
Part 47
"Selamat pagi pacar Kana! Udah cantik aja," ucap Kana saat Kaila membuka gerbang dan berjalan menghampirinya.
Kaila tersenyum. "Jadi?"
"Jadi apa?"
Kaila berdecak. "Cari perlengkapan buat kuliahlah."
Kana terkekeh menampilkan seluruh giginya. "Jadi dong! Ayo, naik!"
Kaila mengangguk dan naik ke atas jok motor Kana.
"Udah?" tanya Kana.
"Udah."
"Udah apa?"
"Ish, Kana! Jangan nyebelin, ah!" Kaila berdecak kesal.
Kana terkekeh dan mulai melajukan motornya.
Pagi ini jalanan terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Dengan demikian, Kana dan Kaila dapat menikmati pagi seraya memandang jalanan yang terpampang nyata di antara mereka.
Sejuk, asri dan tentunya tak terlalu banyak polusi.
Kaila sesekali memejamkan mata, lalu memandang laki-laki di depannya melalui kaca spion.
"Kana."
Kana menoleh dan ikut menatap Kaila dari balik spion. "Kenapa?"
"Soal orangtua lo, gimana?" tanya Kaila hati-hati.
Kana meminggirkan motornya dan berhenti. "Soal gue yang gak mau kuliah di Kanada?" tanya Kana memperjelas.
Kaila mengangguk. "Mereka gimana?"
"Mereka gak papa kok. Ya, walaupun tadinya marah, tapi lama-lama luluh. Tahu sendirilah, gue anak satu-satunya. Mau gak mau, ya mereka harus nerima keinginan gue yang kekeuh buat kuliah di Jogja."
Kaila mengangguk mengerti. "Iya juga sih."
"Iya, Kai."
"Terus soal hubungan kita, gimana? Apa mereka bakal terima gitu aja? Apalagi orangtua kita—"
"Orangtua kita yang punya masa lalu?"
__ADS_1
Kaila mengangguk.
Kana tersenyum. "Itu urusan mereka, Kai. Kita gak perlu ikut campur. Yang jelas, kita jalani aja yang ada. Lagipula, nyokap lo setuju 'kan lo pacaran sama gue?"
Kaila mengangguk.
Kana kembali tersenyum. "Yaudah, santai aja! Urusan orangtua gue itu gampang. Gue bisa bikin mereka luluh lagi sama lo," ucapnya membuat Kaila tersenyum lega. "Oh ya, besok lo jadi berangkat ke Jogja duluan?" tanya Kana.
Kaila mengangguk. "Mama udah urus kepindahan. Dan soal rumah yang di Jogja juga, udah siap buat di huni."
"Terus soal Kakak lo? Lo belum ketemu sama dia 'kan?" tanya Kana kembali.
Kaila menghela napas dan menggeleng. "Gue gak tahu dia dimana. Tapi yang jelas, dia pasti bahagia sama Papa."
Kana tersenyum. "Lo juga harus bahagia ya? 'Kan ada gue sama Mama lo yang sayang sama lo."
Kaila mengangguk. "Makasih ya, Kan?"
"Sama-sama, Kai. Makasih juga udah mau jadi pacar gue."
Kaila tersenyum dan mengangguk.
"Soal Aji sama Adinda gimana? Mereka lulus SNMPTN?" tanya Kaila.
Kana menghela napas dan memandang Kaila dengan tatapan sulit di artikan. "Gue gak tahu."
-o0o-
Sudah beberapa jam keduanya berada di taman kota yang tak jauh dari rumah keduanya.
Mereka memang sering kemari. Tepatnya saat hari libur dan pagi-pagi seperti ini.
"Gimana Din, kita gak lulus SNMPTN di Jogja. Apa lo tetep cari cara buat bisa kuliah di sana?" tanya Aji pada gadis di hadapannya tersebut.
Adinda menghela napas dan menatap Aji. "Gue gak ada semangat lagi buat kuliah di Jogja. Kana udah jadian sama Kaila. Gue gak sanggup buat liat mereka berdua bahagia." Adinda tersenyum dan menutup laptopnya.
"Jadi?" Aji menaikkan kedua alisnya.
Adinda bangkit dari duduknya dan menghampiri Aji yang kini berdiri memandangnya. "Gue akan tetap di Jakarta. Gue mau kuliah disini aja. Kalau lo mau ke Jogja, gak papa kok. Gue dukung."
Aji menggeleng.
"Kenapa?" tanya Adinda bingung.
"Gue akan ikut kemana lo berada, Din. Kalau lo gak ke Jogja, gue juga gak akan ke sana."
"Lo gila?!" tanya Adinda dengan nada tinggi, lalu menunduk. "Sorry."
Aji mengangguk. "Gue emang gila, Din."
__ADS_1
"Ji, please. Jangan kaya gini. Gue gak mau bikin lo ngerasa terbebani."
"Gue gak ngerasa terbebani, Adinda."
Adinda menghela napas panjang dan menatap Aji kesal. "Tapi Ji, lo gak tahu—"
"Kalau lo sebenarnya sakit?"
Adinda melebarkan matanya. "Lo— tahu darimana?"
"Kita selama ini bareng-bareng terus. Jelas gue tahu apa yang terjadi sama lo. Gue juga tahu, alasan lo gak mau usaha kuliah di Jogja sebenarnya karena sakit lo, bukan karena Kana yang jadian sama Kaila 'kan?" tanya Aji.
Adinda menunduk. "Jangan sok tahu."
Aji menghela napas dan menatap Adinda lekat. "Din, mulai detik ini, jangan rahasian apapun dari gue ya?"
"Gue gak mau bebanin orang di sekeliling gue, Ji. Cukup gue aja yang ngerasain sakit ini bertahun-tahun. Lo, Kana, gak perlu tahu," ucap Adinda dan kembali menunduk.
Aji mengangkat wajah Adinda. "Tapi gue harus tahu, Din."
Adinda berdecak. "Ji, jangan bikin gue marah."
"Gue gak mau bikin lo marah, Din. Gue Cuma mau ngasih tahu kalau gue peduli sama lo." Aji menghela napas. "Din, gue sayang sama lo. Lo bukan sekedar sahabat buat gue. Lo lebih dari itu."
"Kenapa harus gue, Ji? Kenapa harus gue yang lo suka? Masih banyak cewek di luaran sana yang pantes buat lo. Bukan gue. Gue penyakitan, Ji. Gue sendiri aja gak tahu sampai kapan gue bisa bertahan."
"Karena itu, Din. Karena itu gue ingin selalu ada di samping lo. Jagain lo."
"Ji, jangan kaya gini. Gue mohon."
"Enggak, Din. Gue akan tetap kaya gini sampai lo sadar kalau gue beneran sayang sama lo. Oke, gue minta maaf kalau selama ini gue juga suka marahin lo. Tapi itu semua karena gue peduli sama lo. Gue gak mau lo berada di jalan yang salah. Gue gak mau lo kena masalah atau apapun."
Adinda menghela napas panjang dan berjongkok. Kini ia menangis seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa gue harus ketemu sama orang seperti lo, Ji? Lo terlalu baik, Ji. Lo selalu ngutamain gue dimana pun itu. Sedangkan gue, mikirin lo aja gak pernah. Gue selalu menomorsatukan Kana yang jelas-jelas gak pernah cinta sama gue."
Aji melipat kedua kakinya dan ikut berjongkok di hadapan Adinda. "Gue akan jadiorang yang selalu ada buat lo, Din. Gue akan temani lo sampai lo sembuh. Gue akan selalu ada sat lo butuh gue. Kapanpun itu. Gue janji."
Adinda membuka matanya dan memandang Aji. Kedua bola matanya menatap mata Aji dengan seksama. Berharap menemukan kebohongan di sana.
Namun nyatanya, kebohongan itu tak ada. Aji benar-benar mencintainya. Sungguh mencintainya.
"Kita jalani hidup kita disini ya? Kita daftar kuliah disini. Gue juga akan temani lo saat lo berobat. Gue janji akan jadi orang yang selalu ada saat lo butuhin."
Adinda mengangguk dan memeluk laki-laki itu.
"Lo mau 'kan nerima gue buat selalu ada untuk lo?"
Adinda mengangguk dan memejamkan matanya. "Gue terima, Ji. Gue juga akan berusaha untuk mencintaimu. Sesulit apapun itu, gue akan coba!"
__ADS_1
Aji tersenyum lalu mengusap lembut pucuk kepala Adinda. "Biarin Kana bahagia sama Kaila. Karena kebahagiaan lo ada sama gue, Din."
-o0o-