
Part 8
Wilka keluar dari rumah Kaila dan berlari menghampiri kembarannya yang tengah menghajar Erkan.
"Ko! Udah, berhenti!" Wilka menarik lengan Wilko agar laki-laki berhenti memukul Erkan.
'Bug!'
Kali ini sebuah tinjuan mendarat pada bibir Wilko.
Wilka yang melihat saudara kembarnya di hajar pun merasa takut. Namun ia tak mungkin tinggal diam. Ia menarik Wilko sampai terjatuh dan menghampiri Erkan.
"Hajar gue kalau lo berani!" bentak Wilka di hadapan Erkan.
"Gak usah ikut campur lo," ucap Erkan seraya mendorong Wilka untuk menjauh dari hadapannya.
Erkan menatap Wilko yang saat ini berada di aspal dengan terduduk. Laki-laki itu menghampirinya dan menarik lengan Wilko. "Lo kalau masih benci sama gue bilang!"
"Gue memang benci sama lo! Gak peduli lo lebih tua dari gue atau bukan!" ucap Wilko dengan tatapan tajam. "Karena lo, udah bikin dia menderita!"
'Bug!'
Wilko memberi satu pukulan lagi di wajah Erkan.
Wilka tak habis pikir dengan pemandangan di depannya. Ia menarik tubuh Erkan untuk menjauh. Namun laki-laki itu malah semakin gencar untuk memukul Wilko, begitupun sebaliknya.
"MAMA! INI MA, WILKO BERANTEM, MA!" teriak Wilka membuat kedua orang yang tengah berkelahi tadi menghentikan aktivitasnya.
Erkan bangkit dan berlari ke arah motornya dan berlalu pergi. Sedangkan Wilko, laki-laki itu bangkit dan memegang sudut bibirnya. "Mana Mama?"
Wilka berusaha untuk tidak tertawa. "Udah ayo masuk," ucapnya mengajak Wilko untuk masuk ke dalam rumah Kaila.
"Ini rumah siapa?" tanya Wilko bingung.
"Temen aku. Udah ayo masuk."
Wilko menggangguk dan ikut masuk ke dalam rumah Kaila. Wiko memandang rumah tersebut dengan kedua bola matanya. Mengitari setiap sudut ruangan yang sangat asing baginya.
"Erkan udah pergi 'kan?"
Wilko menoleh ke sumber suara. Ia menatap gadis yang kini berjalan menghampirinya.
Matanya tak berhenti menatap. Ia mengusap matanya dan kembali memfokuskan pandangannya pada gadis itu.
"Kamu gak papa?" tanya gadis itu.
Wilko terdiam beberapa saat lalu mengangguk.
"Kai, punya P3K gak?" tanya Wilka.
"Ada. Aku ambil dulu ya." Kaila berjalan memasuki kamarnya untuk mengambil kotak P3K miliknya.
"Dia siapa?" tanya Wilko pada saudara kembarnya.
"Kaila. Dia pindahan dari Jakarta. Sebelumnya dia sempet tinggal di Jogja juga, tapi bukan daerah sini," jawab Wilka.
"Satu kelas?"
Wilka mengangguk. "Tapi dia udah punya pacar. Jadi jangan berharap dia bakal suka sama kamu."
Wilko menghela napas dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama dia? Kamu kenal memang sama kakak tingkatku itu?" tanya Wilka menyebut Erkan.
Wilko melebarkan mata. "Dia kakak tingkat kamu?"
"Iya," jawab Wilka adanya. "Memang kenapa sih?"
"Dia yang ngerebut mantanku."
"Hah?" Wilka terkejut. "Kenapa aku baru tahu?"
Wilko menghela napasnya. "Ya karena kita beda sekolah juga Wilka, makanya kamu gak tahu. Lagipula itu kejadiannya udah lama juga."
"Terus? Lo masih benci sama dia?"
"Ya jelaslah! Lagipula cowok mana yang rela ceweknya di rebut cowok lain?"
__ADS_1
"Tapi, bukannya dia gak bakal ngerebut ya kalau mantanmu gak mau? Itu buktinya mantanmu—"
"Kamu gak tahu kronologinya, Ka!" bentak Wilko membuat Wilka terdiam.
Kaila kembali dengan kotak P3K di tangannya.
"Ini," ucap Kaila memberikannya pada Wilka.
Namun Wilka tak merespon. Gadis itu sepertinya sedang kesal. Terlihat dari dia yang membuang tatapan ke arah lain.
Wilko yang melihat tak ada respon dari Wilka pun akhirnya mengambil kotak itu sendiri. Ia membukanya dan mengambil kapas beserta antiseptiknya.
"Bukan yang itu," ucap Kaila yang melihat Wilko salah mengambil botol antiseptik.
Wilko mengangguk dan membiarkan Kaila yang mengambil.
"Kapasnya juga jangan yang itu. Mending pakai kapas yang ini aja." Kaila mengambil kapas itu dan menyatukannya dengan antiseptik tadi.
"Ini," ucapnya menyerahkan kapas itu pada Wilko.
Wilko mengangguk dan meraihnya. Laki-laki menempelkan kapas tadi pada luka di bibirnya. Dengan rasa perih, Wilko terus memejamkan mata.
"Bisa gak sih?" bentak Wilka yang menahan kesalnya pada Wilko.
Kaila yang melihat Wilka pun merasa bingung. Ada apa dengan gadis itu?
"Kembarannya sakit, bukannya di obatin malah dibiarin," gerutu Wilko.
Kaila melebarkan mata. "Jadi kalian berdua kembar?"
Wilko mengangguk. "Kembarnya sedikit, bedanya banyak."
"Kenapa aku baru tahu kalau Wilka punya kembaran? Terus nama kamu siapa?" tanya Kaila yang sepertinya penasaran dengan dua saudara kembar tersebut.
Wilko tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Kaila. "Wilko."
"Wilko? Wilka?" ucap Kaila.
Wilko mengangguk. "Kamu sendiri, punya kembaran?" tanya laki-laki itu.
"Ada-ada aja sih nanyanya, ya enggak lah!" pekik Wilka.
Wilko membulatkan bibirnya.
"Udah sini aku yang obatin!" pekik Wilka yang masih sangat kesal dengan saudara kembarnya tersebut. Lantaran sudah merahasiakan hubungannya.
-o0o-
"Aku pamit pulang dulu ya, Kai. Kamu beneran gak papa sendiri?" tanya Wilka yang sebenarnya belum tega meninggalkan Kaila di rumah sendiri.
Kaila mengangguk. "Aku gak papa kok. Lagipula yang penting Erkan udah pergi, aku udah lega."
Wilka mengangguk dengan senyuman. "Yaudah, tapi pokoknya kalau ada apa-apa langsung kabarin aku aja ya?"
"Siap-siap! Makasih ya?" ucap Kaila.
Wilka tersenyum. "Aku pamit ya, Assalamualaikum?"
"Waalikumsalam," jawab Kaila.
"Aku permisi juga ya," ucap Wilko. "Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam," jawab Kaila dan menutup pintu rumahnya.
Kaila kembali ke kamar dengan perasaan lega. Untunglah Erkan sudah pergi dari rumahnya.
"Sekarang jam Sepuluh. Kana udah tidur belum ya?" ucap Kaila penuh tanya.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur. Menarik selimut dan memandang layar persegi di tangannya.
"Tut! Tut!"
Kaila terlihat tengah menghubungi Kana. Berharap laki-laki itu belum tidur, dan mau menemaninya sebelum ia terlelap.
Tak lama, panggilannya tersambung pada laki-laki di seberang sana.
"Halo," ucap Kana mengawali telponnya dengan Kaila.
__ADS_1
"Udah tidur ya?" tanya Kaila.
"Enggak, kok. Aku masih tiduran aja sambil nonton. Kamu kenapa belum tidur?" tanya Kana kali ini.
Kaila tersenyum. "Ini baru mau tidur. Tapi—"
"Tapi gak bisa tidur?" tanya Kana membuat Kaila terkekeh malu.
"Mau aku nyanyiin gak supaya bisa tidur?"
Kaila melebarkan mata. "Beneran?"
"Iyalah. Sejak kapan aku jadi tukang boong. Demi Alek, aku mau nyanyiin lagu pengantar tidur buat kamu."
Kaila tersenyum. "Oke."
"Aku ambil gitar dulu ya," ucap Kana di seberang sana.
"Iya."
Tak lama, suara telpon terdengar kembali.
"Lala," panggil Kana di seberang sana.
"Iya?"
"Belum tidur 'kan?" tanya Kana memastikan.
Kaila menggeleng refleks. "Belum kok."
"Yaudah, dengerin ya."
Kana memegang sebuah gitar di tangannya dan mulai memaikan senar untuk menghasilkan alunan musik yang merdu.
Suara Kana belum ikut andil. Laki-laki itu masih mengepaskan nada, hingga alunan musiknya terdengar indah di telinga.
Alunan musik yang keluar begitu merdu. Ini adalah lagu milik Ungu yang berjudul 'Cinta Dalam Hati'.
"Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku"
Kana menarik napasnya dan kembali untuk bernyanyi.
"Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja! Huoooooo!"
"Eh—em!" Kana berdeham. "Gimana, suka gak?" tanyanya berharap Kaila akan menjawab iya.
"La? Suka gak?"
Tak ada jawaban.
"Halo, La?"
Tetap tak ada jawaban.
__ADS_1
Kana tersenyum. "Selamat tidur pacar Kana," ucapnya lalu mematikan sambungan teleponnya.
-o0o-