
Part 44
Terkadang, sebagian orang merasa waktu berjalan begitu cepat. Meskipun kita semua tahu, waktu tak mungkin berjalan lebih cepat atau mungkin lebih lambat. Semua itu, hanya perasaan saja.
Kana memandang langit kamarnya dengan perasaan hampa. Ia begitu rindu dengan Kaila. Gadis yang selalu ia tunggu kabar dan kepulangannya.
Kana menguap dengan sedikit menutup mulutnya.
"Ngantuk, Kan?"
Kana menoleh saat seseorang membuka pintu kamarnya dan menatapnya dengan tatapan mengejek.
Kana memutar bola mata lalu melemparkan bantal ke arah orang itu.
Orang itu terkekeh dan berjalan mendekat. Itu adalah Aji.
"Belum ada kabar juga dari Kaila?"
Kana menggeleng.
Aji menggigit bibir bawahnya. "Udah seminggu dia gak ngasih kabar lo."
Kana menghela napas dan bangkit dari tidurnya. "Menurut lo, apa lebih baik gue susulin ke Jerman?"
"Gila lo! Gue tahu lo banyak duit, tapi gak segitunya juga kali. Memangnya lo tahu, Kaila di bagian mana?"
Kana menggeleng.
"Tuh, 'kan. 'Ntar jauh-jauh lo kesana, yang ada malah zonk."
"Tapi gue gak tenang, Ji."
"Yaudah, lo tunggu aja kabar dia."
Kana berdecak. "Tapi seharusnya besok gue udah balik ke Jogja, Ji. Dan sampai sekarang Kaila gak ada kabar sama sekali. Dia mau pulang atau enggak, gue gak tahu."
"Bima? Bisa dihubungin?"
Kana menggeleng. "Bahkan Kak Keiza pun gak bisa di hubungin. Gue juga udah coba telpon Tante Naira yang katanya di Jerman pun gak bisa."
Aji menggigit bibir bawahnya kembali. "Gue penasaran, sebenarnya apa yang terjadi disana?"
"'Kan? Lo kepikiran juga 'kan? Apalagi gue!" ucap Kana mengusap rambutnya.
"Terakhir Kaila chat lo, kapan?"
"Udah ada seminggu yang lalu. Bahkan lebih deh kayanya!" ucap Kana sembari mengingat kapan terakhir ia berhubungan dengan Kaila via telepon.
Aji menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Laki\-laki itu juga terlihat bingung dibuatnya.
"Menurut lo, gue harus ngapain, Ji?"
Aji merebahkan kepalanya di bantal Kana. "Gue bingung, Kan. Gue kalau jadi lo pun, bingung harus ngapain. Susulin gak mungkin, diem juga pun gak mungkin."
__ADS_1
Kana berdecak. "Ah, gak ada guna gue tanya ke elo!"
"Tapi Kan—" Aji menoleh. "Bisa jadi juga Kaila udah di Jogja sekarang. Kita gak tahu 'kan?"
Kana menggigit bibir bawahnya. "Iya juga sih. Eh, bentar, gue chat Wilka aja deh. Dia 'kan tetangga Kaila. Siapa tahu dia lihat Kaila udah pulang."
"Nah, yaudah coba chat!"
Kana mengangguk dan mencari nomor Wilka, lalu mengetikan sesuatu disana.
"Gimana?" tanya Aji setelah melihat Kana menekan tombol 'kirim'.
Kana berdecak. "Ceklis satu!"
"Udah tidur, mungkin," ucap Aji.
Kana menoleh ke arah jam dinding. "Ya pantes aja! Udah jam 12 malem," ucapnya. Namun, tiba\-tiba Kana terpikirkan sesuatu. "Bentar, kok lo bisa masuk rumah gue tengah malem gini?"
Aji tertawa. "Gue udah dirumah lo dari tadi sore, Kana! Lo aja yang gak keluar\-keluar kamar!"
Kana membulatkan bibirnya. "Nyokap bokap gue udah tidur?"
Aji mengangguk. "Makanya gue kesini."
"Kok lo gak balik?"
Kana memutar bola matanya. "Ya enggak!"
'Drrtttt!'
Tiba\-tiba ponsel bergetar, membuat Kana melebarkan matanya.
"Hp gue," ucap Aji membuat raut wajah Kana berubah kecewa.
"Halo, Din?" ucap Aji mengangkat telpon miliknya. "Aku dirumah Kana. Minep kayanya. Gimana?"
Kana menghela napas dan merebahkan tubuhnya. "Kaila, kemana aja sih lo?"
-o0o-
"Gimana?" lirih gadis berbaju hitam yang kini berdiri menatap wanita yang sangat ia harapkan kesadarannya.
Kaila menghela napas dan menangis. Ia menoleh pada Keiza yang berdiri di sampingnya dan bersandar pada pundak itu.
"Tuh 'kan, apa aku bilang, mungkin kalau kita gak bawa Mama kesini, kita gak bakal tahu kalau Mama punya penyakit lain," ucap Bima membuat Keiza dan Kaila semakin menitihkan air mata. "Sekarang lihat, tumor ganas yang ada di jantung itu penyakit langka! Jarang orang menderita penyakit itu. Dan sekarang lihat, mama kita sendiri, dia ganasnya penyakit itu!"
Kaila terduduk di lantai dengan dada yang terasa sesak.
"Dek, bangun. Jangan kaya gini," lirih Keiza membantu Kaila untuk berdiri.
__ADS_1
"Mungkin kalau dokter itu gak cek lagi penyakit Mama, kita gak akan tahu."
Keiza mengangguk. "Bener."
"Tapi apa yang harus kita lakuin sekarang, Bim? Lihat kondisi Mama sekarang, kita bahkan hanya punya harapan kecil untuk Mama sembuh," ucap Kaila.
Keiza mengusap wajahnya. Mencoba menguatkan diri dan menghela napas. "Aku bawa Kiara kesini dulu ya?"
'Nit! Nit! Nit!'
Suara bedsite monitor itu membuat ketiganya menoleh ke arah yang sama.
Karena paham dengan arti dari bedsite monitor itu, Kaila dan Keiza langsung berubah panik. Keduanya berteriak memanggil dokter dan juga perawat yang ada.
Setelah dokter dan beberapa perawat datang, ketiganya diminta untuk keluar dan menunggu.
Ketiga dalam keadaan tidak baik\-baik saja. Semuanya terlihat panik. Bahkan Bima pun telah menitihkan air matanya.
"Ayo kita berdoa, semoga Mama baik\-baik aja," ucap Keiza menggenggam tangan Bima dan Kaila.
Ketiganya tampak memejamkan mata dan berdoa, meskipun air mata ketiganya mengalir dengan derasnya.
-o0o-
"Kalau Kaila ke Jerman karena Mamanya yang sakit, jadi otomatis komunikasi antara Kana dan Kaila berkurang? Kalau berkurang, berarti Kana kesepian dong? Kalau kesepian—" Gisel berpikir sembari menatap langit-langit kamarnya. "Dia butuh—"
'Tok! Tok! Tok!'
Gisele berdecak dan menghela napas. "Siapa sih tengah malem gini?!" teriak Gisele yang kesal dan bangkit dari kasurnya.
'Ceklek!'
Pintu terbuka dan menampilkan seseorang disana.
Gisele menatap datar seseorang di depannya. "Kok lo bisa tahu kosan gue?"
"Gue kesini karena butuh duit. Mana janji lo buat bayar hutang\-hutang lo itu?" tanya orang itu.
Gisele menghela napas. "Sabar ngapa sih! 'Kan gue bilang nanti kalau udah masuk kuliah. Pasti gue bayar! Bayar!"
Orang itu berdecak. "Lo itu udah telat beberapa arisan. Gue capek bayarin arisan lo mulu! Kalau memang lo gak mampu ikut arisan, mending gak usah sok\-sok ikut arisan gue deh!"
Gisele berdecak. "Iya! Iya! Nanti gue bayar, tenang aja sih!"
'Brakkk!'
Gisele menutup pintunya dan menguncinya.
"Dia pikir gue gak mampu apa bayar hutang! Gue bayar kok pasti," ucapnya lalu berjalan ke arah kasurnya.
Namun, terhenti pada sebuah dinding yang dipenuhi dengan foto\-foto disana.
__ADS_1
Gisele tersenyum memandang foto\-foto itu. "You're my first sight love, Kana. Mungkin kalau gak ada hukuman itu, gue gak akan bisa sejatuh ini cinta sama lo." Gisele tersenyum lebar dan melemparkan tubuhnya ke kasur. Memejamkan mata dan membayangakan laki\-laki itu hadir dalam mimpinya.
-o0o-