KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 5


__ADS_3

Part 5


Seorang dosen melangkah masuk dengan laptop dan juga beberapa buku di tangannya.


“Selamat pagi.”


“Pagi, Bu!” jawab seluruh mahasiswa dengan kompak.


“Ini pertama kalinya ya saya masuk di kelas ini?” tanya dosen tersebut.


“Iya, Bu.”


“Baik, perkenalkan nama saya Anisa Bustara. Kalian bisa memanggil saya Bu Anbus. Disini saya sebagai dosen pengajar sekaligus Koordinator mata kuliah Metodologi penelitian.” Bu Anbus tersenyum. “Disini siapa ketuanya?”


“Kana, Bu!” 


“Mana yang namanya Kana?” Bu Anbus mengedarkan pandangannya.


“Ini Bu orangnya!” seru Kevin seraya menunjuk Kana yang berada di sampingnya. 


“Kamu yang namanya Kana?” tanya Bu Anbus pada Kana.


Kana mengangguk.“Iya, Bu.”


“Kana? Kok saya kaya gak asing ya? Nama lengkap kamu siapa?”


“Kana Bintang Artana.”


“Kamu punya saudara disini?” tanya Bu Anbus.


“Punya, Bu,” jawab Kana.


Bu Anbus tampak mengingat-ingat. “Kamu cucunya Iva ya?”


Kana melebarkan mata. “Kok Ibu tahu?”


Bu Anbus tertawa. “Saya ini tetangganya nenekmu!”


Kana menaikkan kedua alisnya. “Serius, Bu?”


Bu Anbus mengangguk. “Kamu anaknya Kavin ‘kan? Dulu, waktu kamu masih kecil kamu sering dibawa Kavin buat ketemu nenekmu.”


Kana membulatkan bibirnya. “Oh, iya, Bu.”


“Kok kamu gak tinggal sama nenekmu? Di sana ‘kan ada Tante juga,” ujar Bu Anbus.


“Gak papa, Bu. Saya pengen mandiri aja.”


“Pinter banget memang anak ini. Kamu tahu gak sih? Saya ini ngefans banget sama Ibu kamu. Tulisan dia bagus-bagus. Bisa bikin orang baper, tahu gak.”


Kevin memutar bola matanya. “Bisa-bisa, Kana jadi mahasiswa kesayangan Bu Anbus kalau gini ceritanya.” Kevin menghela napas. “Eh—em! Bu, saya anaknya Pak Sudrajat, Bu. Cucunya Mbah Lamijan. Ibu kenal gak?” ucap Kevin membuat seluruh mahasiswa tertawa.


“Oke, oke, kita kembali ke topik ya? Tadi ketuanya Kana ‘kan?” tanya Bu Anbus.


“Iya, Bu,” jawab Kana.


“Oke, nanti setelah jam Metodologi Penelitian habis, kamu temui Ibu di kantor ya?”


“Baik, Bu.”


“Ajak teman Satu ya,” ucap Bu Anbus.


“Kalau wakil ketuanya bagaimana Bu?” usul Gisel membuat Wilka melebarkan mata. 


Gadis itu tak mengerti lagi dengan sahabatnya tersebut.


“Oh, ada wakilnya ya? Ya sudah, ketua sama wakilnya saja. Malah lebih enak nanti.”


Gisel tersenyum dan menutup wajahnya menggunakan buku di depannya.


“Bisa-bisanya,” lirih Wilka melirik sahabatnya tersebut. 


Bu Anbus membuka laptopnya yang sudah tersambung dengan proyektor. “Baik, mari saya jelaskan dulu mengenai Rencana Pembelajaran Semester ya? Setelah itu, kita masuk ke materi pertama.”


“Baik, Bu.”


-o0o-


“Kana, tungguin!” teriak Gisel yang mencoba mengimbangi langkah Kana.


“Cepet.”


Singkat. Seperti inilah jawaban Kana jika bersama seseorang yang tidak ia sukai. 


“Pelan-pelan dong, aku gak bisa ngimbangin langkah kamu,” ucap Gisel mencoba mengimbangi laki-laki itu.


Kana menghela napas dan menghentikan langkah. Menunggu gadis itu sampai di sampingnya.

__ADS_1


“Nah, gini ‘kan enak. Bareng-bareng.”


Kana memutar bola matanya dan membuang tatapannya ke arah lain.


“Kamu kenapa sih kamu dingin banget orangnya?”


“Bukan urusan lo.”


“Yaelah, aku cuma nanya kali.” Gisel tersenyum dan kembali menatap Kana. “Bye the way, lo tinggal di daerah mana?”


Kana tak menjawab. Laki-laki itu mempercepat langkahnya membuat Gisel tersadar dan berlari untuk mengejar.


“Kana! Pelan-pelan!”


-o0o-


“Huft.”


Helaan napas Kaila terdengar jelas saat matanya memandang dua orang yang kini mulai berjalan menjauh.


“Maafin temenku ya, Kai,” ucap Wilka yang kini tengah bersama Kaila.


Kaila tersenyum dan mengangguk. “Aku akan berusaha ngerti kok.


“Tapi aku rasa, kamu gak boleh diem aja, Kai. Aku takut, Gisel makin ngelunjak kalau di diemin. Ya, walaupun dia temenku, aku bisa lihat kalau dia punya niatan gak baik sama hubungan kalian berdua. Aku takut, dia bakal ngerebut Kana dari kamu.”


Kaila tersenyum dan menggeleng. “Semoga aja itu gak terjadi. Aku percaya sama Kana. Dia bisa jaga perasaan aku.”


“Aamiin.”


“Tapi kamu harus awasin Kana, Kai. Kita gak pernah tahu apa yang terjadi. Kadang seseorang berubah bisa dalam waktu singkat.”


Kaila mengangguk dengan senyuman.


“Aku bukannya mau manasin kamu, cuma ya tahulah gimana cowok. Semoga aja Kana gak mudah tergoda.”


“Aamiin.”


Kedua gadis itu tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju untuk menuju kantin. “Kamu mau makan apa, Kai?”


“Somay. Kemaren aku makan somaynya enak. Aku mau coba lagi,” jawab Kaila terkekeh.


“Seriusan enak?”


Kaila mengangguk.


“Telor, kol, tahu, ada keju juga,” ujar Kaila.


“Ih, mau yang keju!” seru Wilka tak sabar.


Kaila terkekeh. “Yaudah, yuk.”


“Yuk!”


“Sayang!” teriak seorang laki-laki membuat Kaila dan Wilka menghentikan langkah dan menoleh.


Seorang laki-laki dengan rambut berwarna sedikit cokelat menghampiri keduanya.


Wilka tersenyum lebar dan langsung merangkul lengan laki-laki itu. “Kangen.”


Flero tersenyum dan mencubit pipi Wilka. “Kangen juga sama pacar aku. Udah makan?” 


“Ini baru mau ke kantin,” jawab Wilka.


“Yah, padahal aku mau ngajakin kamu makan bareng di kelas. Tadi Mama masakin ayam kesukaan kamu.”


“Yah, pengen banget!” seru Wilka. Namun beberapa detik setelahnya ia menoleh pada Kaila. “Tapi gimana sama Kaila?”


“Ajakin, aja!” Flero tersenyum pada Kaila. “Oh ya, kenalin. Namaku Flero, pacar Wilka. Anak semester Lima.”


Kaila mengangguk dan tersenyum. “Salam kenal, Kak. Aku Kaila, temennya Wilka.”


Flero tersenyum dan kembali menoleh pada kekasihnya. “Yuk!”


Wilka mengangguk. “Ayo, Kai?” ajaknya pada Kaila.


Kaila menggeleng. “Kamu aja, Ka. Aku mau ke kantin aja.”


“Yah, masa sendiri.”


“Gak papa, kok. Aku biasa sendiri.”


“Seriusan nih?”


Kaila tersenyum. “Iya.”


“Oke deh. Kalau gitu, aku ke kelas Kak Flero dulu ya?”

__ADS_1


Kaila mengangguk dan melambaikan tangannya.


Setelah Wilka berjalan pergi, Kaila tersenyum tipis dan melanjutkan langkah menuju kantin karena perutnya sudah tak tahan lagi untuk minta di isi.


“Somay apa mie ayam ya?” pikir Kaila membayangkan Dua makanan tersebut.   


Saat di jalan menuju kantin, Kaila mendengar suara teriakan di sebuah ruangan. Namun, setelah teriakan, suara itu berubah menjadi tangis.


Kaila menoleh ke sekeliling. Mencari tahu sumber suara tersebut.


“KENAPA?”


Kaila melebarkan mata. “Tuh, ‘kan. Aku gak salah denger.” Kaila menoleh pada ruangan di sampingnya. “Kayanya suaranya dari sini.”


Karena penasaran, Kaila berjalan ke ruangan itu dan mendekat ke jendela. Namun sayangnya, jendela itu tertutup oleh kain yang menghalangi. Gadis itu pun mendekat ke arah pintu.


Suara pertengkaran terdengar jelas di sana.


“Siapa yang berantem?” lirihnya.


Bukan Kaila jika tak penasaran. Gadis itu pun meraih kursi yang berada di sekitarnya dan hendak mengintip ruangan tersebut. 


Sebelum menaiki kursi, Kaila menoleh ke sekeliling. Memastikan jika tak ada seorang pun yang melihatnya.


Kaila mengangkat kakinya dan menginjak kursi tersebut. Karena tak sampai celah, ia pun mencoba menjijitkan kakinya. 


Ia melihat seorang perempuan dan laki-laki tengah bertengkar. Kaila tak bisa melihat siapa mereka. Tapi yang jelas, tubuh laki-laki itu terlihat tinggi. Sampai-sampai menghalangi gadis di depannya.


“Mereka siapa sih?” ucap Kaila menyipitkan kedua matanya. 


“AKU GAK SUKA SAMA SIFAT KAMU YANG KAYA GINI!” ucap gadis itu.


“Kenapa suaranya gak asing?” ucap Kaila.


“KAMU—“


“APA?”


‘PLAK!’


Kaila melebarkan mata. Ia benar-benar terkejut. Laki-laki itu menampar gadis di depannya.


“Kaila!” teriak seseorang membuat Kaila melebarkan mata dan menoleh ke belakang.


“Kana?” Kaila lega saat mengetahui Kana yang memanggilnya.


“Kamu ngapain?” tanya Kana bingung.


“Syutt!” Kaila menutup bibirnya dengan satu jari agar Kana diam.


Gadis itu turun dari kursi dan menghampiri kekasihnya. 


“Kamu ngapain tadi?” tanya Kana yang masih penuh tanya.


“Kita bicarain disana.” Kaila menarik laki-laki itu dan membawanya menjauh dari ruangan tadi.


“Coba ceritain.”


“Aku denger suara orang berantem di dalem ruangan itu.”


“Astaga!” Kana melebarkan mata. “Jadi kamu tadi ngintipin orang berantem?”


Kaila mengangguk. “Tapi ini yang berantem cewek sama cowok. Tadi aja aku lihat ceweknya di tampar.”


Kana melebarkan mata. “Kamu seriusan?”


“Iya.”


“Ini kekerasan namanya, Kai. Kita harus laporin.”


‘Brakk!’


Pintu terbuka dengan keras dan menampilkan seorang gadis dengan wajah yang ia tutupi dengan jaket.


“Jangan-jangan itu cewek yang kamu maksud, La.”


“Iya, itu.”


‘Brakk!’


Pintu kembali terbuka dengan keras dan menampilkan seorang laki-laki membuat Kana dan Kaila menoleh.


Laki-laki itu menatap Kana dan Kaila tajam, dan berjalan menjauh.


“Dia ‘kan? Ketua panitia itu.”


-o0o-

__ADS_1


__ADS_2