
Part 10
"Kamu gak papa?" tanya Wilko setelah keduanya sudah berada jauh dari Erkan.
Kaila turun dari motor Wilko dan mengangguk. "Kamu kenapa bisa disana tadi?" tanyanya penasaran.
"Aku gak sengaja lewat. Terus liat kalian sama Erkan."
Kaila membulatkan bibirnya. "Tapi cewek tadi beneran udah pergi 'kan?"
Wilko mengangguk. "Aku udah suruh dia naik taksi. Jadi aku pastiin dia bakal aman."
Kaila menghela napas lega. "Syukurlah."
"Kamu sendiri, kenapa bisa berhadapan sama Erkan? Kamu memang di ganggu sama dia?" tanya Wilko.
Kaila menunduk. "Aku kasian sama pacarnya. Makanya aku turun dan mau belain pacarnya. Tapi ternyata aku masih takut sama Erkan. Dia bener-bener bikin aku gak bisa berkutik."
Wilko tersenyum tipis. "Besok lagi kalau memang gak berani, gak usah di paksain. Kamu gak perlu samperin mereka. Kamu tinggal telpon polisi atau telpon aku."
Kaila tertawa. "Kamu memang jagonya."
Wilko tersenyum. "Maaf ya, aku baru kenal kamu semalem, tapi udah bawa kamu pergi kaya gini."
Kaila mengangguk. "Gak papa kok." Kaila tersenyum tipis lalu mengembalikan helm Wilko.
"Loh? Kenapa di balikin? 'Kan rumah kamu masih jauh."
"Aku bisa naik angkot."
"Tapi nanti kalau kamu ketemu Erkan lagi gimana?"
Kaila tertawa. "Enggak-enggak. Aku bisa jamin."
"Beneran?"
Kaila mengangguk.
"Sini hp kamu." Wilko menyodorkan tangannya untuk meminta ponsel Kaila.
Kaila tak mengerti. "Buat apa?" ucapnya seraya menyerahkan ponselnya pada Wilko.
Wilko menekan beberapa nomor dan menyimpannya. "Buat jaga-jaga. Kalau Erkan nyamperin kamu lagi, kamu bisa telpon aku," ucap Wilko.
Kaila mengangguk. "Siap!"
Di saat yang bersamaan, sebuah angkot berhenti. Kaila tersenyum dan Wilko lalu berlari menuju angkot tersebut.
"Kaila!" teriak Wilko membuat Kaila menghentikan langkahnya dan menoleh. "Hati-hati."
__ADS_1
Kaila tersenyum dan masuk ke angkot tersebut.
Setelah angkot yang di naiki Kaila pergi, Wilko tersenyum tipis dan menoleh ke belakang. Pikirannya sudah tertuju ke satu orang.
-o0o-
Kana meraih tasnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut setelah rapat di tutup oleh dosen kemahasiswaan.
"Kana!" teriak Gisel, namun laki-laki itu dan mendengarkan. Ia terus melangkah dan tak menoleh sekalipun.
"Kenapa sih dia sulit banget buat di raih?" ucap Gisel kesal dan kembali berlari mengejar laki-laki itu.
Kana berjalan menuju tempat di mana Kaila duduk tadi. "Dia udah pulang? Syukurlah," ucap Kana dan melanjutkan langkah menuju parkiran.
"Kan! Tungguin dong!" teriak Gisel yang ternyata mengikuti Kana hingga di parkiran.
Kana tak merespon. Laki-laki itu mengenakan helm-nya dan naik ke motor. Namun, ia segera membuka kaca helmnya setelah di rasa motornya begitu berat.
"ELO?!" bentak Kana yang tak suka melihat Gisel sudah naik ke motornya. "LO APA-APAAN SIH? SIAPA COBA YANG NYURUH LO NAIK KE MOTOR GUE!" bentak Kana pada gadis itu.
Melihat Kana membentaknya, membuat Gisel mengerucutkan bibirnya dan menunduk.
"Eh, liat geh! Itu mahasiswa baru yang katanya ketua tingkat 'kan?" ucap seseorang yang melihat Kana baru saja membentak Gisel.
"Eh, iya! Kasar banget sih dia. Katanya ketua, tapi gak ada hati sama sekali."
"Biasalah, dia 'kan bukan asli sini."
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang menyindirnya.
Kana menghela napas dan melepas helmnya. Lalu menoleh pada gadis yang sepertinya sangat cari muka di depan semua orang.
"Gue cuma mau nebeng lo, Kan. Gue gak berani mau pulang naik angkutan umum. Lagipula udah malem, gue takut kenapa-napa," lirih Gisel membuat Kana semakin muak mendengarnya.
Kana memutar bola matanya dan kembali naik ke atas motor, mengenaka helm kembali, lalu menstater motornya.
"Cepet."
Gisel melebarkan mata. "Lo nyuruh gue naik?" ucapnya dengan senyum lebar.
"Cepet naik atau enggak, selamanya!"
Gisel mengangguk dan naik ke atas motor Kana. Rasa puas tercipta di wajah Gisel.
"Gue gak tahu ya lo ada niat buruk atau enggak ke gue, tapi gue peringatin, mending lo jauh-jauh dari hidup gue!" ucap Kana di sela-sela perjalanan mereka.
Gisel tersenyum miring lalu menatap wajah Kana melalui kaca spion. "Kalau gue gak mau jauh-jauh dari hidup lo, gimana?"
Kana menghentikan motornya. "Yaudah, lo turun."
__ADS_1
"Ih, Kana! Gitu banget sih. Asal lo tahu, ya. Gue itu suka sama lo. SUKA. S-U-K-A. Jadi, mau lo suruh gue pergi jauh sekalipun, gue gak bisa."
"Tapi gue punya Kaila!"
Gisel mengedikkan bahu. "Memang gue peduli?"
Kana menghela napas panjang. Gadis di belakangnya benar-benar gila. Ingin sekali rasanya Kana mempercepat lajunya, namun apalah daya Kana, phobianya terhadap kecepatan belum juga sembuh.
"Kan, denger-denger, lo suka banget sama olahan ayam ya?"
Kana tak menjawab. Laki-laki tetap fokus dengan kemudinya.
"Gue juga suka, loh! Denger-denger, orang yang kesukaannya sama, itu artinya jodoh," ucap Gisel dengan senyuman di wajah.
"Alhamdulillah," ucap Kana.
Gisel melebarkan mata dan tersenyum. "Alhamdulillah?"
Kana mengangguk. "Alhamdulillah gue jodoh sama Kaila. Karena apapun yang dia suka, gue juga suka."
Gisel memutar bola matanya. Bisa-bisanya Kana membicarakan Kaila di depannya.
"Orang bilang juga, kalau mirip artinya jodoh. Berarti gue jodoh sama Kaila. Lo bisa liat 'kan banyak kemiripan antara gue dan Kaila. Dari nama yang sama-sama berawal dari huruf 'K'. Kecintaa kami ke olahan ayam. Dan masih banyak lagi kemiripan antara gue dan Kaila yang lo gak tahu. Jadi stop sama-samain gue sama lo! Karena gue lebih suka disamain sama pacar gue sendiri, di banding sama lo."
Ucapan Kana bagaimana boom bagi Gisel. Terdengar klise, namun begitu menyakitkan baginya.
"Kenapa sih lo tega?"
Kana menaikkan kedua alisnya. "Maksud lo?"
"Kenapa lo jadi orang tega banget. Lo gak tahu gimana perasaan gue yang suka sama lo?"
Kana tertawa. "Harusnya lo mikir, siapa yang lo suka! Inget, gue punya cewek yang memang harus gue jaga perasaannya. Dan Kaila, segalanya buat gue."
"Gue bisa kok jadi Kaila buat lo. Gue lebih cantik, gue lebih seksi, gue lebih punya segalanya. Bahkan, orangtua yang lengkap!"
'Deg!'
Kana menghentikan motornya. Tangannya mengepal. Ia turun dari motor dan menatap Gisel tajam. "Apa lo tadi bilang?" tanyanya dengan tatapan murka.
Gisel terlihat gugub. Ia tak berani memandang Kana yang sepertinya benar-benar marah terhadapnya.
"Apa lo tadi bilang?" ucap Kana mengulangi pertanyaannya.
"Gue—" Gisel menggigit bibir bawahnya. Ia tak percaya apa yang ia ucapkan tadi membuat Kana murka.
Napas Kana menggebu. Lipatan jarinya pun berbuku-buku. Ia menatap gadis di depannya dengan tatapan tajam dan mendekat ke wajah gadis itu. "Gue masih terima lo hina Kaila, tapi gue gak suka lo sangkut pautin sama masalah keluarganya!" bentak Kana mendorong gadis itu untuk menyingkir dari motornya dan pergi.
Kana benar-benar muak dengan gadis itu.
__ADS_1
-o0o-