
Part 5
'Tin! Tin!'
Kaila menoleh ke arah jendela saat suara klakson mobil terdengar jelas.
Kamar Kaila memang menghadap ke arah jalan, sebab itu ia bisa melihat mobil Kana tengah menunggunya di bawah. Ia tersenyum dan segera turun ke bawah.
'Drrttt!'
Kaila menoleh pada ponsel di genggamannya. Senyumannya semakin melebar. Wanita itu segera menjawab panggilan di ponselnya.
"Halo?" ucap Kaila dengan rasa bahagia.
"Kamu lagi apa? Aku udah di bawah ini."
"Iya, aku udah lihat tadi. Aku lagi jalan ke bawah."
Kana tertawa kecil. "Oke! Aku tunggu disini."
Kaila mengangguk dan mematikan sambungan itu. Mempercepat langkahnya hingga sampai di depan.
Wanita itu berjalan mendekat dan membuka pintu mobil membuat Kana menoleh dan tersenyum. "Halo?"
"Halo," ucap Kaila dengan senyuman.
"Mama udah tahu kamu mau ke rumah," ucap Kana membuat Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Oh ya?"
Kana mengangguk.
"Terus responnya gimana?" tanya Kaila penasaran.
"Senenglah!" ucap Kana.
Sederhana sekali jawaban Kana, namun cukup membuat hati Kaila berbunga-bunga.
"Kita mau kemana dulu?" ucap Kana.
"Aku ikut aja," ujar Kaila.
Kana tampak berpikir lalu kembali menoleh pada Kaila. "Kita cari dress dulu aja gimana?"
Kaila mengangguk. "Setuju!"
Kana tersenyum dan mengacungkan jempolnya, lalu menatap lekat wanita di sampingnya itu.
Ia tersenyum tipis lalu mendekat membuat jantung Kaila berdegub kencang.
Tidak! Tidak! Apa yang akan Kana lakukan?
"Pakai sabuk pengaman," ucap Kana dengan kekehan membuat Kaila menghela napas panjang.
Kana terkekeh. "Kenapa sih?"
Kaila menggeleng. "Gak papa. Udah ayo jalan!"
Kana mengangguk dan menghidupkan mesin mobilnya, lalu melanjukannya.
"Na," panggil Kaila saat Kana sudah mulai fokus dengan kemudinya.
"Na," panggil Kaila kembali saat Kana tak menoleh.
"Kana!" teriak Kaila kali ini.
__ADS_1
Kana tertawa lalu menoleh sekilas. "Apa?"
"Kamu beneran mau ke pernikahan Wilka sama aku?" tanya Kaila serius.
Kana tertawa. "Ya kamu pikir sama siapa lagi?" ucap Kana tanpa menoleh.
Kaila membulatkan bibirnya dan mengangguk.
"Kamu pasti mikirnya aku pergi sama perempuan lain gitu?" tanya Kana yang sudah bisa menebak apa yang Kaila pikirkan.
Kaila mengangguk. "Ya kirain aja kamu kesana sama pasangan kamu."
"Ya pasangan aku kamu geh!" ucap Kana dengan tertawa.
"Kamu belum pernah buka hati ke orang lain selama ini?" tanya Kaila penasaran.
Kana tersenyum. "Gimana mau buka hati, kalau hatinya aja dibawa pergi kamu."
Kaila tersenyum malu. "Seriusan?"
Kana menghela napas dan menoleh. "Iya, Lala. Kalau kamu gak percaya, kamu tanya deh sama Mama Papa, kalau gak tanya Aji yang 24/7 sama aku terus. Ah, jangankan aku, Aji pun belum bisa buka hati dia." Kana melebarkan mata. "Oh iya! Kamu belum tahu ya kalau Adinda udah meninggal?"
Kaila menggeleng. "Adinda meninggal?" tanyanya.
Kana mengangguk. "Udah Empat tahun yang lalu, La."
Kaila menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar terkejut akan hal itu. "Eum— Na."
"Iya?" Kana menaikkan kedua alisnya.
"Kamu bisa bawa aku ke makam Adinda gak?"
Kana mengangguk. "Ayo aku anter."
Kaila tersenyum dan mengangguk.
-o0o-
Pikir Kana, untuk apa ke Jerman jika pemandangan yang ia cari datang sendiri ke hadapannya.
Benar, pemandangan yang Kana maksud malam itu adalah Kaila. Meskipun ia tak mengatakan jujur kepada ibunya.
Kini, keduanya telah sampai di sebuah pemakaman.
"Ini tempatnya?" tanya Kaila.
Kana mengangguk. "Makam Adinda ada di ujung sana. Ayo kesana!"
Kaila mengangguk dan mengikuti langkah Kana.
"Ini, La," ucap Kana saat keduanya berdiri tepat di depan sebuah makam yang begitu cantik. "Setiap hari Jumat Aji selalu kesini. Bersihin makan sekaligus bawa bunga Adinda. Makanya gak heran kalau tiap minggu ada bunga Lili putih di sini."
"Aji lakuin itu setiap Jumat?" tanya Kaila.
Kana mengangguk. "Saat dia gak di Jakarta, dia bakal nyuruh aku buat anter bunga lili kesini."
Kaila tersenyum. "Aji tulus banget ya sama Adinda?"
Kana mengangguk. "Begitu juga aku."
Kaila menoleh dan menatap laki-laki itu.
"Aku tulus ke kamu, La," lanjut laki-laki itu.
Kaila terdiam, lalu menunduk.
__ADS_1
Kana tersenyum dan meraih satu tangan Kaila dan menggenggamnya. "La."
Kaila mengangkat wajahnya.
"Adinda pernah bilang sama aku, kalau kisah kita selama ini adalah rencana Tuham. Kita dipertemukan karena pendidikan, dipisahkan karena keadaan, dan sekarang kita disatukan karena takdir Tuhan."
Kaila tersenyum dan mengangguk. "Bener, La."
"Kalau ini memang takdir Tuhan, kamu mau 'kan balikan sama aku?" tanya Kana membuat Kaila terkejut.
"La, kamu serius? Kita lagi di—"
Kana mengangguk. "Aku serius. Aku yakin, Adinda pasti bahagia liat sahabatnya bisa dapetin cintanya kembali. Jadi aku pengen tunjukin ini ke Adinda. Nunjukin hal yang membuat aku bahagia. Dan hal itu adalah kamu, La."
Kaila tersenyum. "Kamu mau 'kan balikan sama aku?"
Kana mengangguk. "Aku mau!"
Kana terkekeh dan mencubit hidung Kaila dengan gemas.
"Ih, Kana!" seru Kaila membuat Kana terkekeh.
"Ayo samperin makan Adinda. Aku mau lapor ke dia kalau aku berhasil dapetin hati aku lagi!" ucap Kana seraya menarik gadis itu mendekati makam Adinda.
Kaila tersenyum. Ia ikut berjongkok menghadap Adinda.
"Din," ucap Kana membuat Kaila menoleh dan menatap laki-laki di sampingnya dengan tatapan tulus.
"Aku berhasil ambil hati aku lagi, Din. Hati aku udah balik ke tangan aku," ucap Kana seraya menggenggam tangan Kaila.
"Ini, Din!" seru Kana mengangkat tangan Kaila. "Dia kembali buat aku."
Kaila tersenyum, lalu menatap nisan Adinda. "Din, makasih ya? Makasih kamu udah bikin Kana setia sama aku. Makasih kamu ingetin Kana kalau semua ini takdir Tuhan."
Kana tersenyum lalu mengeratkan genggamannya.
"Tapi aku juga mau minta maaf sama kamu, Din. Di saat hari-hari terakhir kamu, aku malah gak ada. Aku minta maaf, Din."
"Adinda pasti maafin kamu, Adinda juga sayang sama kamu, La. Gak cuma aku aja. Adinda, Aji, semuanya sayang sama kamu," ucap Kana.
Kaila mengangguk dan tersenyum.
"Kamu itu perempuan baik, La. Gak ada alasan untuk benci kamu. Kecuali dia yang iri sama kamu," ucap Kana.
Kaila kembali mengangguk.
"Aku juga sebagai sahabat Adinda, minta maaf ya kalau dulu dia pernah bikin kamu sakit hati."
Kaila mengangguk. "Iya, Na. Aku udah maafin Adinda dari dulu kok. Aku juga sayang sama Adinda."
"Tapi kamu sayang juga 'kan sama aku?" tanya Kana membuat Kana terkekeh.
"Sayang bangetlah!"
"Makasih ya, La?"
Kaila mengangguk. "Sama-sama, La. Makasih juga karena kamu udah sabar nunggu aku."
Kana mengangguk. "Tentu aku sabar! Karena aku selalu yakin kamu pasti kembali. Meskipun semua itu gak ada jaminannya. Tapi aku selalu sabar dan yakin!"
Kaila tersenyum, lalu merangkul lengan Kana dan menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu.
"Aku bakal bawa kamu ke jenjang yang lebih serius, La," lirih Kana namun tak terdengar pada wanita itu.
-o0o-
__ADS_1