KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 12


__ADS_3

Part 12


Gedung berlantai dua yang merupakan tempat untuk Kaila memulai usahanya telah dipenuhi oleh beberapa tamu undangan.


Mulai dari keluarga, sahabat, rekan kerja, bahkan teman SMA yang masih berhubungan dengan Kaila sampai dengan saat ini.


Mereka semua terlihat begitu bahagia dalam memberikan dukungan dan semangat untuk Kaila.


Termasuk Kaila sendiri. Perempuan itu terlihat begitu sumringah dan terlihat begitu ramah.


Setelah menemui beberapa tamu undangan, Kaila pun masuk ke dalam untuk menemui Kana yang sudah menemaninya sejak pagi tadi.


Kana bangkit dari duduknya saat perempuan yang begitu ia cintai berjalan menghampirinya. Kana tersenyum dan mengusap rambut Kaila. "Semangat ya! Semoga semua berjalan lancar dan usaha yang kamu buat bisa sukses besar."


Kaila mengangguk dan memejamkan mata. "Aamiin Ya Allah. Aamiin paling serius," jawab Kaila seraya tertawa kecil dan meraih tangan Kana.


Kana terkekeh dan menatap Kaila penuh makna.


"Makasih ya, Na?"


Kana mengangguk dan menarik Kaila ke dalam pelukannya.


"Makasih karena kamu udah mau nunggu aku. Meskipun aku gak pernah kasih jaminan kalau aku akan kembali."


Kana tersenyum seraya mengusap kepala Kaila. "Selama ini aku selalu yakin La, kalau kamu pasti kembali. Karena aku tahu, Cuma aku yang bisa bikin kamu bahagia," ucap Kana dengan percaya dirinya membuat Kaila tertawa.


"Pede banget ya," lirih Kaila.


Kana terkekeh dan mengeratkan pelukannya.


Kaila memejamkan mata menikmati pelukan yang Kana berikan. Hangat dan begitu nyaman.


Rasanya, lelah Kaila lenyap begitu saja dalam pelukan Kana.


Kana terkekeh dan melepas pelukannya. Menatap wajah Kaila dan menyentuh wajah kekasihnya. "Kamu pasti capek ya?"


Kaila mengangguk. "Tapi aku seneng, mereka semua peduli sama aku dan mau dateng kesini."


Kana mengangguk. "Karena kamu baik, La. Makanya banyak yang sayang dan peduli sama kamu."


Kaila tersenyum. "Aku beruntung punya kamu dan mereka, La."


"Kita semua yang beruntung punya kamu," ucap Kana seraya menyingkirkan rambut yang menutupi mata Kaila.


Kaila menyengir kuda, lalu menoleh pada jam di tangannya.


"Semua tamu yang kamu undang udah pada dateng?" tanya Kana.


Kaila tampak mengingat. "Hampir semua sih. Cuma ada satu yang belum dateng."


"Siapa?" tanya Kana.


Kaila menggigit bibir bawahnya dan menatap Kana. "Justin."


Kaila menghela napas dan tersenyum lega. "Syukurlah Justin Bieber gak dateng."


"Kaila!"


Kana melebarkan mata dan menoleh.


Kaila ikut menoleh. "Itu Justin!" Perempuan itu tersenyum dan melambaikan tangannya saat laki-laki bernama Justin datang.


"Baru juga gue bersyukur," umpat laki-laki itu lalu menghela napas panjang.

__ADS_1


Mendengar suara helaan nafas Kana, Kaila pun menatap laki-laki itu. Ia tertawa kecil dan merangkul lengan kekasihnya.


"Kaila, aku dateng!" seru Justin saat ia sampai di hadapan Kaila dan Kana.


Kaila tersenyum. "Syukurlah. Aku pikir kamu gak bisa dateng karena sibuk."


Justin tertawa. "Sesibuk-sibuknya aku, pasti bakal nyempetin kok buat dateng ke acara kamu."


Kana memutar bola matanya mendengar ucapan Kana. "Dasar laki kardus," lirih Kana.


Justin terkekeh. "Apalagi ini perdana 'kan event kamu di Indonesia?"


Kaila mengangguk. "Sebenarnya ini belum bisa disebut event sih. Lebih ke pembukaan aja."


Justin tertawa dan mengangguk. "Oke! Oke! Semoga pembukaan ini akan membawa kesuksesan ya?"


Kaila tersenyum. "Aamiin. Makasih banyak ya?"


Justin mengangguk dan semakin menebarkan senyumnya membuat Kana kesal dan memutar bola matanya malas.


"Gimana perasaan kamu waktu gedung ini resmi jadi milik kamu?" tanya Justin bak wartawan di hadapan Kaila.


Kaila terkekeh. "Gimana ya?" pikir Kaila. "Seneng sih, seneng banget. Intinya aku kaya ngerasa punya tempat yang bisa aku tuangin buat berkreasi."


Justin tertawa dan mengangguk setuju. "Lebih leluasa buat berkreasi lah ya?"


Kaila mengangguk membenarkan.


Kana menghela napas panjang, dan mengeratkan pegangan tangan Kaila pada lengannya. Sehingga membuat mata Justin tertuju ke arahnya.


Justin tersenyum lebar. "Ini pacar kamu?" tanya Justin pada Kaila.


Belum sempat Kaila menjawab. Kana sudah mengulurkan tangannya pada Justin. "Calon suami sih lebih tepatnya."


Kana mengangguk, lalu merangkul pundak Kaila. "Udah lama kenal calon istri aku?"


Justin mengangguk. "Kurang lebih tiga atau dua tahun yang lalu ya, Kai? Kayanya sebelum ada event di Jerman itu, kita udah pernah ketemu gak sih?"


Kaila tampak mengingat, lalu melebarkan mata. "Ah iya! Aku inget, sebelum ada event itu kita pernah ketemu di Mall. Kalau gak salah barang kamu jatuh gak sih?"


Kana memutar bola matanya. "Salah cari topik," umpatnya dalam hati.


Justin melebarkan mata dan ikut mengangguk. "Iya, bener-bener! Waktu itu kamu sama cowok—"


Justin menggantungkan ucapannya membuat Kana menoleh pada Kana dan menatapnya penuh tanya.


Kaila tersenyum gugub. "Itu Bima!" ucapnya membuat Kana terdiam.


Justin mengangguk. "Pacar kamu waktu di Jerman?" lirih Justin seraya melirik Kana yang terlihat biasa saja.


Kaila menggeleng. "Bukan! Dia kakak aku."


"Ohh," jawab Justin. "Oh ya Kai, tahu gak? Aku pengen nunjukin sesuatu sama kamu!" seru Justin.


Kaila menaikkan kedua alisnya. "Sekarang?"


Justin mengangguk.


Kana seperti tak rela. Laki-laki itu mengeratkan genggamannya mengatakan pada Kaila untuk jangan pergi.


Kaila menggigit bibir bawahnya bingung.


"Ayo!" seru Justin.

__ADS_1


Kana semakin mengeratkan genggamannya. "Kaila masih pengen disini," ucap Kana.


Justin menoleh pada Kaila. "Beneran, Kai?"


Kaila mengangguk dan tersenyum ragu.


Justin membulatkan bibirnya. "Yaudah, kalau gitu aku bawa kesini aja ya?"


Kaila mengangguk dan membiarkan Justin berjalan pergi.


Kana berdecak. "Kayanya dia suka sama kamu."


Kaila menoleh. "Enggak ah."


Kana menghela napas. "Keliatan banget, Lala. Dari cara dia ngomong sama kamu, mandangin kamu, semuanya keliatan jelas!"


Kaila tersenyum. "Jadi kamu cemburu lagi nih?"


"Iyalah! Siapa coba yang gak cemburu liat pacarnya di godain di depan mata?" tanya Kana.


Kaila terkekeh dan menyandarkan dagunya di pundak Kana. "Lucu ya liat pacar cemburu."


"Terus, terus aja gitu," ucap Kana dengan tatapan malas.


"Kaila!" seru Justin yang sudah kembali.


Kana dan Kaila menoleh pada laki-laki itu. Justin tersenyum dan berjalan mendekat.


Namun, laki-laki itu tak sendiri. Ia bersama dengan seorang wanita.


"Catelin?" ucap Kaila menatap wanita yang berada di samping Justin.


Wanita bernama Catelin itu tersenyum. "Hi, Kaila. Congratulations!" seru Catelin memeluk Kaila.


Kaila membalas pelukan Catelin. "Thank you, Catelin!"


"I heard everything from Justin. That's why I came here to see you," ucap Catelin dengan senyuman.


Kaila mengangguk. "I didn't expect you to come here. Again, I thank you very much."


Justin tersenyum. "Doain kami berdua ya, Kai."


Kaila menaikkan kedua alisnya memberikan tatapan penuh tanya.


"We're getting married," ucap Catelin membuat Kaila melebarkan mata.


"Seriously?" tanya Kaila dengan raut wajah bahagia.


Dan tanpa semua sadari, Kana yang paling bahagia kali ini. Laki-laki itu bersorak ria karena tahu jika Justin bukanlah saingannya.


"Congratulations, Catelin! I hope you and Justin be a happily ever after couple," ucap Kaila.


Justin mengangguk dan merangkul pundak Catelin.


Kana tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya pada Justin. "Congratulations ya, Bro!" ucapnya dengan begitu ramah membuat Kaila menoleh.


Kaila terheran-heran dan tersenyum miring.


Kana terkekeh dan menyenggol tubuh Kaila. "Gak jadi cemburu," bisiknya membuat Kaila tertawa.


"What's the matter?" tanya Catelin bingung.


Kaila dan Kana menggeleng. "No problem!" jawab keduanya dan mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2