
Part 23
Suasana ditaman sore ini cukup ramai. Banyak dari mereka yang datang untuk sekedar jalan-jalan, bermain bersama keluarga, ataupun menghabiskan waktu bersama dengan pacar.
Bima menyunggingkan senyum saat Kaila dengan sabarnya mengikuti keinginan Kiara untuk bermain ayunan.
"Lo memang idaman banget, Kai." Bima menggelengkan kepala dan bangkit dari duduknya.
"Kak Bima, sini!" teriak Kiara saat Bima berjalan menghampiri keduanya.
Bima mengangguk. Ia menghampiri Dua gadis itu dengan senyuman di wajah. Terlihat begitu bahagia.
"Thanks ya, lo udah mau ngeluangin waktu buat Kiara," ucap Bima pada gadis di hadapannya.
Kaila mengangguk. "Gue malah yang makasih. Karena dengan adanya Kiara, gue jadi gak kesepian."
Bima terkekeh.
"Kak, aku pengen es krim!" seru Kiara seraya menunjuk penjual es krim yang kebetulan lewat.
Bima mengangguk. "Iya, Kakak beliin."
"Gak usah, Kak. Kiara aja. Kak Bima disini aja temenin Kak Kaila." Kiara turun dari ayunan dan berlari.
"DEK, UANGNYA!" teriak Bima.
"KIARA MASIH ADA UANG, KAK!" seru Kiara.
Bima mengangguk dan naik ke atas ayunan bersama dengan Kaila. Untunglah ayunan itu terbuat dari besi, jadi keduanya tak khawatir ayunan itu akan patah.
"Baru kali ini gue liat Kiara sebahagia ini."
Kaila menoleh dan tersenyum. "Memangnya biasanya gak sebahagia ini?"
Bima menggeleng."Adik gue selalu di kekang sama Papa. Gak boleh ini, itu." Bima tersenyum. "Tapi sekarang gue nekat, gue akan buat adik gue bahagia. Apapun yang Kiara mau, akan gue lakuin."
Kaila tersenyum. "Gue salut sama lo, Bim."
Bima tertawa. "Salut gimana?"
Kaila mengangguk. "Meskipun lo orangnya sedikit tengil, ternyata lo sosok yang penyayang adik." Kaila menghela napas. "Gue yakin, Kiara pasti bahagia banget punya Kakak seperti lo." Kaila mengatakan itu seraya menitihkan air matanya.
"Kok lo nangis?"
Kaila menggeleng. "Gue cuma sedih aja. Gue sedih karena gak bisa merasakan gimana rasanya di sayang sama Kakak sendiri."
Bima terdiam. "Lo jauh dari Kakak lo?"
Kaila mengangguk. "Gue jauh dari semuanya."
"Maksudnya?"
Kaila menggeleng. "Gak papa, Bim." Kaila diam. Ia hampir saja menceritakan masalah keluarganya pada orang lain.
"Kai," panggil Bima membuat gadis itu menoleh. "Are you okay?"
Kaila mengangguk. Namun beberapa sat setelahnya, air matanya kembali jatuh.
"Kai, lo boleh kok cerita sama gue. Siapa tahu aja, dengan lo cerita, lo bisa lebih tenang."
Kaila menggeleng. "Gue gak papa kok."
Bima menggeleng tak percaya. "Gue tahu ada yang lo sembunyiin, Kai. Gue tahu. Meskipun gue belum kenal lama sama lo, tapi gue tahu lo orangnya gimana."
Kaila tersenyum. "Gue gak papa, Bima."
Bima menggeleng. "Inget, Kai. Gak semua luka harus lo sembunyiiin sendiri." Bima menghela napas. "Gue jadi penasaran, jangan-jangan kasus penculikan lo waktu itu ada hubungannya sama ini?"
Kaila diam.
"Bener 'kan?" tanya Bima namun tak di jawab oleh Kaila. Bima mengangguk mantap. "Gue yakin pasti bener."
"Tapi please, lo jangan cerita ke siapa-siapa ya?" ucap Kaila akhirnya.
Bima mengangguk. Ia menatap Kaila dengan serius. "Sekarang lo ceritain sama gue."
__ADS_1
Kaila mengangguk. "Sebenarnya, keluarga gue udah berantakan dari gue kecil, Bim. Tepatnya saat umur gue Lima tahun. Saat itu, gue punya Kakak yang umurnya Dua tahun lebih tua dari gue dan adik yang umurnya Tiga tahun lebih muda dari gue."
Bima mengangguk. Ia nampak serius mendengarkan cerita Kaila.
"Gue pikir, dengan adanya keluarga yang utuh, gue bakal hidup bahagia. Tapi nyatanya enggak, Bim. Orangtua gue sering berantem, bahkan gak jarang mereka ngelakuin kekerasan fisik." Kaila menghela napas. "Gue bener-bener hancur saat itu. Kakak gue berusaha nenangin gue dan adik gue. Kita bertiga pernah sembunyi di dalam lemari karena takut setiap orangtua gue berantem."
Bima mengangguk. Ia mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir Kaila.
"Gue pikir, semua itu bakal berhenti kalau mereka saling menerima satu sama lain. Tapi ternyata gue salah. Tiga hari setelah pertenggaran hebat, orangtua gue memutuskan untuk bercerai. Gue yang saat itu belum terlalu ngerti soal perceraian, cuma bisa diam. Sampai akhirnya Papa gue pergi bawa Kakak gue, dan Mama gue pergi bawa adik gue. Gue bener-bener sendiri saat itu."
Bima diam. Ia melihat air mata Kaila luruh.
Dada Kaila terasa sesak. "Gue gak ngerti apa-apa, Bim. Gue bener-bener sendiri. Gak ada salah satu dari mereka yang bawa gue. Gue bener-bener sendiri. Gue gak tahu apa salah gue. Sampai akhirnya, Nenek gue dateng dan bawa gue ke rumahnya."
Bima mengangguk, ia mencoba mengerti perasaan Kaila saat ini.
Kaila menghela napas. "Setelah hari itu, Nenek gue selalu bilang kalau gue gak usah cari-cari orangtua gue lagi. Gue tahu kenapa Nenek gue bilang gitu, karena orangtua gak peduli sama gue." Kaila tersenyum getir. "Tapi namanya seorang anak, gue gak mungkin diem aja. Gue udah besar sekarang, gue harus cari orangtua gue. Gue juga yakin, pasti saat ini salah satu dari mereka menyesal karena udah ninggalin gue." Kaila tersenyum dan mengusap air matanya.
"Apa yang bakal lo lakuin Kai kalau suatu saat lo bakal ketemu mereka?" tanya Bima.
Kaila tersenyum. "Gue akan berterima kasih karena udah kasih kehidupan yang keras dan pahit buat gue. Tanpa semua ini, gue gak akan jadi Kaila yang kuat."
Bima terdiam dengan ucapan Kaila. "Kai, gue bangga sama lo."
Kaila terkekeh. "Apa yang dibanggain dari gue, Bima?" ucap Kaila berusaha tertawa.
"Lo spesial."
Kaila diam.
Bima meraih tangan Kaila. "Lo spesial buat gue, Kai. Dengan waktu yang begitu singkat, lo berhasil buat gue jatuh hati sama lo."
"Bim?" ucap Kaila tak mengerti.
"Gue suka sama lo, Kai. Gue pengen lo warnai hidup gue."
Kaila menggeleng. "Tapi gue—"
"Kai, gue sama kaya lo. Kita berdua sama-sama terjebak dalam masalah keluarga yang gak bisa kita hindarin."
"Tapi, Bim—"
Kaila diam.
"Kai, jadi pacar gue ya?"
-o0o-
Raisa menggelengkan kepala tak percaya. Ia masih saja menatap kertas itu dan terus membacanya meski berkali-kali. Ia teringat kedatangan Nabila siang tadi.
#Beberapa jam yang lalu ... #
"Kamu?" ucap Raisa yang melihat seorang wanita menghampirinya.
Wanita itu tersenyum. "Tante pasti ingat siapa saya. Saya Nabila, mantan pacar sekaligus masa lalu menantu Tante."
Raisa diam. "Mau apa kamu kesini?"
Nabila menoleh pada gadis kecil yang saat ini tengah memakan kue di meja. "Bisa kita bicara di dalam?"
Raisa mengangguk. Ia membukakan pintu untuk Nabila masuk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Saya ingin bertemu dengan anak saya," ucap Nabila.
Raisa melebarkan mata tak mengerti. "Maksud kamu? Siapa anak kamu?"
"Saya tahu anak saya sering kesini. Jadi saya mohon, tolong pertemukan saya dengan dia."
"Saya gak ngerti, maksud kamu siapa? Siapa anak kamu?"
'Tok! Tok! Tok!'
Terdengar suara ketukan pintu membuat Raisa dan Nabila menoleh.
__ADS_1
"Masuk!" teriak Raisa.
'Ceklek!'
Pintu terbuka dan menampilkan Susi disana. "Bu, kue terbarunya kayanya udah mateng. Tapi Susi gak tahu tingkat kematangannya seberapa."
Raisa mengangguk. "Biar Ibu lihat," ucapnya dan berjalan keluar.
Nabila menghela napas. Ia rasa ini bukan waktu yang tepat.
Nabila berjalan keluar dan menghampiri putrinya. "Ayo, sayang, kita pulang."
Kiara mengangguk mengikuti langkah Ibunya untuk mengantri pembayaran.
"Oma mana Tan?" ucap seorang laki-laki membuat Nabila menoleh.
"Kak Kana!" teriak Kiara.
Jadi, anaknya kenal lelaki itu.
Laki-laki itu menoleh. "Kamu— kamu itu 'kan— siapa namanya— Ah, Kaira!"
"Kiara, Kakak!" ucap Kiara kesal.
"Oh iya, Kiara!"
"Memang Kiara kenal sama Kakak ganteng ini?" tanya Nabila membuat laki-laki menoleh dan tersenyum padanya.
"Kakak, kenalin, ini Mamaku." Kiara memperkenalkannya pada laki-laki itu.
Laki-laki tersenyum dan menjabat tangannya. "Kana, Tante."
"Nabila, Mamanya Kiara."
Kiara tersenyum dan memeluk lengan Nabila. "Kak Kana ini temennya Kak Kaila Ma. Kak Kaila temennya Kak Bima. Jadi Kak Kana temennya Kak Bima juga. Ya 'kan Kak?" tanya Kiara pada Kana.
Kana tersenyum tipis. "Hehe, iya."
"Jadi kamu deket sama Bima?" tanya Nabila.
"Iya Tante, saya deket sama Bima." Kana tersenyum. "Deket pengen nonjok maksudnya," umpatnya dalam hati.
Nabila tersenyum. "Kalau gitu main-main ke rumah. Bima pasti seneng."
Kana menganguk. "Siap, Tante."
"Kana!" seru Raisa membuat Kana menoleh. Begitupun dengan Nabila.
"Ada apa, Oma?" tanya Kana membuat Nabila melebarkan mata.
"Tante, saya ke dalam dulu temuin Oma," ucap Kana pada Nabila,
Nabila mengangguk dan memandang punggung Kana yang perlahan menjauh. "Jadi kamu— anaknya Kavin?"
"Selanjutnya!" teriak Susi membuat Nabila tersadar jika antrian sudah habis.
Nabila tersenyum dan maju beberapa langkah. "Maaf, boleh saya minta kertas dan pena sebentar?"
Susi mengangguk dan menyerahkan apa yang Nabila minta. "Ini."
Nabila mengangguk dan meraihnya. Wanita itu menuliskan sesuatu di kertas itu dan melipatnya. "Ini penanya," ucapnya mengembalikan pena itu.
Setelah membayar kue. Nabila berjalan keluar bersama dengan Kiara. Wanita itu nampak mencari sesuatu.
Raisa yang mengikuti langkah Nabila dari belakang pun mengintip dari jendela. Ia melihat Nabila berjalan menghampiri motor Kana dan meletakkan sesuatu di sana.
"Apa yang dia taruh?" lirih Raisa penasaran.
Setelah Nabila menjauh dan berjalan pergi, Raisa hendak berjalan keluar untuk mengambil kertas itu.
"Oma!" teriak Kana membuat Raisa menghentikan langkah dan menoleh. "Ma, sini, temenin Kana makan kue."
Raisa menghela napas dan menghampiri cucunya tersebut. "Mau makan kue aja minta di temenin," ucap Raisa.
Kana terkekeh dan menyantap kue di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang wanita itu taruh?" lirih Raisa seraya menandang cucunya yang tengah menyantap kue.
-o0o-