
Part 25
Kaila tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
"Jujur, aku masih kaya gak nyangka gitu dengan semua ini. Bener-bener dikasih kejutan dua hari berturut-turut."
Keiza mengangguk. Ia sediri pun demikian. "Aku bahkan masih syok. Gak ada angin, gak ada hujan. Gak tahu mimpi apa. Tiba-tiba Aji bawa orangtuanya tanpa bilang sepatah kata pun." Keiza terkekeh dan meneoleh pada Aji.
Aji tersenyum menahan malu. "Sebenarnya ini ide Kana," ucapnya melirik Kana.
"Tapi Aji yang kepengen juga," timpa Kana membuat keempatnya tertawa.
Disaat yang bersamaan, Bima datang seraya membawa minumannya. "Jadi disini yang belum terlihat hilal pernikahan gue sendiri ya?"
Kana tertawa. "Makanya Bim, buruan nikahin cewek lo yang di Jerman itu."
Kaila mengangguk setuju. "Jangan kelamaan dipacarin. Nanti di nikahin oranglain, baru tahu rasa lo."
Bima menghela napas dan menarik kursi yang berada di samping Aji. "Masalahnya dia Non muslim. Gue juga sampai sekarang masih bingung, apa dia mau nikah sama gue dan ya— ngorbanin semuanya."
Kana menoleh dan menatap Bima tak yakin. "Jadi lo sendiri pun masih ragu sama hubungan lo?"
Bima mengangguk dengan pandangan lurus,
"Kenapa masih di pertahanin, Bim?" tanya Keiza yang ikut bicara.
Bima menoleh dan tersenyum. "Aku sayang banget sama dia, Kak. Aku udah Sembilan tahun bareng dia. Dia yang selalu ada buat aku. Dia juga yang bantuin aku dari bawah bahkan sampai aku bisa seperti saat ini." Bima menghela napas. "Dia begitu berarti buat aku."
"Kalau boleh tahu, bisa lo ceritain gimana perjalanan cinta lo sama dia?" tanya Aji.
"Ah, kepo banget lo!" ucap Bima dengan tatapan kesal.
Aji menghela napas dan ikut menatap Bima kesal. Bahkan lebih kesal.
Bima terkekeh dan meraih lengan Aji. "Becanda, Kakak," ucapnya dan kembali ke posisi duduknya dan mulai menceritakan semuanya.
Sebelumnya, mereka semua sudah terlihat akan menyimak ucapan Bima.
Bima mengangguk dan menceritakannya ; "Saat itu, saat awal-awal gue dateng ke Jerman, gue memang gak punya apa-apa. Bahkan saudara pun sedikit disana. Itu pun keluarga dari Mama Bina."
Tentu kalian ingat, Mama Bina adalah Ibu kandung Bima. Dimana Bina merupakan istri pertama Hendry yang meninggal akibat tekanan hidup yang Hendry berikan.
Bima tersenyum tipis dan melanjutkan ucapannya. "Ya kalian tahu 'kan alasan gue ke Jerman karena mau ngelupain Papa gue yang gila?"
"Kak Bima," lirih Kaila untuk tidak agar mengatakan ayah kandung Bima seperti itu.
Bima menghela napas. "Memang bokap gue gila. Kalau gak gila, gak mungkin dia nyiksa dua perempuan yang seharusnya dia lindungin."
Dua perempuan yang Bima maksud adalah Bina dan Nabila.
Kana mengangguk dan tersenyum. "Oke, lanjut ke pacar lo."
Bima menunduk dan melanjutkan ceritanya. "Awal gue kenal dia, karena saat itu koper gue dan dia ketuker."
Mendengar hal tersebut, Kana dan Kaila pun saling memandang.
"Tapi setelah itu kita sadar dan langsung balikin koper masing-masing. Ternyata gue sama dia bakal ke tujuan yang sama. Alhasil, kita berdua naik taksi bareng. Kita kenalan dan lama-lama gue nyaman sama dia. Dia ngajakin gue buat kerja part time karena dia tahu gue cuma anak perantauan."
"Denger lo cerita gitu, kayanya lo sayang banget sama dia, Bim," lirih Aji.
Bima tersenyum dan mengangguk. "Banget, Ji."
"Jadi lo pacaran sama dia udah Sembilan tahun?" tanya Kana.
Bima menggeleng. "Awalnya kita cuma temen yang saling perhatian dan ngajalin hubungan tanpa ikatan status pacar. Tapi beberapa hari yang lalu, sebelum gue ke Indonesia. Gue putusin buat bikin ikatan supaya dia percaya kalau gue bakal kembali ke Jerman."
"Jadi kamu beneran bakal pulang ke Jerman?" tanya Keiza yang seperti tak rela.
Bima tersenyum dan mengangguk. "Separuh jiwa aku ada disana, Kak."
Keiza terlihat sedih dan akhirnya mengangguk.
"Tapi tenang aja, saat kalian menikah nanti, aku bakal pulang ke Indonesia kok. Aku janji bakal bawa pacar aku kesini. Aku mau kenalin mereka ke kalian."
Mereka semua tersenyum dan mengangguk.
"Semoga lo bisa pegang omongan lo, Bim," ucap Aji.
Bima menghela napas dan menatap Aji kesal. "Lo kira gue gak bisa pegang omongan gue?"
__ADS_1
"Ya gue ragu aja. Gue 'kan kenal lo gak setahun dua tahun. Jadi gue tahu gimana lo. Ya, gue minta lo beneran setia sama pacar lo itu. Jangan lo mainin seperti yang udah-udah," ujar Aji.
"Iya, Aji." Bima memutar bola matanya. "Lo ngomongin gue udah kaya ke adik lo aja."
"'Kan gue bakal jadi kakak gue," ucap Aji dengan senyuman sombong.
Bima mengerucutkan bibirnya, lalu menoleh pada Kana. "Berarti lo jadi adik gue dong?" ucapnya menunjuk laki-laki itu.
Kana menghela napas. "Gue juga kena?"
"Katanya lo mau nikah sama Kaila? Ya lo jadi adik ipar gue lah!" ucap Bima.
Kana memutar bola matanya. "IYA, KAK BIMA!" ucap Kana dengan penuh penekanan membuat mereka semua tertawa.
"Bye the way, bokap nyokap gak nungguin kita buat masuk nih?" tanya Aji.
Kana menggeleng. "Biarin dulu ajalah. Mereka juga masih asik ngobrol. Bokap lo juga 'kan lagi reunian sama Papa Angga."
"Lo manggilnya Papa sekarang?" ucap Aji.
Kana tertawa seraya melipat kedua lengannya. "Baru tadu dia!"
"Kana mah manggil Papa Angga, Papa. Manggil Almarhum Mama Nabila, juga Mama," tutur Keiza.
Kaila mengangguk membenarkan. "Pokoknya sebutan apa yang aku pakai, Kana juga pakai."
Aji berdecak dan menggelengkan kepala dengan tawa.
Kana terkekeh. "Itu salah satu bentuk pendekatan."
"Ditambah elo yang kepedean!" ucap Aji dan di angguki setuju oleh Bima.
"Bener! Lo bener, Ji!" ucap Bima.
Kana memutar bola matanya. "Ah, elo mah!" ucap Kana kesal.
"Apa? Mau ngelawan sama kakak?" ucap Bima menaikkan kedua alisnya.
"Ah, gak asik lo! Mainnya jabatan," ucap Kana membuat kedua gadis itu tertawa.
"Lama-lama disini mandang jabatan ya?" ucap Kaila.
Kana menjulurkan lidah pada Bima. "Mau apa lo? Kakak tertua bela gue."
-o0o-
"Makasih banyak ya atas hidangannya," ucap Alina pada keluarga Angga.
Kaila mengangguk. "Iya, Tante. Makasih juga atas kedatangannya."
Alina mengerucutkan bibirnya dan meraih lengan Kaila. "'Kan Mama udah bilang supaya Kaila panggilnya Mama aja, jangan Tante."
Kaila tersenyum malu. "Iya, Ma—ma."
Alina tersenyum dan memeluk Kaila.
Saat ini orangtua Kana dan orangtua Aji tengah berpamit untuk pulang. Setelah menghabiskan waktu tiga jam untuk mengobrol bersama, inilah waktu mereka untuk pulang. Karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Disaat semua orang bersalaman untuk pamit pulang, Nana terlihat tengah tersenyum menatap gadis di depannya.
"Makasih ya, Nak. Berkat kamu, senyum Aji kembali lagi."
Keiza tersenyum malu dan mengangguk. "Semua ini bukan karena Keiza, Tante."
"Mama dong, masa udah mau nikah masih sebut Tante."
Keiza tersipu malu dan menggangguk. "Iya, Mama."
Nana terkekeh dan mengusap kepala Keiza. "Kamu anak baik. Aji gak salah pilih kamu." Nana tersenyum lalu memeluknya. "Mama beruntung bisa punya calon menantu seperti kamu."
Keiza tak tahu harus berkata apa. Ia benar-benar merasa bahagia yang luar biasa.
Nana melepas pelukan itu dan menyentuh pipi Keiza. "Besok main ke rumah ya? Kita masak bareng."
Keiza mengangguk setuju. "Siap, Ma."
Setelah berpamitan, mereka semua pun menaiki mobil masing-masing untuk kembali ke rumah.
Dan setelah mobil mereka tak terlihat lagi, keluarga Angga pun kembali masuk ke dalam dan berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
"Akhirnya!" teriak Bima saya melembarkan tubuhnya ke atas sofa.
"Papa seneng banget hari ini," ucap Angga pada keempat anaknya.
"Jadi kapan Pa acaranya?" tanya Bima yang ingin di jelaskan kembali.
Padahal jelas-jelas lelaki itu berada di tempat saat kedua pihak keluarga memutuskan tanggal.
Angga menghela napas. "Ya itu, untuk acara pertunangan, mereka pengen dilaksanain minggu depan."
"Barengan?" tanya Bima.
Angga menghela napas dan menatap Kaila. "Tadi kakakmu ada di situ gak sih pas bahas tanggal?"
Kaila menyengir kuda. "Ada kok! Kak Bima aja yang gak dengerin."
Bima terkekeh dan kembali bertanya. "Jadi barengan acaranya?"
"Iya, Bima Aksana!" ucap Keiza yang tak tahan lagi dengan adiknya tersebut.
Bima mengangguk. "Ini yang dinamakan S3 Marketing Pernikahan. Hemat tempat, hemat waktu dan hemat bi-a-ya!"
"Bukan gituuuu!" teriak Kiara seraya mencubit kakak laki-lakinya. "Ini tuh moment bersejarah. Jarang-jarang ada pernikahan barengan. Apalagi sahabat dan kakak adik."
Bima menghela napas dan mengangguk. "Iya, iya, iya. Salah lagi gue."
"Ya emang salah kok!" pekik Kiara.
Bima berdecak menatap Kiara. "Dek, kok kamu malah suka ngegas gini sih sama kakak?"
"Abisnya kakak ngomongnya ngawur, ya ngegaslah."
Keiza dan Kaila tertawa.
Kiara mengerucutkan bibirnya dan menatap kedua kakak perempuannya. "Tuh, Kak. Kak Bima nyebelin banget." Kiara menoleh pada Bima dan menatapnya kesal.
Bima terkekeh. "Nanti kalau kakak pulang ke Jerman, nangesss!"
Kiara melebarkan mata. "Ih, siapa bilang?"
"Yakin?" Bima menaikkan kedua alisnya.
Kiara mengangguk.
"Yaudah kalau gitu kakak pergi sekarang aja."
"Et! Jangan geh. Katanya lusa," ucap Kiara yang menyandar pada lengan Bima.
Bima terkekeh dan mengusap pucuk kepala adik kecilnya tersebut. "Udah gede aja sih, kamu!"
Keiza tertawa. "Yah, Bima belum tahu kalau—"
Kiara meloloti Keiza membuat Keiza diam dan menahan tawa.
"Kenapa, Kak?" tanya Bima dan Kaila bersamaan.
Keiza menatap Kiara jahil dan ingin menceritakan yang sebenarnya.
"Kakak!" teriak Kiara.
"Kenapa?" tanya Angga yang jadi penasaran.
Kiara mengerucutkan bibirnya, berharap Keiza tak menceritakannya sehingga ayahnya tak tahu.
"Ini loh—" Keiza menggantungkan kalimatnya.
"Kakak," lirih Kiara dengan tatapan kesal.
"Kiara ikut lomba," ucap Keiza mengalihkan topiknya.
"Lomba apa? Makan kerupuk?" tanya Bima meremehkan.
Keiza tertawa keras mendengarnya.
Kiara berdecak. "Tau ah! Kakak-kakak nyebelin semua. Kiara mau ke kamar aja," ucapnya dan berjalan masuk ke kamar.
"Paling juga ke kamar mau ngechat Aldo," umpat Keiza menahan tawa.
-o0o-
__ADS_1