umumin depan publik." Keiza menghela napas dan masuk ke kamarnya.


-o0o-


"Kak Aji?"


Aji menoleh dan mengerutkan dahinya. "Kiara?"


Kiara mengangguk dengan senyuman. "Mau jalan sama Kak Keiza, Kak?"


Aji mengangguk. "Iya."


"Waw! Keren-keren!" ucap Kiara.


Aji tertawa. "Keren?"


Kiara mengangguk. "Kakak adalah orang pertama yang mendekati Kak Keiza setelah putusnya Kak Keiza dengan mantan pacarnya beberapa tahun silam," ucap Kiara mendramatisir ucapannya.


Aji terkekeh. Ia cukup terhibur dengan ucapan Kiara.


"Kakak tahu, kakak juga yang berhasil meluluhkan hati Kak Keiza setelah membeku beberapa tahun."


Aji tertawa keras. "Kok kamu bisa bilang gitu?"


Kiara menoleh ke arah rumahnya memastikan Keiza belum keluar. Setelah di pastikan tak ada, Kiara pun mendekat ke telinga Aji. "Tadi Kak Keiza senyum-senyum sendiri abis ngobrol sama kakak."


Aji melebarkan matanya. "Seriusan?"


Kiara mengangguk. "Hebat banget Kak Aji!" ucapnya bertepuk tangan.


'Tin!'


Kiara menoleh ke sumber suara. "Ah, pacar aku udah sampai."


"Pacar?" ucap Aji yang ikut menoleh dan melihat seorang remaja lelaki tengah duduk di atas motor. "Itu pacar kamu?"


Kiara mengangguk. "Namanya Aldo, satu kelas sama aku." Kiara tersenyum. "Aku pergi dulu ya?" ucapnya dan berjalan menghampiri Aldo yang tengah menunggunya.


Aji tertawa tak percaya. "Salut gue sama Kiara! Bocah itu dari kecil memang dasarnya ramah, sampai sekarang pun gak berubah."


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2