KANA (The Series)

KANA (The Series)
Part 18


__ADS_3

Part 18


"I want you to the bone


I want you to


Take me home, I'm fallin'


Love me long, I'm rollin'


Losing control body and soul


Mind too for sure, I'm already yours


Walk you down, I'm all in Hold you tight, you call and


I'll take control your body and soul


Mind too for sure, I'm already yours...."


Bima tersenyum dan meletakkan gitarnya setelah menyanyikan lagu To The Bone milik Pamungkas.


"Yeayy!" teriak Elsa dan yang lainnya.


"Lagi! Lagi!" teriak Kaila yang menyadari Bima belum menyanyikan lagu tersebut sampai habis.


Bima menggeleng dan menyerahkan gitarnya pada Kana. "Nih gentian."


"Lah, gue?" Kana menunjuk dirinya.


Aji mengangguk. "Cepet nyanyi gih. Dulu lo pernah bilang, kalau Kaila balik ke Indo lagi, lo bakal nyanyi lagu spesial buat dia," ucap Aji membuat semua bersorak ria, kecuali Kana dan Kaila.


Kedua insan itu terlihat malu-malu.


Kana tersenyum dan mengangguk, meraih gitar itu dan memposisikannya. "Oke, oke!" Kana meniup gitarnya dan berdeham. "Gue bakal nyanyiin lagu ini buat seseorang yang paling gue cintai," ucap Kana seraya melirik Kaila.


Semuanya bersorak ria. Mereka menggoda Kaila yang terlihat malu-malu kucing.


Kana berdeham dan mulai memainkan gitarnya.


"Dia indah, peretas gundah


Dia yang s'lama ini kunanti


Pembawa seju, pemanja rasa


Dia yang s'lalu ada untukku


Didekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Hooooo....


Tetaplah bersamaku


Jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milkku, milikmu


Kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu.."


Kaila tersenyum mendengar lantunan lagu yang keluar dari bibir Kana.


Tak hanya Kaila, semua ikut terpesona dan terbawa dengan suasana.


"So sweet banget, Kana," lirih Keiza.


Aji yang berada di sampingnya pun menoleh dan menjawab, "Udah lama gak di so sweet-in ya?"


Keiza tertawa dan menyenggol lengan Aji dengan kesal.


"Kau milikku, ku milikmu.


Kau milikku, ku milikmu."


Kana tersenyum lebar dan menatap Kaila dengan lekat.


"Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamku

__ADS_1


Jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku milikmu


Kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu.."


Kaila terkekeh dan mengangguk-angguk mengikuti irama.


"Bila di depan nanti


Banyak cobaan


Untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya aku ku punya kamu


Selamanya akan begitu!"


"Cieee!" teriak Elsa bersorak ria.


Kana tertawa kecil dan melanjutkan nyanyinya. "Tetaplah bersamaku


Jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku milikmu


Kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu...


Kau milikku ku milikmu


Kau Lala yang s'lalu aku puja...." ucap Kana mengganti satu bait terakhir dengan nama Kaila.


"Yeayyyy!" teriak Kaila yang sudah berdiri seraya bertepuk tangan.


Semua terkekeh menatap Kaila. Membuat wanita itu malu menutup wajahnya dan duduk kembali.


"Oke, oke. Sekarang gentian Aji yang nyanyi!" seru Kana menyerahkan gitar tersebut pada Aji.


Aji melebarkan mata. "Lah? Gue aja gak bisa nyanyi anjir," ucap Aji.


"Gak mau tau! Nyanyi sekarang juga," ucap Bima.


"Nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!" teriak semuanya memaksa Aji untuk bernyanyi.


Aji menggeleng. "Gak bisa nyanyi gue. Seriusan."


"Nyanyi dong sekali-kali!" ucap Elsa.


Aji menggeleng. "Gak bisa."


Keiza berdecak. "Yah.."


Aji menoleh saat mendengar Keiza terlihat kecewa.


"Kamu pengen denger aku nyanyi?" tanya Aji.


Keiza mengangguk.


Aji tersenyum dan meraih gitar itu.


Semua melebarkan mata terkejut akan hal itu.


-o0o-


Pagi-pagi sekali, mereka semua sudah bangun.


Setelah menyelesaikan solat subuh. Semua barang-barang dan sampah plastik sisa pesta tadi malam pun telah mereka bereskan.


"Thanks banget ya kalian udah bikin rumah ini jadi rame," ucap Kaila saat mengantarkan mereka sampai di depan.


Elsa mengangguk. "Sama-sama Kai, Kak Kei dan Bima. Kalian udah bikin perut gue kenyang dan ketawa ngakak mulu."


Bima tertawa. "Berkat gue lo ketawa ngakak mulu."


Elsa mengangguk. "Iya, iya, percaya kok."


Kaila terkekeh dan menoleh pada Kana. "Mau langsung pulang juga?"

__ADS_1


Kana mengangguk membenarkan. "Mau ke klinik dulu pagi ini."


"Lah, gak libur, Kan?" tanya Elsa.


"Sejak kapan klinik libur," ucap Kana dan terkekeh.


"Gue gak ke klinik dulu ya, Kan?" ucap Aji.


Kana mengangguk mengerti dan berjalan menuju mobilnya. Namun memutar langkah dan menghampiri Kaila. "Lupa, belum izin ibu Negara," ucapnya membuat semua tertawa.


Kaila terkekeh dan menaikkan kedua alisnya saat Kana sampai di hadapannya.


"Aku pamit pulang ya?" ucap Kana.


Kaila mengangguk dengan senyuman. "Hati-hati. Jangan lupa sarapan."


"Dahlah balik aja gue, capek liat keuwuan ini!" ucap Elsa yang langsung menstater motornya. "Gue balik! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab semuanya.


"Aku pulang juga ya?" ucap Aji pada Keiza.


Keiza mengangguk. "Makasih juga karena semalem udah anterin pulang."


Aji mengangguk. "Sama-sama." Laki-laki itu tersenyum dan menoleh pada jam di tangannya. "Nanti siang, beneran gak ada jadwal kegiatan 'kan?"


Keiza menaikkan kedua alisnya. "Memangnya kenapa?"


Aji menggigit bibir bawahnya. "Eumm— gimana ya ngomongnya," ucap Aji bingung.


Keiza terkekeh. "Kenapa sih?"


Aji menggeleng. "Gak jadi deh, lain kali aja." Aji menyengir kuda.


Keiza mengangguk mengerti.


"Kalau gitu, aku balik ya semuanya! Makasih atas hidangannya," ucap Aji dan melambaikan tangan pada semuanya.


Setelah Elsa dan Aji pergi, kini ketiganya menoleh pada Kana.


"Gak jadi balik?" tanya Bima.


"Oh iya, lupa," ucap Kana membuat Kaila terkekeh.


Kana tersenyum dan kembali menatap Kaila. "Aku balik ya? Kalau ada apa-apa, telpon aku. Kalau aku gak angkat, telpon ke nomor klinik aja."


Kaila menganggguk. "Siap!"


Kana tersenyum dan mengusap pucuk kepala Kaila. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Kana melambaikan tangannya dan berlalu pergi.


Setelah semua tamu pergi, ketiga saudara itu pun kembali masuk ke dalam.


"Kana memang sebucin itu ya anaknya?" tanya Keiza pada Kaila.


Mendengar hal itu, Bima pun menoleh. "Enggak, Kak. Semenjak pacaran sama Kaila aja dia jadi gitu. Dulunya mah, boro-boro bucin, ngeliat Kaila aja dingin."


Keiza melebarkan mata. "Beneran, Kai?"


Kaila mengangguk. "Ya gitu."


"Kok bisa sih?" tanya Keiza penasaran.


Bima berdecak. "Namanya juga cinta, Kak. Bisa melelehkan semuanya. Kana yang memiliki hati sekeras batu pun bisa meleleh karena Kaila." Bima menoleh pada Kaila. "Aku juga jadi penasaran, sebenarnya pellet apa sih Kai yang kamu pakai?"


"Heh! Sembarangan kalau ngomong," ucap Kaila membuat Bima tertawa.


"Lagian Bima, kalau ngomong gak disaring dulu," timpa Keiza.


Bima tertawa. "Iya, iya, sorry," ucap laki-laki itu dan masuk ke dalam.


Kaila terkekeh dan menggelengkan kepala. "Aku seneng hari ini."


"Aku juga," ucap Keiza.


"Karena Aji ya?" tebak Kaila.


Keiza melebarkan mata. "Enggak ah."


"Ah, iya juga gak papa kok," ucap Kaila menggoda dan berlari ke dalam.


Keiza menggelengkan kepala dengan senyuman dan masuk ke dalam.


"Kak Keiza! Kak Bima usil banget!"

__ADS_1


-o0o-


__ADS_2