
Part 27
"Kaila! Kaila! Dengerin aku!" teriak Kana yang mengejar Kaila.
Kaila tak mendengarkan. Gadis itu berjalan ke arah Rehan dan duduk di sebelahnya.
"Kana!" panggil Wilka membuat laki-laki itu menoleh. "Lanjutin acaranya," lirih Wilka.
Kana menghela napas. Ia menoleh pada Kaila yang tengah menatap ke arah lain. Wajah gadis itu terlihat sangat sebal.
"Kan!" panggil Wilka.
Kana mengangguk dan menghampiri Wilka.
"Ada apa sih?" lirih Wilka penasaran.
Kana menggeleng. "Gak papa."
"Gisele udah sadar?" tanya Wilka kembali seraya menyerahkan microfon pada Kana.
"Samperin sono kawan lo, bilangin, gak usah coba ngerusak hubungan orang," bisik Kana di telinga Wilka.
Wilka melebarkan mata tak mengerti. Gadis itu memilih mundur dan bertanya pada Kevin.
Kana menyentuh ujung microfonnya dan mengecek suara. Sebelum akhirnya melanjutkan acara yang ada.
"Baik, Bapak Ibu sekalian—"
-o0o-
"Kai," panggil Rehan yang berada di sebelah Kaila.
Kaila menoleh dan menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa sih? Tadi liat apa di dalem?" tanya Rehan penasaran.
Kaila menggeleng. "Gak ada apa-apa kok," jawabnya tersenyum tipis dan kembali fokus dengan layar ponselnya.
Pikiran Kaila sedang tak fokus. Gadis itu tengah memikirkan apa yang telah ia lihat tadi.
-o0o-
Setelah acara selesai, Kana meletakkan microfon di tangannya dan langsung turun untuk menghampiri Kaila.
"Kai."
Kaila tak menoleh. Gadis itu menunduk menatap layar ponselnya.
"Kai."
Kaila masih tak menjawab.
Kana menghela napas, lalu meraih ponsel di tangan Kaila.
"Balikin!" seru Kaila.
"Gak mau!" jawab Kana menggeleng.
Kaila berdecak. "Bawa sini, Kana!"
"Kalau aku gak mau, gimana?" Kana menaikkan kedua alisnya.
"Terserah!" Kaila bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Kana.
"Kai, dengerin dulu."
Kaila tetap tak merespon. Gadis itu semakin mempercepat langkah karena sadar Kana mengimbanginya.
Di saat yang bersamaan, bus yang menjeput mereka telah sampai.
Kaila sedikit lega. Gadis itu pun segera berlari menghampiri bus dan naik ke dalamnya.
__ADS_1
"Kai!" seru Kana.
"Lagi marahan tah?" tanya teman sekelasnya dengan gelak tawa.
Kana menoleh dan menatapnya tajam. "Diem lo!" ucapnya kesal lalu berlari mengejar Kaila yang sudah masuk ke dalam bus.
Napas Kana terengah-engah. Tangan laki-laki itu memegang erat besi yang berada di pintu bus. Ia berjalan menghampiri Kaila yang duduk di kursi belakang dengan pandangan menuju ke jendela.
Kaila sadar Kana sudah berada disini. Namun ia enggan untuk menatap wajah laki-laki itu.
Kana tersenyum teduh dan duduk di samping Kaila.
"Sayang."
Kana meraih tangan Kaila. "Dengerin aku," lirih Kana.
Kaila berdecak dan menarik tangannya dari tangan Kana.
"Kai. Dengerin aku dulu," lirih Kana dengan suara lembut.
"Gak usah di lembut-lembutin," ucap Kaila kesal lalu melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kai, dengerin aku dulu," ucap Kana mencoba menyentuh lengan Kaila.
"Diem," ucap Kaila yang kesal dan terlihat risih.
"Aku tahu kamu bakal marah sama aku. Tapi yang kamu lihat tadi itu gak bener—"
Kaila mengangguk. "Iya, aku tahu. Itu gak bener. Kamu dijebak sama Gisele."
"Nah, itu kamu tahu," ucap Kana tersenyum.
"Tapi aku gak suka. Aku cemburu, Kana." Kaila menatap mata kekasihnya.
Kana mengangguk dan membalas tatapan Kaila. "Terus aku harus gimana?"
Kaila berdecak dan kembali menatap ke arah jendela. "Pikirin aja sendiri," ucapnya kesal.
"Lepas," ucap Kaila menarik tangannya.
"Maafin," pinta Kana penuh mohon.
Kaila berdecak. "Udah sana ke depan. Amara mau duduk," ucap Kaila yang melihat Amara sudah berdiri di belakang Kana.
Kana menoleh pada Amara. "Ra, kamu duduk depan dulu ya?"
Amara mengerutkan dahinya. "Gak mau ah."
"Please, kali ini aja. Aku perlu bicara sama pacarku dulu."
Amara menghela napas dan mengangguk. "Oke! Oke! Silahkan," ucap Amara dan berjalan ke depan.
Kaila memutar bola matanya, lalu menyenderkan kepalanya di jendela.
"Kai," lirih Kana kembali.
Kaila tak menjawab. Gadis itu memejamkan matanya dan enggan mendengerkan permohonan Kana yang memintanya untuk memaafkan.
Tak berselang lama, bus yang mereka naiki pun berjalan. Kaila membenarkan posisi duduknya dan menoleh pada laki-laki di sebelahnya.
"Maafin aku."
Kaila menatapnya datar dan kembali menyenderkan kepalanya di jendela.
"Kaila, maafin Kana."
"Lala, maafin Nana."
"Sayang, maafin aku."
"Beb, maafin aku."
__ADS_1
"Kaila, maafin aku."
"Zelin, maafin aku."
"Qirani, maafin aku."
Kana berdecak. Sudah semua panggilan ia sebut, namun gadis itu tak juga menoleh ke arahnya.
"Hoy, hush! Heh, uy!" Kana mencubit lengan kekasihnya.
Kaila berdecak. "Diem, sih!" ucapnya seraya mengusap lengannya yang sudah di cubit oleh Kana.
"Maafin ya?" pintanya seraya menampilkan wajah memohonnya.
Kaila menatapnya kesal dan lalu kembali menatap jendela.
"Di maafin 'kan?" ucap Kana menyentuh lengan Kaila. "Hey, di maafin 'kan?" ucapnya kembali.
"Diem!"
"Yeay, di maafin!" seru Kana tersenyum lebar.
"Siapa yang bilang?" Kaila menaikkan kedua alisnya.
"Suara hati kamu," jawab Kana tersenyum.
"Dih," ucap Kaila lalu membuang tatapannya ke arah lain.
Kana tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kaila.
"Kan."
Kana tak mendengarkan. Laki-laki itu merasa nyaman menyandarkan kepalanya di pundak Kaila.
"Kan, gak usah aneh-aneh. Ini bis kampus, bukan bis umum," ucap Kaila penuh penekanan.
"Biarin," ucap Kana lalu memenjamkan matanya. "Biarin aku tidur disini."
Kaila menghela napas. Ia menatap wajah kekasihnya itu.
Perlahan, rasa kesal Kaila memudar hanya dengan melihat wajah teduh Kana. Dengan penuh kasih sayang, Kaila menyentuh wajah Kana dan menyingkirkan rambut Kana yang menutupi wajah.
Kana tersenyum. Ia menautkan tangan kirinya dengan tangan kanan Kaila. "Jangan cemburu lagi ya? Aku cuma buat kamu kok," lirih Kana dan mengeratkan genggamannya.
Kaila tersenyum tipis. Gadis itu mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di kepala Kana dan ikut memejamkan mata.
Sepasang kekasih itu terlihat begitu mesra. Siapapun yang melihatnya, akan iri dibuatnya. Untunglah, bus kali ini tidak ada dosen di dalamnya.
Gisele yang melihat hal itu hanya mendumal kesal seraya memandang dengan tatapan tajam.
"Itulah Sel, makanya jangan sok mau ngerusak hubungan orang. Lihat 'kan sekarang, mereka bukannya marahan malah makin mesra," ucap Kevin tersenyum puas lalu menoleh pada Wilka. "Ya gak?"
Wilka mengangguk, lalu beralih pada Gisele. "Aku gak nyangka sih Sel, kamu bakal senekat itu. Aku juga gak nyangka, kamu jadi berubah kaya gini."
Gisele berdecak. "Bukan urusan kamu, Wil. Kamu juga Vin, gak usah sok ikut campur!" ucap Gisele lalu kembali duduk.
Wilka tersenyum miring dan menoleh pada Kevin.
"Strong couple, di gangguin! Ya gak bisa," ucap Kevin membuat Wilka tertawa. "Seneng loh liat kamu ketawa!"
"Kirain seneng lihat aku nangis," ucap Wilka tertawa kecil.
"Enggaklah! Ya kali Kevin sejahat itu," ucap Kevin seraya menaikkan kerah bajunya.
Wilka mengangguk, lalu menyenderkan kepalanya di pundak Kevin.
"Eh, Wil?" ucap Kevin terkejut.
"Biar kaya Kana Kaila," ucap Wilka lalu memejamkan mata.
Tanpa Wilka sadari, kupu-kupu berterbangan dalam perut Kevin. Laki-laki itu dibuat gila oleh gadis yang ia suka.
__ADS_1
-o0o-